oase jiwa

Hanya dalam KEBENARAN jiwa akan tenang

Foto Saya
Nama:
Lokasi: citeureup, kab. bogor, jawa barat, Indonesia

Saya adalah hamba Allah yang terus berupaya memperbaiki dirinya. Tinggal di Citeureup Bogor. Mencari nafkah lewat berdagang buku, madu dan beragam obat herbal. Mencari pahala dengan mengajarkan bahasa Arab dan al-Qur'an di rumahnya. Mencari berkah dengan terus berusaha menjadi insan yang bermanfa'at bagi banyak orang. Semoga menjadi jalan terbaik untuk pulang ke kampung akhirat.

Senin, 28 Januari 2008

Memaafkan Tanpa Melupakan


Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (Al-Qur'an, Surat al-A'raf ayat 199)

Hari Ahad kemarin, perhatian seluruh rakyat Indonesia tertuju kepada satu berita yang mengejutkan. Wafatnya HM. Soeharto. Seseorang yang pernah memimpin Republik Indonesia paling lama dalam sejarah. Seseorang yang diakui oleh semua fihak sebagai orang yang banyak berjasa dalam memimpin negeri ini. Beliaulah, pemimpin yang mampu mengangkat negeri ini dari keterpurukan ekonomi di akhir tahun 60-an, setelah krisis politik berkepanjangan di masa orde lama. Beliau pula pemimpin yang mampu untuk menghadirkan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan, yang dulu kita kenal dengan istilah Repelita (rencana pembangunan lima tahun). Di bawah kepemimpinannya, rakyat Indonesia pernah mengalami swasembada pangan, sehingga harga pangan demikian terjangkau. Infrastruktur jalan raya, listrik dan telekomunikasi juga banyak dibangun pada masa kepemimpinan beliau.

Namun, selain hal-hal manis tersebut, kita pun mengenang masa-masa kelam yang pernah dialami, khususnya oleh umat Islam, di masa kepemimpinan beliau. Umat Islam yang awalnya dirangkul saat membubarkan PKI, kemudian dijauhi dan dipinggirkan. Dimulai dari pelarangan pembentukan kembali salah satu Partai Islam terbesar di negeri ini yaitu Masyumi, hingga pelabelan ekstrim kanan (eka) dan tindakan represif bagi kelompok Islam yang tidak setuju dengan kebijakannya. Karena itulah, kita mencatat peristiwa-peristiwa kelam yang pernah terjadi saat itu. Mulai dari kasus aliran kepercayaan, pelarangan jilbab, isu asas tunggal, hingga peristiwa pembantaian di Tanjung Priok dan Talangsari (Lampung). Demikian represifnya rezim orde baru, bahkan untuk sekedar menyelenggarakan pengajian pun sungguh sangat sulit di masa itu.

Meskipun demikian, menjelang hari-hari terakhir Pak Harto, kita menyaksikan tokoh-tokoh Islam yang mewakili umat Islam yang pernah disakiti oleh kebijakan beliau, berulang-ulang kali mengungkapkan pemaafan atas kesalahan Pak Harto. Bahkan, tak hanya itu, tokoh-tokoh Islam itu pun meminta seluruh masyarakat untuk mendo'akan dan memaafkan Pak Harto. Sebuah sikap yang bijaksana dan mencerminkan keluhuran akhlaq Islam. Islam memang mengajarkan keutamaan memberikan maaf dibadingkan meminta maaf. Dalam al-Qur'an, Allah subhanahu wa ta'ala mengungkapkan diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah kemampuan untuk memberikan maaf.

(Yang bertaqwa itu adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan yang mampu menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Al-Qur'an, Surat Ali Imran ayat 134)

Dalam as-Sunnah pun, kita dapat menyaksikan begitu banyak contoh pemaafnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Salah satunya, seperti saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berhasil menaklukkan kota Mekkah (fathu Makkah). Sebagai seseorang yang pernah disakiti, disiksa dan diperangi oleh penduduk Mekkah hingga akhirnya terusir dari kampung halamannya, secara manusiawi sebenarnya layak saja jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membalas perbuatan penduduk Mekkah tersebut. Namun, alih-alih membalas, saat datang kembali ke kota Mekkah sebagai penguasa, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam malah memberikan pengampunan massal. Seraya bersabda, "Idzhabuu, fa antumut thulaqqa (Silahkan pergi sesuka hati, kalian adalah orang-orang yang merdeka)". (Kitab Sunan Kubra al-Bayhaqi juz 9 hal. 118 dan kitab Ma'rifatus sunan wal atsar lil Bayhaqi juz 14 hal. 417) Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengungkapkan hari agresi militer-nya ke kota Makkah bukan sebagai hari pertumpahan darah, namun sebagai "yaumur rahmah" (hari kasih sayang).

Karena itulah, jika terhadap penduduk Mekkah yang belum menjadi muslim saja begitu besar maaf yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tunjukkan, maka mengapa kita tidak dapat memaafkan kesalahan Pak Harto yang hingga akhir hayatnya masih menyatakan diri sebagai seorang muslim.

Walaupun tentu saja, pemaafan yang diberikan bukan berarti kita boleh melupakan seluruh sejarah yang pernah terjadi di masa kepemimpinan beliau. Umat Islam hendaknya tidak menjadi umat yang pendek memori kesejarahannya. Kaum muslimin selayaknya adalah kaum yang sadar sejarah, karena al-Qur'an telah berulang kali mengingatkan kepada kita pentingnya pemahaman sejarah.

Maka Kami jadikan yang demikian itu (peristiwa sejarah) sebagai peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Qur'an, surat al-Baqarah ayat 66). Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an, surat Yusuf ayat 111)

Diantara hal-hal yang dapat dijadikan 'ibrah (pelajaran) dari sejarah kekuasaan orde baru adalah sebagai berikut :
1. Betapa buruknya jika syahwat kekuasaan sudah tertanam dalam diri manusia. Karena syahwat kekuasaan inilah rezim orde baru dapat berkuasa selama 32 tahun di Indonesia. Juga, karena syahwat kekuasaan ini pula rezim orde baru menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Untuk itulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita bahayanya terlalu obsesif terhadap kekuasaan. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba untuk berkuasa, padahal ia adalah penyesalan di hari kiamat." (Shahih Bukhari juz 22 hal. 59 no. 6615)
2. Pentingnya pengawasan dan kritik dalam kepemimpinan. Saat seorang pemimpin tidak mau dikritik dan dinasehati maka yang muncul berikutnya adalah lupa diri yang bermuara pada kesewenang-wenangan. Karena itulah Umar Ibn Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Semoga Allah subhanahu wa ta'ala merahmati orang yang menghadiahkan aibku kepadaku."
3. Bahwa kepemimpinan hendaknya digunakan bukan saja untuk melindungi kebutuhan fisik rakyat, namun juga kebutuhan psikisnya. Melindungi rakyat dari ketakutan dan kesedihan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Siapa saja yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengurusi umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan kedukaan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan dan kemiskinannya di hari kiamat." (Sunan Abi Dawud, juz 8 hal.177 no. 2559)
4. Pentingnya pula menjaga jarak antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi (ataupun keluarga) dalam kekuasaan. Tidak layak bagi seorang pemimpin jika ia menggunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadi maupun keluarganya. Sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Amirul mu'minin Umar Ibn Khattab radhiyallahu 'anhu yang mematikan lampu ruang kerjanya saat putranya datang untuk membicarakan masalah keluarga. Saat putranya bertanya, mengapa Umar melakukan itu, Umar menjawab tegas, "Minyak lampu ini dibeli dengan uang rakyat, untuk itu kita tak layak berbicara tentang keluarga dengan diterangi lampu yang dibeli oleh uang rakyat."

Semoga kita semua dapat memaafkan kesalahan-kesalahan Bapak H.M Soeharto. Mendo'akan kebaikan baginya sebagai seorang hamba Allah. Namun, tidak melupakan kekurangan yang pernah dilakukannya, agar sejarah masa lalu tidak terulang lagi.

Wallahu a'lam bish showwab
Muhammad Setiawan

Jumat, 25 Januari 2008

Apa Obsesimu ?

Bukan karena terinspirasi dengan "tag line" sebuah iklan. Atau, ingin membantu mempopulerkan (apalagi produknya) iklan tersebut. Namun, masalah obsesi sesungguhnya memang adalah hal yang sangat penting. Obsesi yang berarti keinginan kuat, adalah hal yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat lebih gigih dan keras. Para ahli manajemen sumber daya manusia menyebut obsesi ini sebagai motivasi intrinsik. Motivasi yang berasal dari dalam jiwa manusia yang menuntunnya untuk tetap melangkah. Karena obsesi tersebutlah, seseorang rela untuk meniti hari-hatinya dengan penuh peluh. Seseorang rela untuk melintasi gunung, seberangi hutan dan arungi lautan demi mengejar obsesinya tersebut. Untuk itu, kesalahan dalam menentukan obsesi akan menentukan kesalahan seluruh langkah yang akan dibuat. Karena pentingnya makna obsesi itulah, Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam yang mulia memberikan panduan untuk kita dalam menentukan obsesi hidup.
Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullahu ta'ala dari sahabat Utsman Ibn Affan radhiyallahu 'anhu :

"Barangsiapa yang akhirat menjadi obsesinya, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan melancarkan semua urusannya, menjadikan hatinya terasa kaya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa yang dunia menjadi obsesinya, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan mengacaukan semua urusannya, menjadikan hatinya miskin, dan dunia akan datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan kepadanya." (Sunan Ibnu Majah, no. 4095)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam menjelaskan kepada kita bahwa obsesi manusia secara umum terbagi atas dua hal. Obsesi akhirat dan obsesi dunia.
Orang yang terobsesi dunia adalah orang yang menjadikan dunia dan hiasannya (jabatan, harta, popularitas ataupun kesenangan seksual) sebagai tujuan-tujuan hidupnya. Ia termotivasi untuk melakukan sesuatu jika diimingi-imingi dengan "bunga-bunga" dunia tersebut. Ia bergerak hanya untuk mencari dunia. Ia lupa bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah sementara. Sebuah terminal atau pemberhentian sementara dalam perjalanan panjang ke kampung keabadian. Sebagai sabda Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam yang mulia ; "Jadilah kalian di dunia ini sebagai orang asing atau pengembara" (Shahih Bukhari no. 5937).
Jika seseorang hanya bergerak karena alasan dunia, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan menjadikan kecintaan terhadap akhirat keluar dari dalam hatinya. Sebagaimana ungkapan seorang salafus shalih bernama Malik Ibn Dinar rahimahullahu ta'ala, "Demi Allah, dua hal tidak akan pernah bertemu dalam hati seorang manusia, yaitu sedih karena akhirat dan bahagia karena dunia. Salah satu dari keduanya harus mengusir yang lainnya."

Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan seseorang demikian terobsesi terhadap dunia.
Pertama, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya. Orang yang terobsesi terhadap lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat. Mereka menyangka bahwa kehidupan ini akan berakhir begitu saja setelah nyawa tercabut dari tubuh. Karena itulah ia menghabiskan waktu-waktu hidupnya hanya untuk bekerja mencari dunia dan bersenang-senang. Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan karakteristik mereka dalam ayat-Nya : "Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (Qur'an surat al-Jatsiyah ayat 24). Dikisahkan, Imam Hasan al-Bashri rahimahullahu ta'ala pernah berjalan melewati orang-orang yang sedang tertawa. Lalu Hasan al-Bashri bertanya kepada orang itu, "Saudaraku, apakah engkau pernah melewati titian akhirat (sirath) ?" Orang itu menjawab, "Belum." Lalu, Hasan al-Bashri bertanya kembali, "Kalau begitu, kenapa engkau tertawa seperti ini, padahal hari-hari kelak amatlah sulit ?"
Kedua, ambisi terhadap jabatan. Mereka yang ambisius terhadap jabatan dan kekuasaan akan menghabiskan seluruh kehidupannya untuk mencapainya. Bahkan tak jarang menghalalkan segala cara agar mampu berkuasa. Abu Ja'far al-Mihwalli, seorang salafus shalih, mengungkapkan, "Seseorang yang memiliki jabatan haram baginya merasakan kenikmatan akhirat."
Ketiga, tertipu dengan kesehatan. Orang-orang yang tertipu dengan kebugaran fisiknya seringkali merasa bahwa kematian masih sangat jauh darinya. Ia mengira bahwa kematian hanya menghampiri orang-orang yang sakit atau telah tua. Padahal kematian akan menghampirinya tanpa diduga.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya." (Qur'an surat Qaf ayat 19).

Jika seseorang terobesesi terhadap dunia, maka Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah menyediakan tiga "hadiah" bagi mereka. Pertama, Allah akan menjadikan semua urusannya kacau. Sehingga hidupnya akan terasa sempit dan sesak. Yang kedua, Allah subhanahu wa ta'ala juga akan menjadikan dirinya senantiasa kekurangan. Sehingga ia akan terus haus terhadap dunia. Layaknya seseorang yang meminum air laut, bukannya kesegaran yang ia raih namun dahaga yang tak habis-habisnya. Merekalah sesungguhnya orang-orang yang miskin. Dan yang terakhir, Allah subhanahu wa ta'ala akan memberikan kepada mereka sebatas apa yang telah ditakdirkan kepada mereka. Tak lebih. Padahal kebutuhan-kebutuhan hidup mereka Allah akan tambah terus-menerus.

Sebaliknya, bagi orang-orang yang terobsesi terhadap akhirat, Allah akan anugerahkan kepada mereka tiga kenikmatan. Pertama adalah, Allah akan mempermudah semua urusannya. Sebagaimana ungkapan Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Apabila Aku (Allah subhanahu wa ta'ala) telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Apabila ia meminta kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Dan apabila ia berlindung kepada-Ku, aku akan menjaganya." (Shahih Bukhari, no. 6021). Anugerah kedua bagi orang-orang yang terobsesi kepada akhirat adalah, Allah akan menjadikan hatinya kaya. Allah cukupkan segala urusannya, sehingga ia mampu untuk berbagi dengan sesama. Dan yang terakhir, Allah subhanahu wa ta'ala akan mendatangkan dunia kepadanya sambil menunduk. Kehidupan dunianya dipermudah oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Allah memberikan rezki kepadanya, tanpa batas. "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikan rezki kepada tanpa diduga dan terhitung." (Qur'an surat at-Thalaq ayat 2 – 3).

Karena itu beruntunglah, orang-orang yang obsesi hidupnya kepada akhirat. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana karakteristik mereka ? Sekurangnya, ada tiga hal yang menjadi karakter manusia pengobsesi akhirat. Pertama, mereka adalah orang yang ikhlas. Lurus ber-Tauhid. Hanya bergerak untuk dan karena Allah semata. Mereka bekerja bukan semata-mata karena mencari nafkah, namun jauh daripada itu karena sadar bahwa bekerja adalah beribadah. Bahkan seluruh aktifitas hidup dan tarikan nafasnya adalah ibadah. Kedua, pengobsesi akhirat adalah pengagum Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam. Menjadikan Muhammad shallaLlahu 'alayhi wasallam sebagai contoh dalam hidupnya. Berjalan sesuai dengan sunnah-nya. Ketiga, para pengobsesi akhirat adalah orang-orang yang memiliki semangat berbagi yang tinggi. Ia sadar bahwa ia tidak hanya hidup bagi dirinya sendiri, namun juga harus memberi manfaat bagi sebanyak mungkin manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain." Atau, ungkapan seorang pejuang Islam di Mesir, Sayyid Quthb rahimahullahu ta'ala, "Orang kerdil adalah orang yang hidup untuk dirinya sendiri dan mati untuk dirinya sendiri. Sedangkan, orang besar adalah orang yang hidup untuk orang lain dan mati untuk orang lain."

Jadi, apa obsesimu ?

Wallahu a'lam bis showwab

Muhammad Setiawan
muhammadsetiawan@yahoo.com

oase jiwa





Muqaddimah

Sesungguhnya kadar setiap masalah kita tergantung seberapa subur keimanan yang kita miliki. Saat jiwa kita subur dan iman kita besar, maka sebesar apapun masalah hidup, akan terasa ringan diemban. Sebaliknya saat jiwa terasa kering dan keimanan kerdil, maka sekecil apapun masalah hidup kita akan terasa berat dan sulit.

Sungguh indah saat Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda : "Demikian menakjubkan kondisi setiap manusia yang beriman. Tak ada sesuatu apapun yang tidak menjadi kebaikan baginya. Jika ia diuji dengan kesenangan maka ia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan jika ia diuji dengan kesulitan dia bersabar, padahal sabar itu pun baik untuknya."

Karena itu, sahabat. Tak ada jalan lain untuk menyubur keimanan kita kecuali membersihkan jiwa (tazkiyyatun nafs).

Qad aflaha man tazakka ...