oase jiwa

Hanya dalam KEBENARAN jiwa akan tenang

Foto Saya
Nama:
Lokasi: citeureup, kab. bogor, jawa barat, Indonesia

Saya adalah hamba Allah yang terus berupaya memperbaiki dirinya. Tinggal di Citeureup Bogor. Mencari nafkah lewat berdagang buku, madu dan beragam obat herbal. Mencari pahala dengan mengajarkan bahasa Arab dan al-Qur'an di rumahnya. Mencari berkah dengan terus berusaha menjadi insan yang bermanfa'at bagi banyak orang. Semoga menjadi jalan terbaik untuk pulang ke kampung akhirat.

Selasa, 28 Oktober 2008

Aku Sakit, Kenapa Engkau Tidak Menjenguk-Ku

Izinkanlah, saya memulai tulisan ini dengan sebuah hadits Qudsi yang pernah dikisahkan oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Hadits Qudsi yang apabila saya membacanya, saya sering tertegun dan termenung mendalam. Sebagaimana kita tahu, hadits Qudsi adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang redaksinya (lafazh-nya) dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam namun maknanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala. Berbeda dengan al-Qur’anul Karim yang baik lafadz maupun maknanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalam hadits Qudsi tersebut Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam menceritakan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala kelak di hari kiamat akan bertanya kepada kita, “Wahai anak Adam, Aku sakit, tetapi kenapa Engkau tidak menjenguk-Ku ?”
Manusia (kita) akan menjawab,”Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb, Tuhan Semesta Alam ?”
Allah subhanahu wa ta’ala akan bertanya, “Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, sedangkan Engkau tidak menjenguknya ? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati Aku di sisinya ?”
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kembali, “Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi kenapa Engkau tidak memberi-Ku makan ?”
Anak Adam akan menjawab, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam ?”
Allah subhanahu wa ta’ala akan menggugat, “Apakah engkau tidak tahu hamba-Ku si fulan minta makan kepadamu sedangkan engkau tidak memberinya makan ? Apakah engkau tidak tahu seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkan-Ku disisinya ?
Allah subhanahu wa ta’ala akan berfirman kembali, “Hai anak Adam, aku minta minum kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku minum ?”
Anak Adam akan menjawab lagi, “Bagaimana mungkin aku melakukan, padahal Engkau adalah Tuhan Semesta Alam ?”
Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kembali, “Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum maka sudah pasti engkau akan mendapati-Ku di sisinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Pembaca yang budiman.

Jika kita renungkan hadits Qudsi di atas, nampak jelas betapa pentingnya kepedulian antar sesama di dalam Islam. Di hari kiamat nanti, ternyata Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya akan menanyakan keshalihan kita secara pribadi, namun juga keshalihan kita secara sosial. Allah subhanahu wa ta’ala akan menggugat jika ada di antara kita yang tidak peduli dengan saudaranya yang sakit, haus dan kelaparan. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits tersebut mengungkapkan, bahwa jika kita ingin mendekati Allah ta’ala maka jalannya adalah mendekati orang-orang yang kesusahan di antara kita.
Karena itu wajarlah jika Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, dalam sebuah hadits pernah mengungkapkan, “Bukanlah bagian dari kami (kaum muslimin) orang-orang yang tidak peduli dengan masalah kaum muslimin.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak)
Atau dalam hadits yang lain, RasuluLlah shallaLlahu alayhi wa sallam juga bersabda, “Tidak beriman kepadaku orang yang mampu untuk tidur kenyang, sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dan al-Bazzar)
Kepedulian terhadap sesama ini makin penting untuk kita hidupkan saat ini, di saat kondisi perekonomian negeri kita tidak kunjung membaik. Keberkahan yang seharusnya meliputi negeri ini, nampak seperti terkunci. Negeri yang gemah rimah loh jinawi ini, tak mampu lagi untuk menghidupi penduduknya sendiri. Sehingga, kita tidak terkaget-kaget lagi saat mendapati kisah seorang ibu yang hamil tua di Makasar meninggal dunia karena kekurangan gizi. Ada pula kisah seorang ketua pengurus ranting sebuah partai Islam di Sulawesi yang harus merelakan bayinya wafat karena tidak mampu membayar biaya perawatan sebesar Rp. 20.000,- ke petugas Puskesmas. Begitu juga kisah masyarakat di kawasan Jakarta Barat yang telah bertahun-tahun memakan makanan dari sampah restoran. Serta, beratus-ratus (atau mungkin beribu-ribu) kisah-kisah menyedihkan lainnya di sekitar kita. Baik yang terungkap media maupun tidak. Kita hari ini makin merasakan nilai uang yang kita genggam tidak lagi berharga di hadapan beras, susu, dan kebutuhan harian kita.
Namun, di saat perut masyarakat kita perih menahan lapar, masih saja ada pemimpin kita yang berani berdusta. Bahwa, kemiskinan menurun. Pengangguran berkurang. Keadaan membaik, dan seterusnya. Berdusta atas nama statistik. Lie with statistic... Padahal dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menyandingkan kata kejujuran dengan keimanan dan ketaqwaan. Tidaklah bertaqwa seseorang yang berdusta.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Q.S. Al-Ahzaab ayat 70)
Disebabkan hilangnya taqwa itulah, keberkahan negeri ini terkunci. Karena Allah subhanahu wa ta’ala pernah berfirman, “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan membukakan kepada mereka pintu keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami berikan balasan atas sebab perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raaf ayat 96)

Pembaca yang budiman.

Bukan hanya lapar yang diderita masyarakat kita, namun juga sakit. Penyakit jasmani mungkin masih bisa ditahan, namun apa jadinya jika penyakit jiwa yang diderita kebanyakan masyarakat kita. Penelitian Departemen Kesehatan yang diumumkan Menkes Siti Fadilah Supari pada tanggal 23 Oktober 2008 yang lalu, mengungkapkan fakta menyedihkan. Dua puluh lima persen (atau, satu dari empat orang) masyarakat Indonesia menderita gangguan jiwa. (Topik AnTV, 23/10/2008). Hasil penelitian WHO (World Health Organization) yang dirilis Februari tahun ini juga menguatkan hal yang sama, hampir 100 juta rakyat Indonesia menderita gangguan jiwa, baik skala rendah maupun tinggi.
Karena itulah kita melihat tingkat stress masyarakat kita yang tinggi. Tidak mampu lagi menahan beban hidup, hingga harus mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Bahkan bunuh diri sesudah bertakbir dan melaksanakan shalat Idul Fitri di Istiqlal.
Sakitnya jiwa masyarakat kita makin nampak dengan terus merajelelanya penjualan VCD/DVD porno di negeri ini. Saat anggota dewan kita terus bersilat lidah tentang RUU Pornografi, lihatlah tidak kurang 200 ribu keping film porno digandakan setiap harinya di negeri Melayu ini. Akibatnya, anak-anak perempuan kita lah yang dalam bahaya. Penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak, dua bulan yang lalu, mengungkapkan 62,7% siswi SMP di negeri ini sudah tidak lagi perawan.
Jika kita belum juga yakin akan akutnya penyakit jiwa di tengah masyarakat lihatlah pula bagaimana makin seringnya kita menyaksikan berita pembunuhan mutilasi. Jika dahulu, kita hanya menyaksikan sekian tahun sekali baru ada kasus mayat yang terpotong, maka saat ini hampir setiap bulan ada kisah orang yang dibunuh dengan dipotong. Bahkan yang teranyar terjadi di sekitar kita, Pondok Rajeg, Cibinong.

Pembaca yang budiman.

Demikianlah wajah masyarakat kita. Lapar, haus dan sakit. Jika hati kita tidak tergerak untuk menolong mereka, takutlah jika kelak Allah Ta’ala bertanya kepada kita, “Mengapa engkau tidak menjenguk-Ku, memberi makan dan minum-Ku ... ?”
Jika kita tidak mampu untuk membantu mereka dengan harta kita, setidaknya ringankanlah beban mereka dengan tegur-sapa dan senyum kita. Bukankah senyum kita pun adalah shadaqah. Sabda Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, “Senyum di hadapan saudaramu adalah shadaqah.”
Atau, setidaknya bantulah mereka dalam do’a-do’a kita. Saat kita bermunajat kepada Allah Ta’ala di tengah malam. Dalam kesunyian, getarkanlah bibir kita, “Allahumman shurna wal muslimiin ... Ya Allah, selamatkanlah kami dan kaum muslimin ...”
Wallahu a’lam bis showwab.


Muhammad Setiawan

Al-Akhfiyaa’

Lelaki itu baru saja menempuh perjalanan jauh. Perjalanan yang bukan hanya menguras tenaga, namun juga fikiran. Penat dan letih mendera hingga ke sumsum tulangnya. Ditemani oleh seorang sahabat, ia beristirahat malam itu. Tiga puluh menit setelah keduanya merebahkan tubuh, tiba-tiba lelaki itu berbisik, memanggil temannya, “Umar, sudah tidurkah engkau ... ?” Temannya menjawab, “Belum.” Lelaki itupun terdiam. Tiga puluh menit pun berlalu. Dalam keheningan malam, lelaki itu kembali berbisik, “Umar, sudah tidurkah engkau ... ?”. Temannya kembali menjawab, “Belum, wahai saudaraku ... “. Lantas keduanya kembali terdiam. Malam pun kembali senyap. Setelah satu jam dalam keheningan, lelaki itu kembali berbisik, “Umar, engkau sudah tidur ...?” Kali ini, temannya yang sesungguhnya belum tidur hanya terdiam. Tidak menjawab sepatah katapun. Lelaki itu pun mengira, bahwa sahabatnya telah tidur. Sejurus kemudian, ia pun bangkit dari peraduannya. Bersuci dan menghadap qiblat. Lantas, menghabiskan malam itu dengan isakan di hadapan Rabb-nya. Ia baru menyelesaikan qiyamul lail-nya malam itu, saat memperkirakan bahwa sahabatnya akan bangun.

Kisah ini diceritakan dengan penuh rasa haru oleh salah seorang tokoh pergerakan Islam abad ini, Umar at-Tilmisani, untuk menggambarkan perilaku sahabat sekaligus murabbi-nya yang sering menyembunyikan amal ibadahnya. Siapakah lelaki dalam kisah itu? Dialah Imam as-Syahiid Hasan al-Banna (Allahu yarham). Umar at-Tilmisani menceritakan kisah tersebut kepada Dr. Said Ramadhan al-Buthy, menantu sekaligus murid dari Imam Hasan al-Banna. Saya sendiri mengutip kisah ini dari tulisan Thariq Ramadhan, cucu Hasan Al-Banna, yang dimuat dalam kata pengantar buku al-Ma’tsurat terbitan Mizaania.

Saat membaca kisah ini, terkenanglah saya (penulis) akan perilaku ulama-ulama salaf (zaman dahulu) yang sering menyembunyikan amal sholihnya. Terkenanglah saya akan kisah Imam al-Mawardi seorang ulama sunnah yang terkenal, yang sampai akhir hidupnya tidak pernah mempublikasikan tulisan-tulisannya. Hingga ketika ia telah sakit keras dan merasa ajalnya telah dekat, ia memanggil seseorang yang dipercayainya, sambil berkata, “Buku-buku yang terdapat di tempat itu semuanya adalah karanganku. Jika kamu melihat tanda-tanda kematianku, dan aku sudah berada dalam sakaratul maut, maka masukkanlah tanganmu dalam genggaman tanganku. Jika tanganku menggenggam erat tanganmu dan meremasnya, itu tandanya karangan-karanganku tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Karena itu, segeralah ambil semua buku-buku itu dan buang semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari. Tapi, jika tanganku membuka dan tidak menggenggam tanganmu, maka ketahuilah bahwa karangan-karanganku diterima oleh Allah azza wa jalla, dan aku akan memperoleh apa yang selama ini aku harapkan dari niat yang ikhlas.”

Orang kepercayaan Imam al-Mawardi itu pun bercerita, “Ketika kematian al-Mawardi telah dekat, saya letakkan tanganku di atas tangannya. Ternyata dia membentangkan telapak tangannya dan tidak meremas tanganku. Tahulah aku, bahwa itu pertanda karangan-karanganya telah diterima oleh Allah Ta’ala. Maka sepeninggalnya, aku perlihatkan buku-bukunya itu kepada orang-orang.”

Terkenanglah pula saya akan ungkapan Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala, saat berkata kepada murid-muridnya, “Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu ini, tanpa sedikitpun menisbatkan ilmu ini kepada diriku. Agar aku memperoleh pahala darinya, dan mereka tidak menyanjungku."

Mereka inilah para akhfiyaa. Orang-orang yang misterius. Orang-orang yang menyembunyikan amalnya. Orang-orang yang tidak suka dengan popularitas. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjaga dengan keras nilai keikhlasan dari setiap amal yang dilakukan. Tidak ada yang paling mereka takuti kecuali jika amal ibadahnya ditolak di hadapan Allah Ta’ala, karena dipenuhi virus popularitas, berupa riyaa (ingin diperhatikan) dan sum’ah (ingin dibicarakan) Kita akan dapati kisah-kisah mengenai mereka ini, saat membaca kisah ulama-ulama terdahulu (salaf). Dan sangat jarang kita dapati kisah-kisah seperti mereka pada tokoh-tokoh masa kini (khalaf). Wajarlah jika kemudian Allah Ta’ala memuji generasi yang lalu dengan ungkapan, “ulaaikal muqarrabuun.” (mereka itulah orang-orang yang dekat dengan Allah). Dan balasan mereka adalah jannah (syurga) yang termewah. (Bukalah al-Qur’an surat al-Waqi’ah ayat 10 -14).

Mereka (para akhfiyaa) inilah orang-orang yang berusaha menghayati sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, “Sedikit saja riyaa adalah syirik. Barangsiapa yang memusuhi para kekasih Allah, berarti dia benar-benar menantang Allah untuk berperang. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan, bertaqwa, yang merahasiakan diri (al-akhfiyaa). Yaitu, mereka yang apabila tidak ada, tidak dicari. Dan bila adapun mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu-lampu pemberi petunjuk (mercusuar). Mereka muncul dari setiap tempat berdebu yang gelap.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shagir, 24/45). Mereka juga adalah kaum yang berusaha untuk merenungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala, dalam surat al-Baqarah ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian menakjubkannya, amal yang tersembunyi karena ikhlash kepada Allah Ta’ala, hingga Allah ‘azza wa jalla menjadikan pelakunya sebagai dua golongan dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak. Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam keta’atan kepada Allah ‘azza wa jalla, (3) orang yang hatinya senantiasa tertambat dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, (5) laki-laki yang dirayu oleh wanita yang cantik dan berkedudukan, namun ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah,’ (6) orang yang bersedekah dengan merahasiakan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang berdzikir kepada Allah di kala sendirian, lalu berlinanglah air matanya. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Karena itulah, Imam Abul Hasan ibn Basyar rahimahullah ta’ala saat ditanya oleh seorang muridnya, tentang cara mendekat kepada Allah ta’ala, jawabnya adalah, “Sebagaimana kamu bermaksiat kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi, hendaklah kamu ta’at pula kepada-Nya dengan sembunyi-sembunyi juga, supaya Allah memasukkan ke dalam hatimu rahasia-rahasia kebaikan.”

Ikhwani al-ahibba’....
Para pembaca yang budiman. Jika kita renungkan kisah-kisah dan keutamaan menyembunyikan amal yang terpapar di atas, tentu bergetarlah hati kita saat ini. Patutlah detik ini kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjaga keikhlasan amal-amal kita? Mampukah kita mengusir jauh-jauh keinginan untuk populer (riyaa’ & sum’ah) saat kita menjalankan keta’atan kepada Allah Ta’ala? Padahal masa ini adalah masa di mana popularitas menjadi sesuatu yang sangat diagung-agungkan oleh banyak orang. Semua orang berusaha untuk terkenal. Memang, adakalanya suatu amal lebih berdampak kebaikan (maslahat) jika dilakukan secara terang-terangan. Namun pernahkah kita bertanya dengan jujur dalam hati kita masing-masing, berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi? Dan berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan secara terang-terangan? Apakah amal yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi lebih banyak daripada amal yang kita lakukan secara terang-terangan? Jika ternyata, amal ibadah kita yang terang-terangan lebih banyak kuantitas dan kualitasnya daripada amal ibadah kita yang sembunyi-sembunyi, maka percayalah bahwa virus riyaa, yang merupakan bentuk kemusyrikan kepada Allah, telah menyelusup ke dalam hati kita.

Ali Ibn Abi Thalib radhiyyaLlahu anhu berkata, “Orang yang riyaa itu memiliki beberapa ciri, (1) malas, jika seorang diri, (2) giat jika di tengah-tengah orang banyak, (3) bertambah semangat dalam beramal jika mendapatkan pujian, (4) berkurang frekwensi amalnya jika mendapatkan celaan."

WaLlahu a’lam bish showwaab

Muhammad Setiawan

Bacaan lebih lanjut :
1. Wahaatul Iimaan (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Taujih Ruhiyyah, penerbit An-Nadwah), oleh Syaikh Abdul Hamid al-Bilali.
2. Al-Akhfiyaa’: al-Manhaj was Suluuk (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Orang-Orang yang Tidak Suka Popularitas, penerbit Robbani Press), oleh Walid Ibn Said Bahakim.