<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186</id><updated>2011-04-21T14:35:02.307-07:00</updated><title type='text'>oase jiwa</title><subtitle type='html'>Hanya dalam KEBENARAN jiwa akan tenang</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-4917695078567915857</id><published>2009-01-04T21:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T21:40:07.083-08:00</updated><title type='text'>Muharram Muram di Gaza</title><content type='html'>Jum’at ini adalah Jum’at pertama di awal tahun baru 1430 H. Jum’at pertama yang semestinya kita syukuri. Karena dengan bertambahnya tahun di alaf 15 hijriah ini, bertambah pula optimisme kita bahwa kebangkitan Islam akan muncul di hadapan mata. Namun, di tengah kegembiraan kita menyambut tahun baru hijriyah ini, terdengarlah kabar yang menyesakkan dada. Palestina kembali berdarah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jalur Gaza, setelah diisolir setahun terakhir ini, pekan lalu dibombardir oleh pasukan Israel. Puluhan pesawat tempur tercanggih milik Israel, menghujani tanah Gaza dengan bom berton-ton. Bom yang mendarat ke rumah-rumah warga sipil, universitas Gaza, penjara, kantor polisi, bahkan rumah sakit dan juga beberapa instansi sipil lainnya. Tidak ada satu gram pun yang jatuh ke instansi militer !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Israel mengklaim serangan ini dilancarkan untuk membalas serangan roket yang diluncurkan oleh HAMAS. Sebuah klaim yang dilansir Israel ke seluruh media massa dunia, dan di-iya-kan begitu saja oleh media massa Indonesia. Sebuah klaim yang menurut Duta Besar Mehdawi (Dubes Palestina untuk Indonesia) adalah bohong besar. Karena, HAMAS tidak pernah sekalipun meluncurkan roketnya ke Israel. Militer Israel, menurut beliau, dengan sengaja melakukan genosida (pembantaian massal) kepada rakyat sipil tanpa alasan yang logis (wawancara TVOne, Apa Kabar Indonesia Malam, 29/12/’08 pukul 21.45). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih memprihatinkan pula, pemerintah Mesir yang berbatasan langsung dengan Gaza, menutup perbatasannya. Hingga, terjepitlah masyarakat Gaza. Tak bisa keluar dari serangan udara Israel, karena jalan keluarnya ditutup oleh negeri “muslim” tetangganya, Mesir. Selidik punya selidik, ternyata Israel telah bersekongkol sebelumnya dengan Mesir untuk menjepit posisi Gaza dalam serangan ini. Inilah pengkhianatan terbesar yang telah dilakukan pemerintah Mesir kepada saudara-saudaranya sendiri sesama muslim dan bangsa Arab di Gaza (www.eramuslim.com, 29 Desember 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, adalah tragedi yang memilukan. Tiga ratus dua puluh orang warga sipil Gaza tewas. Seribu orang lebih terluka parah. Serta, ratusan rumah warga dan bangunan sipil lainnya rata dengan tanah. Demikian informasi terakhir hingga tulisan ini disusun (Apa Kabar Indonesia Malam, TVOne, 29/12/’08). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kecamanpun datang dari seluruh dunia. Beberapa pemimpin-pemimpin negara dunia mengutuk serangan Israel tersebut. Termasuk dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, kecaman dan kutukan tidak pernah membuat Israel gentar. Bahkan, hari ini dikabarkan, Israel sudah menyiapkan pasukan darat (lengkap dengan tank militer tercanggihnya) untuk menyerbu masuk ke jalur Gaza. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepedulian Kita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Seringkali, jika masyarakat muslim di Indonesia diajak memikirkan nasib bangsa Palestina, muncul ungkapan, “Mengapa sih kita harus memikirkan mereka ?”. “Bukankah, permasalahan dalam negeri kita masih banyak ... ? Pengangguran di mana-mana, kemiskinan, kebodohan, hingga masalah Pemilu 2009, bukankah itu harusnya lebih penting kita fikirkan, dari pada masalah Palestina di ujung dunia sana ... ?” Demikian biasanya ungkapan sebagian masyarakat Indonesia saat diajak berbicara tentang Palestina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memang, permasalahan dalam negeri kita sangat banyak. Namun, tidakkah kita menyadari, bahwa sesungguhnya permasalahan dalam negeri kita --yang sangat banyak itu-- amat dipengaruhi oleh masalah yang terjadi di luar negeri. Sejatinya, hari ini kita seperti hidup dalam satu kampung yang besar. Dimana satu rumah tangga dengan yang lainnya saling berhubungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saat terjadi krisis BBM di negeri kita, dan semua harga barang melonjak naik, tidakkah kita menyadari bahwa itu akibat serangan Amerika ke Irak dan Afganistan... ? Saat harga BBM berkali-kali juga turun di negeri ini dan ramai-ramai pabrik di negeri ini gulung tikar, tidakkah pula kita menyadari bahwa itu akibat ekonomi Amerika yang kolaps setelah gagal di Irak ..? Jadi, tidak ada satu kejadian pun di luar sana yang tidak berpengaruh dengan kondisi di dalam negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apalagi, kali ini masalah Palestina. Seluruh pengamat dan peneliti masalah Internasional sepakat, bahwa akar dari seluruh konflik Internasional di dunia ini adalah Palestina. Seluruh peperangan yang terjadi selama satu abad terakhir ini, jika ditarik benang merahnya, berasal dari masalah penjajahan Israel kepada bangsa Palestina yang tidak kunjung selesai. Sehingga jika kita ingin meraih perdamaian dunia yang abadi, jalan keluar yang harus dtempuh mula-mula adalah, mengakhiri penjajahan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah alasan secara geo-politik, mengapa kita harus peduli terhadap Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alasan secara keagamaan, lebih jelas lagi. Bangsa Palestina adalah muslim. Dan setiap muslim adalah bersaudara. Tak peduli apa ras, suku dan bahasa mereka. Selama mereka muslim, mereka adalah saudara kita yang berhak mendapatkan hak-hak ukhuwwah (persaudaraan) dari kita. Karena bagi setiap muslim, keterikatan yang terbangun bukanlah karena keterikatan bangsa, suku, ras, kelompok, partai, ormas dan sejenisnya. Keterikatan kita adalah keterikatan aqidah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min bagi mu’min yang lain seperti satu bangunan utuh. Satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” (Hadits shahih riwayat Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, apa yang menimpa saudara kita yang lain, semestinya ikut pula kita rasakan. Bahkan, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam mengancam orang-orang yang tidak peduli dengan permasalahan kaum muslimin sebagai bukan bagian dari ummat Islam. (Hadits riwayat Imam al-Hakim dalam kitab al-mustadrok ala shohihayn) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk itu, marilah kita renungkan baik-baik, bait-bait puisi yang pernah di tulis oleh Taufiq Ismail di tahun 1989. Saat gerakan Intifadhah mula-mula digaungkan oleh para pemuda Palestina. Semoga, puisi ini dapat membangkitkan semangat persaudaraan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PALESTINA, BAGAIMANA BISA AKU MELUPAKANMU ? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran di pekaranganku, memercikkan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.&lt;br /&gt;Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat lipat sebesar saputangan lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka&lt;br /&gt;Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatusepatu serdadu menginjak tumpuan kening kita semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi .......... air mataku,&lt;br /&gt; Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu&lt;br /&gt; Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka  —  tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.&lt;br /&gt; Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi&lt;br /&gt; “Allahu Akbar!”&lt;br /&gt; dan ... “Bebaskan Palestina”&lt;br /&gt; Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara, membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat, Ahmad Yassin dan semua pejuang negeri anda, akupun berseru kepada khatib dan imam shalat jum’at sedunia, doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak di jalan-Nya, yang ditembaki dan kini dalam penjara lalu dengan kukuh kita bacalah&lt;br /&gt; “La quwwata illa bi-Llah!”&lt;br /&gt; Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu.&lt;br /&gt; Tanahku jauh, bila diukur kilometernya beribu-ribu. Tapi azan Masjidil Aqsha begitu merdu. Serasa terngiang-ngiang di telingaku. &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“....Yang mati ditikam sudah banyak, yang mati kena narkoba melimpah, yang mati kebut-kebutan kecelakaan lalulintas sudah banyak. Indonesia bertanya, siapa yang mati dengan seni kematian yang paling indah? Seni kematian yang paling baik adalah mati  membela ajaran Allah, membela mereka yang tertindas dan teraniaya. Mungkin banyak yang ngeri dengan istilah tadi. Sekedar berjalan kaki dari HI kemari (ke depan kedubes AS) belum berarti apa-apa. Tetapi ini akan jadi sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Paletina. Tahukah saudara-saudara sekalian?! Di tengah derita mereka, hidup bertahun-tahun ditenda dan rumah-rumah darurat, ternyata saudara-sadara kita di Palestina masih sempat mengirimkan sumbangan untuk saudara-saudara kita di Aceh (korban gempa dan Tsunami) kemarin. Karena yang bisa memahami derita adalah orang yang sama –sama menderita, oleh karena itu walaupun kita tidak dalam derita seharusnya punya kepekaan, punya kepedulian dan punya hati yang halus dan lembut untuk bisa mendengar rintihan suara anak –anak di Palestina....”&lt;/em&gt;. (Pidato Ustadz Rahmat Abdullah Allahuyarham, saat aksi damai “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya, marilah kita bacakan Qunut Nazilah dan do’a untuk saudara-saudara kita di Palestina. Kita bantu perjuangan mereka dengan apapun yang kita mampu. Dan berdo’alah, semoga tragedi ini menjadi awal kehancuran Israel (la’natuLlah alayhim) dan jalan bagi kemenangan ummat Islam. Sehingga adzan dapat kembali berkumandang di masjidil Aqsha dan kita dapat menunaikan shalat berjama’ah di sana. Di kiblat pertama ummat Islam. Amiin ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;WaLlahu a’lam bish showwab&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Muhammad Setiawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; (021 946-75645)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-4917695078567915857?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/4917695078567915857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/4917695078567915857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2009/01/muharram-muram-di-gaza.html' title='Muharram Muram di Gaza'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-198067604594259659</id><published>2009-01-04T20:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T20:59:16.407-08:00</updated><title type='text'>Tegas dalam Aqidah</title><content type='html'>&lt;em&gt;Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Almasih putera Maryam", Padahal Almasih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.&lt;br /&gt;73. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melafalkan sebait do’a. Do’a yang biasa kita baca dalam sehari. Tujuh belas kali banyaknya. Dibaca dalam setiap raka’at sholat kita. Ihdinas shiroothol mustaqiim .... Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Shiroothol ladziina an’amta alayhim, ghayril maghdhuubi ‘alayhim wa ladh dhoolliin ... Jalan orang-orang yang Kau beri nikmat pada mereka, dan bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan bukanlah jalan orang-orang yang tersesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam do’a yang rutin kita baca tersebut, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan hidayah (petunjuk) pada kita. Hidayah agar kita senantiasa berada dalam jalan mereka yang dianugerahi ni’mat dari Allah Ta’ala. Mereka yang diberi ni’mat itu dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat an-Nisaa ayat 69. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Nabi, shiddiqiin, syuhada dan orang-orang shalih, mereka itulah yang jalan hidupnya lurus. Mereka itulah orang-orang yang ikuti jejak hidupnya. Sebagaimana do’a kita, “Ihdinas shiroothol mustaqiim..”. Sebaliknya, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dipalingkan sejauh-jauhnya dari jalan hidup “al-maghdhuubi alayhim” dan kelompok “adh-dhoollin”. Siapakah kelompok “al-maghdhuubi alayhim” dan “adh-dhoollin” tersebut ? Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya (dan juga banyak mufassirin lain) menjelaskan bahwa al-maghdhuubi alayhim adalah orang-orang Yahudi. Sedangkan adh-dhoollin adalah orang-orang Nashrani. Sehingga seharusnya, setiap kali kita melantunkan do’a tersebut, setiap kali itu juga kita menegaskan wala’ (loyalitas/keterikatan) dan baro’  (penghindaran/berlepas diri) kita. Kita hanya loyal kepada kelompok “an’amta alayhim” yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Dan kita berlepas diri dan menjauh dari kelompok Yahudi dan Nashrani. Menjauh sejauh-jauhnya. Berlepas diri dari segala cara hidup dan keyakinan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fatwa MUI 1981&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah fatwa Majelis Ulama Indonesia yang dikeluarkan pada tahun 1981. Fatwa yang sangat tegas dikeluarkan untuk melindungi aqidah ummat. Fatwa yang hingga hari ini tidak pernah dicabut. Fatwa yang  menyebabkan Ketua Umum MUI saat itu, Buya Hamka rahimahuLlahu ta’ala, harus mengundurkan diri. Beliau mengundurkan diri karena terus dipaksa oleh rezim yang berkuasa saat itu untuk mencabut fatwa tersebut. Fatwa itu adalah Fatwa Haramnya Mengikuti Perayaaan Natal Bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, di masa itu rezim yang berkuasa sangat menggembar-gemborkan pentingnya toleransi antar umat beragama. Saking semangatnya mendorong semangat bertoleransi, hingga jika ada suatu perayaan hari besar agama tertentu, maka semua pegawai negeri dan pejabat diminta untuk hadir mengikuti acara tersebut. &lt;br /&gt;Untuk itulah keluar Fatwa Majelis Ulama, tertanggal 1 Jumadil Awal 1401 / 7 Maret 1981 M. Isinya tegas, “Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.” Akibatnya, setelah keluar fatwa tersebut, banyak pejabat dan pegawai negeri muslim yang mangkir jika diminta menghadiri acara Natal. Dan itu membuat geram penguasa. Hingga Buya Hamka pun dipanggil oleh Soeharto. Dipaksa untuk mencabut fatwa itu kembali. Namun, beliau bergeming. Bagi Buya Hamka, urusan aqidah adalah urusan prinsip. Yang untuk itu, nyawa pun boleh menjadi taruhannya. Beliau pun mundur dari jabatan Ketua MUI. Dan hingga Buya wafat, Buya tetap bersikukuh dengan fatwa itu. Di masa-masa sulit itu, Buya sampai mengungkapkan, “Ulama hari ini ibarat kue bika. Dari atas ditekan, dari bawah dibakar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah fatwa bersejarah, yang hari ini mulai sering dilupakan. Hingga mudah saja para pejabat muslim (bahkan “ulama”) melangkahkan kaki ke perayaan Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hukum Mengucapkan Selamat Natal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun yang lalu, terbit sebuah buku yang berisi pendapat kontroversi. Buku berjudul, “Membumikan Al-Qur’an” itu menyebutkan, bahwa boleh saja mengucapkan selamat Natal kepada mereka yang merayakannya. Dalihnya adalah, penafsiran yang ganjil terhadap firman Allah Ta’ala dalam surat Maryam ayat 33. Allah Ta’ala berfirman, “(Berkata Isa alayhissalaam) dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang penulis buku, menjelaskan penafsirannya. “Tidaklah mengapa mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani. Karena hakikat mengucapkan selamat Natal adalah ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa alayhissalam. Bukankah Nabi Isa alayhissalam sendiri mengucapkan salam atas kelahirannya ?”, demikian ungkap sang penulis. &lt;br /&gt;Cara penafsiran seperti ini kemudian dibantah oleh tim Pusat Konsultasi Syari’ah, yang terdiri 14 ahli syariah di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipannya, “ Ucapan salam sejahtera yang ada di dalam ayat itu merupakan ucapan bayi Nabi Isa as untuk menjawab cemoohan dan ejekan orang-orang yang memusuhi Maryam, ibunda Nabi Isa. Sama sekali tidak mengandung hukum tentang sunnah atau masyru’iyah untuk mengucapkan selamat sejahtera pada tiap ulang tahun kelahiran nabi Isa. Bahkan murid-murid nabi Isa (al-Hawariyyun) juga tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun atau selamat hari lahir kepada nabi mereka saat nabi Isa masih hidup. Apalagi setelah beliau diangkat ke langit. Sehingga kalaulah mengucapkan selamat itu menjadi dibolehkan, maka seharusnya para shahabat terdekat nabi Isa yang melakukannya. Tapi kita sama sekali tidak mendapat keterangan tentang itu. Bahkan Nabi Isa sendiri tidak pernah memintanya atau mensyariatkannya. Selain itu sebagaimana yang tertera dalam ayat itu, kalimat itu menunjukkan bahwa salam sejahtera pada kepada nabi Isa. Bukan pada hari kelahirannya dan bukan juga pada setiap ulang tahun kelahirannya. Ini dua hal yang sangat jauh berbeda. Bolehlah kita mengucapkan selamat natal bila bunyi ayatnya seperti ini, “Wahai umat Islam, bila pemeluk kristen merayakan natal, maka ucapkanlah : selamat natal ?” Tapi demi Allah SWT yang Maha Agung dan Maha Benar, tidak ada sama sekali ayat itu dalam Al-Quran Al-Karim, tidak juga dalam Injil, Taurat ataupun Zabur. Ayat Al-Quran Al-Karim itu hanya mengatakan bahwa pada hari lahirnya, meninggal dan dibangkitkan semoga dirinya selamat dan sejahtera. Bunyinya adalah,  Salamun Alayya. Semoga aku selamat atau semoga Allah mensejahterakan atau menyelamatkan diriku. Bukan harinya yang sejahtera atau selamat. Dalam tafsir yang lurus disebutkan bahwa kalimat Selamat atasku yang dimaksud pada ayat itu adalah selamat dari gangguan syetan, yaitu pada tiga momentum : pada hari kelahiran, kematian dan kebangkitan kembali. Maksudnya bahwa syetan tidak bisa mengganggu nabi Isa as dan tidak bisa mencelakakannya terutama pada tiga momentum itu. Kalaulah salam itu ditafsirkan sebagai ungkapan atau ucapan salam maka mengirim salam, maka salam itu adalah salam kepada nabi Isa alaihis salam. Dan mengucapkan kepada para nabi dan rasul memang dibenarkan dan disyariatkan dalam syariah islam. Dan sebagai muslim, kita mengakui kenabian Isa as serta posisinya sebagai nabi dan rasul. Untuk itu kita juga disunnahkan untuk mengucapkan salam kepada diri beliau. Namun hal itu jelas jauh berbeda dengan memberi ucapan selamat natal kepada orang kafir. Karena kalangan nasrani itu melakukan kemusyrikan dengan menjadikan nabi Isa sebagai tuhan selain dari Allah SWT. Dan kemusyrikannya itu dirayakan dalam bentuk perayaan natal. Mereka dengan segala keyakinannya mengatakan bahwa pada tanggal 25 Desember itu “TUHAN telah lahir”. Ini adalah kemusyrikan yang nyata dan terang sekali. Dan mengucapkan selamat natal kepada mereka yang sedang merayakan kemusyrikan berarti ikut meredhai dan mendukung kemusyrikan itu sendiri. Karena itu sudah terlalu jelas perbedaannya antara bersalawat kepada nabi Isa sebagai nabi dengan menyembah nabi Isa atau menjadikannya sebagai tuhan. Sehingga hanya mereka yang agak rancu pikirannya saja yang memahami ayat ini sebagai ayat yang memerintahkan kita untuk mengucapkan selamat natal kepada orang kafir.”  (Dikutip dari www.syariahonline.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, mengucapkan selamat Natal kepada pemeluk Nasrani juga merupakan keharaman yang telah disepakati oleh seluruh ulama (ijma’).Hal ini sebagaimana dinukil dari Ibn al-Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkâm Ahl adz-Dzimmah” (Lihat kitab, Majmû’ Fatâwa Fadlîlah asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, Jld.III, h.44-46, No.403)          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berkaca Kepada Dua Uswah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur’an hanya dua orang Nabi dan Rasul yang disematkan kepada keduanya gelar uswah hasanah (suri tauladan yang baik). Nabiyullah pertama, adalah Rasulullah Muhammad shallaLlahu alayhi wa sallam (Q.S. Al-Ahzab ayat 21). Dan yang kedua, adalah Nabiyullah Ibrahim alayhissalaam (Q.S. Al- Mumtahanah ayat 4). Marilah kita perhatikan bagaimana sikap keduanya saat mempertahankan kemurnian Tauhid.&lt;br /&gt;Dengarlah, sikap tegas Ibrahim alayhissalam kepada ayahandanya tercinta dan penduduk negerinya, "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”  (Q.S. Al- Mumtahanah ayat 4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenanglah pula sikap tegas Nabi Muhammad shallaLlahu alayhi wa sallam saat beliau diminta untuk meninggalkan da’wah Tauhid ini, dan ditawari tiga hal; kekuasaan, kekayaan dan pengobatan, oleh Utbah Ibn Rabiah, sang negosiator Quraisy. Yang semua tawaran tersebut beliau tolak mentah-mentah (lihat Sirah Ibnu Hisyam, juz 1 hal. 292). Padahal, jika beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menerima tawaran-tawaran itu, mungkin saja beliau shallaLlahu alayhi wa sallam bisa tetap berda’wah. Jika beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menerima tawaran menjadi penguasa, misalnya, bisa saja setelah berkuasa, beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menegakkan prinsip-prinsip Islam dalam pemerintahannya. Atau jika beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menerima tawaran harta, bisa saja beliau shallaLlahu alayhi wa sallam mengangkat kehidupan ekonomi masyarakat Arab yang miskin saat itu. Dan setelah mereka sejahtera, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bisa berda’wah dengan lebih leluasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu semua tidak beliau shallaLlahu alayhi wa sallam lakukan. Beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menolak dengan tegas segala tawaran kompromi terhadap da’wah Tauhid. Beliau shallaLlahu alayhi wa sallam malah menempuh jalan yang panjang dan berliku. Jalan non kompromi terhadap urusan Aqidah. Hingga akhirnya, harus disiksa, diboikot, diteror dan diusir dari negeri sendiri. Menderita hampir lebih dari 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Sikap yang diambil ‘ibroh (pelajarannya) oleh Sayyid Quthb rahimahuLlah dalam kitab Ma’alim fi Thoriq (edisi Indonesia: Petunjuk Jalan). Bahwa, agama ini tidak akan tegak jika diawali titik tolak kebangkitannya dari kekuasaan yang harus direngkuh atau kesejahteraan yang harus dikejar. Tetapi ia hanya bisa tegak, jika kalimah Tauhid Laa ilaha IllaLlah bersemayam dalam diri masyarakatnya. (Lihatlah, Bab II dari buku Ma’alim fi Thoriq tentang Wujud Metode Qur’ani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, marilah kita berkaca kepada para Rasul dan Anbiyaa shallaLlahu alayhim. Jangan korbankan Aqidah kita hanya untuk kepentingan sesaat. Jangan mudah mengucapkan kalimat kekufuran (seperti, ucapan selamat Natal) hanya untuk meraih secuil kekuasaan duniawi. Tegaslah dalam urusan Aqidah. Karena ternyata, Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikan kekuasaan sejati pada kaum yang murni Aqidah-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. (Syaratnya adalah) mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” &lt;/em&gt;(Q.S. An-Nuur ayat 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam bish showwaab&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Setiawan&lt;br /&gt;(oasejiwa@gmail.com (021) 946-75645)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-198067604594259659?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/198067604594259659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/198067604594259659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2009/01/tegas-dalam-aqidah.html' title='&lt;strong&gt;Tegas dalam Aqidah&lt;/strong&gt;'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-3037480091169854960</id><published>2008-11-26T19:58:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T21:05:21.547-08:00</updated><title type='text'>BERQURBAN SEEKOR LALAT</title><content type='html'>Imam Ahmad dalam kitab Al Zuhd meriwayatkan satu hadits dari Thariq bin Syihab bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang laki-laki masuk surga gara-gara seekor lalat dan seorang laki-laki masuk neraka gara-gara seekor lalat!”. Orang-orang bertanya kepada Nabi, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ada dua orang yang lewat ke suatu kaum penyembah berhala, tidak ada orang yang boleh lewat ke kampung mereka melainkan harus berkurban sesuatu kepada berhala itu. Mereka berkata kepada salah seorang dari keduanya, ‘Berqurbanlah!’. Orang itu menjawab, ‘Aku tidak punya sesuatu untuk berqurban’. Mereka berkata, ‘Berqurbanlah walau hanya dengan seekor lalat!’. Orang itu pun berqurban dengan seekor lalat dan mereka memberi jalan untuk lewat, maka laki-laki itu masuk neraka. Lalu mereka berkata kepada yang seorang lagi, ‘Berqurbanlah kamu!’. Laki-laki itu mengatakan, ‘Aku tidak akan berqurban kepada sesuatu apapun selain kepada Allah Yang Mahakuasa dan Mahamulia!’. Kemudian mereka membunuh laki-laki itu, maka ia pun masuk sorga!”. &lt;br /&gt;Apa sebenarnya hakikat qurban itu sehingga dapat menyebabkan seseorang masuk surga atau masuk neraka? Ditinjau dari segi formalitas pelaksanaannya qurban memang tidak lebih dari penyembelihan hewan tertentu pada tanggal sepuluh bulan Dzulhijah, kemudian daging hewan itu dimakan dan dibagikan kepada orang lain untuk sama-sama menikmatinya. Penyembelihan hewan untuk konsusmi makanan adalah perkara sehari-hari yang wajar belaka dan biasa dilakukan oleh siapapun atau dari umat manapun. Tetapi dibalik tatacara ritual formalnya itu, qurban dalam ajaran Islam menyimpan makna yang sangat dalam. Ia merupakan salah satu bentuk peribadahan yang sangat erat dengat semangat ketauhidan. Dalam dua ayat Al Quran, qurban dihubungkan dengan ibadah Islam yang sangat penting, yaitu shalat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (Q.S. Al-An'aam ayat 162)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama menafsirkan nusuk atau ibadah pada ayat ini adalah ibadah qurban. Ini bermakna bahwa ayat ini memerintahkan penghususan ibadah shalat dan qurban hanya untuk Allah SWT. , sebagaimana juga mengikrarkan bahwa hidup dan mati hanya milik-Nya. Pada ayat yang lain disebutkan, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (Surat Al Kautsar : 1-3). Dari kedua ayat itu, secara aqidah qurban juga merefleksikan semangat pengesaan kepada Allah, karena itu penyelewengan dalam berqurban dapat jatuh kepada kerusakan aqidah tauhid. Dan kerusakan tauhid yang paling patal adalah menyekutukan Allah. Penyembelihan suatu hewan yang dimaksudkan sebagai pengorbanan kepada suatu apapun selain Allah merupakan perwujudan dari syirik atau menyekutukan Allah itu, tidak menjadi ukuran apakah hewan yang disembelih itu besar atau kecil. Yang menjadi ukuran syirik dan tidaknya penyembelihan adalah niyat dan maksud dari pelakunya. Dari sinilah kita dapat membuka pemahaman terhadap teks hadits di atas, dimana berqurban menjadi penyebab seorang bisa masuk surga atau malah masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Pengorbanan Yang Haram  &lt;br /&gt;Dari apa yang disebutkan pada hadits di atas menuntut kita untuk berhati-hati dalam menentukan niyat penyembelihan hewan qurban kita, karena niyat itulah yang menentukan nilai dan hakikat qurban kita di hadirat Allah SW., apakah ia bernilai katuhidan atau bernilai kesyirikan. Sebagai perwujudan keimanan kepada Allah, maka yang diterima Allah dari qurban seseorang sebelum yang lain-lainnya adalah semangat keikhlasan dan ketaqwaan orang itu. Allah tidak akan menilai apapun dari daging dan darah hewan yang diqurbankan, sebab Allah tidak membutuhkan sesajen makanan dari hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Q.S. Adz-Dzaariyaat ayat 57 – 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Hajj ayat 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu menjadi keharusan kita untuk menjaga kebersihan iman dari niyat qurban yang salah dengan cara menjauhi bentuk-bentuk pengorbanan selain kepada Allah. Diantara jenis pengorbanan salah dan diharamkan melakukannya adalah:&lt;br /&gt;Pertama, sembelihan untuk berhala. Sembelihan untuk berhala adalah termasuk dari empat perkara yang diharamkan secara tegas dalam Al Qura, yaitu firman Allah, “…dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala….(Al Maidah; 2)&lt;br /&gt;Termasuk ke dalam katagori sembelihan untuk berhala adalah sembelihan yang dimaksudkan untuk sesajen kepada dewa laut semisal Nyi Roro Kidul, dewa gunung, ddan sebaginya.&lt;br /&gt;Kedua, Sembelihan yang dimaksudkan sebagai tumbal bagi bangunan baru, semisal gedung atau jembatan, dengan keyakinan bahwa melalui tumbal itu bangunan akan lebih kuat dan tidak membawa bencana di kemudian hari &lt;br /&gt;Ketiga, Sembelihan yang dipersembahkan kepada penghuni qubur yang dianggap sebagai orang suci atau orang sakti. Dengan sembelihan itu ia mengharapkan keberkahan dan minta dibantu dikabulkan segala cita-citanya.&lt;br /&gt;Keempat, sembelihan yang dilakukan ditempat peribadahan atau tempat upacara perayaan kaum syirik jahiliyah, meskipun dia tidak berniyat berqurban untuk berhala. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang hukum menyembelih hewan di suatu tempat karena nadzar. Maka Nabi melarang menyembelih ditempat mana orang musyrik biasa menyembah berhalanya atau melakukan upacara keagamaannya. Lalu beliau bersabda, “Tidak ada nadzar dalam maksiyat kepada Allah, dan tidak ada nadzar pada apa yang diluar kepemilikan seorang anak Adam!”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam bil Shawab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-3037480091169854960?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/3037480091169854960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/3037480091169854960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/11/berqurban-seekor-lalat.html' title='BERQURBAN SEEKOR LALAT'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-7830106248834765828</id><published>2008-10-28T20:47:00.000-07:00</published><updated>2008-10-28T20:49:38.511-07:00</updated><title type='text'>Aku Sakit, Kenapa Engkau Tidak Menjenguk-Ku</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;I&lt;/span&gt;zinkanlah, saya memulai tulisan ini dengan sebuah hadits Qudsi yang pernah dikisahkan oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Hadits Qudsi yang apabila saya membacanya, saya sering tertegun dan termenung mendalam. Sebagaimana kita tahu, hadits Qudsi adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang redaksinya (lafazh-nya) dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam namun maknanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala. Berbeda dengan al-Qur’anul Karim yang baik lafadz maupun maknanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;br /&gt;Dalam hadits Qudsi tersebut Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam menceritakan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala kelak di hari kiamat akan bertanya kepada kita, “Wahai anak Adam, Aku sakit, tetapi kenapa Engkau tidak menjenguk-Ku ?”&lt;br /&gt;Manusia (kita) akan menjawab,”Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb, Tuhan Semesta Alam ?”&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala akan bertanya, “Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, sedangkan Engkau tidak menjenguknya ? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati Aku di sisinya ?”&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kembali, “Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi kenapa Engkau tidak memberi-Ku makan ?”&lt;br /&gt;Anak Adam akan menjawab, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam ?”&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala akan menggugat, “Apakah engkau tidak tahu hamba-Ku si fulan minta makan kepadamu sedangkan engkau tidak memberinya makan ? Apakah engkau tidak tahu seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkan-Ku disisinya ?&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala akan berfirman kembali, “Hai anak Adam, aku minta minum kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku minum ?”&lt;br /&gt;Anak Adam akan menjawab lagi, “Bagaimana mungkin aku melakukan, padahal Engkau adalah Tuhan Semesta Alam ?”&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kembali, “Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum maka sudah pasti engkau akan mendapati-Ku di sisinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pembaca yang budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita renungkan hadits Qudsi di atas, nampak jelas betapa pentingnya kepedulian antar sesama di dalam Islam. Di hari kiamat nanti, ternyata Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya akan menanyakan keshalihan kita secara pribadi, namun juga keshalihan kita secara sosial. Allah subhanahu wa ta’ala akan menggugat jika ada di antara kita yang tidak peduli dengan saudaranya yang sakit, haus dan kelaparan. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits tersebut mengungkapkan, bahwa jika kita ingin mendekati Allah ta’ala maka jalannya adalah mendekati orang-orang yang kesusahan di antara kita.&lt;br /&gt;Karena itu wajarlah jika Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, dalam sebuah hadits pernah mengungkapkan, “Bukanlah bagian dari kami (kaum muslimin) orang-orang yang tidak peduli dengan masalah kaum muslimin.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak)&lt;br /&gt;Atau dalam hadits yang lain, RasuluLlah shallaLlahu alayhi wa sallam juga bersabda, “Tidak beriman kepadaku orang yang mampu untuk tidur kenyang, sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dan al-Bazzar)&lt;br /&gt;Kepedulian terhadap sesama ini makin penting untuk kita hidupkan saat ini, di saat kondisi perekonomian negeri kita tidak kunjung membaik. Keberkahan yang seharusnya meliputi negeri ini, nampak seperti terkunci. Negeri yang gemah rimah loh jinawi ini, tak mampu lagi untuk menghidupi penduduknya sendiri. Sehingga, kita tidak terkaget-kaget lagi saat mendapati kisah seorang ibu yang hamil tua di Makasar meninggal dunia karena kekurangan gizi. Ada pula kisah seorang ketua pengurus ranting sebuah partai Islam di Sulawesi yang harus merelakan bayinya wafat karena tidak mampu membayar biaya perawatan sebesar Rp. 20.000,- ke petugas Puskesmas. Begitu juga kisah masyarakat di kawasan Jakarta Barat yang telah bertahun-tahun memakan makanan dari sampah restoran. Serta, beratus-ratus (atau mungkin beribu-ribu) kisah-kisah menyedihkan lainnya di sekitar kita. Baik yang terungkap media maupun tidak. Kita hari ini makin merasakan nilai uang yang kita genggam tidak lagi berharga di hadapan beras, susu, dan kebutuhan harian kita.&lt;br /&gt;Namun, di saat perut masyarakat kita perih menahan lapar, masih saja ada pemimpin kita yang berani berdusta. Bahwa, kemiskinan menurun. Pengangguran berkurang. Keadaan membaik, dan seterusnya. Berdusta atas nama statistik. Lie with statistic... Padahal dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menyandingkan kata kejujuran dengan keimanan dan ketaqwaan. Tidaklah bertaqwa seseorang yang berdusta.&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Q.S. Al-Ahzaab ayat 70)&lt;br /&gt;Disebabkan hilangnya taqwa itulah, keberkahan negeri ini terkunci. Karena Allah subhanahu wa ta’ala pernah berfirman, “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan membukakan kepada mereka pintu keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami berikan balasan atas sebab perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raaf ayat 96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Bukan hanya lapar yang diderita masyarakat kita, namun juga sakit. Penyakit jasmani mungkin masih bisa ditahan, namun apa jadinya jika penyakit jiwa yang diderita kebanyakan masyarakat kita. Penelitian Departemen Kesehatan yang diumumkan Menkes Siti Fadilah Supari pada tanggal 23 Oktober 2008 yang lalu, mengungkapkan fakta menyedihkan. Dua puluh lima persen (atau, satu dari empat orang) masyarakat Indonesia menderita gangguan jiwa. (Topik AnTV, 23/10/2008). Hasil penelitian WHO (World Health Organization) yang dirilis Februari tahun ini juga menguatkan hal yang sama, hampir 100 juta rakyat Indonesia menderita gangguan jiwa, baik skala rendah maupun tinggi.&lt;br /&gt;            Karena itulah kita melihat tingkat stress masyarakat kita yang tinggi. Tidak mampu lagi menahan beban hidup, hingga harus mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Bahkan bunuh diri sesudah bertakbir dan melaksanakan shalat Idul Fitri di Istiqlal.&lt;br /&gt;            Sakitnya jiwa masyarakat kita makin nampak dengan terus merajelelanya penjualan VCD/DVD porno di negeri ini. Saat anggota dewan kita terus bersilat lidah tentang RUU Pornografi, lihatlah tidak kurang 200 ribu keping film porno digandakan setiap harinya di negeri Melayu ini. Akibatnya, anak-anak perempuan kita lah yang dalam bahaya. Penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak, dua bulan yang lalu, mengungkapkan 62,7% siswi SMP di negeri ini sudah tidak lagi perawan.&lt;br /&gt;            Jika kita belum juga yakin akan akutnya penyakit jiwa di tengah masyarakat lihatlah pula bagaimana makin seringnya kita menyaksikan berita pembunuhan mutilasi. Jika dahulu, kita hanya menyaksikan sekian tahun sekali baru ada kasus mayat yang terpotong, maka saat ini hampir setiap bulan ada kisah orang yang dibunuh dengan dipotong. Bahkan yang teranyar terjadi di sekitar kita, Pondok Rajeg, Cibinong.    &lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;            Pembaca yang budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Demikianlah wajah masyarakat kita. Lapar, haus dan sakit. Jika hati kita tidak tergerak untuk menolong mereka, takutlah jika kelak Allah Ta’ala bertanya kepada kita, “Mengapa engkau tidak menjenguk-Ku, memberi makan dan minum-Ku ... ?”&lt;br /&gt;            Jika kita tidak mampu untuk membantu mereka dengan harta kita, setidaknya ringankanlah beban mereka dengan tegur-sapa dan senyum kita. Bukankah senyum kita pun adalah shadaqah. Sabda Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, “Senyum di hadapan saudaramu adalah shadaqah.”&lt;br /&gt;            Atau, setidaknya bantulah mereka dalam do’a-do’a kita. Saat kita bermunajat kepada Allah Ta’ala di tengah malam. Dalam kesunyian, getarkanlah bibir kita, “Allahumman shurna wal muslimiin ... Ya Allah, selamatkanlah kami dan kaum muslimin ...”&lt;br /&gt;           &lt;em&gt; Wallahu a’lam bis showwab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;strong&gt;Muhammad Setiawan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-7830106248834765828?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/7830106248834765828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/7830106248834765828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/10/aku-sakit-kenapa-engkau-tidak-menjenguk.html' title='Aku Sakit, Kenapa Engkau Tidak Menjenguk-Ku'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-1850082201619307341</id><published>2008-10-28T20:42:00.000-07:00</published><updated>2008-10-28T20:45:50.805-07:00</updated><title type='text'>Al-Akhfiyaa’</title><content type='html'>Lelaki itu baru saja menempuh perjalanan jauh. Perjalanan yang bukan hanya menguras tenaga, namun juga fikiran. Penat dan letih mendera hingga ke sumsum tulangnya. Ditemani oleh seorang sahabat, ia beristirahat malam itu. Tiga puluh menit setelah keduanya merebahkan tubuh, tiba-tiba lelaki itu berbisik, memanggil temannya, “Umar, sudah tidurkah engkau ... ?” Temannya menjawab, “Belum.” Lelaki itupun terdiam. Tiga puluh menit pun berlalu. Dalam keheningan malam, lelaki itu kembali berbisik, “Umar, sudah tidurkah engkau ... ?”. Temannya kembali menjawab, “Belum, wahai saudaraku ... “. Lantas keduanya kembali terdiam. Malam pun kembali senyap. Setelah satu jam dalam keheningan, lelaki itu kembali berbisik, “Umar, engkau sudah tidur ...?” Kali ini, temannya yang sesungguhnya belum tidur hanya terdiam. Tidak menjawab sepatah katapun. Lelaki itu pun mengira, bahwa sahabatnya telah tidur. Sejurus kemudian, ia pun bangkit dari peraduannya. Bersuci dan menghadap qiblat. Lantas, menghabiskan malam itu dengan isakan di hadapan Rabb-nya. Ia baru menyelesaikan qiyamul lail-nya malam itu, saat memperkirakan bahwa sahabatnya akan bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini diceritakan dengan penuh rasa haru oleh salah seorang tokoh pergerakan Islam abad ini, Umar at-Tilmisani, untuk menggambarkan perilaku sahabat sekaligus murabbi-nya yang sering menyembunyikan amal ibadahnya. Siapakah lelaki dalam kisah itu? Dialah Imam as-Syahiid Hasan al-Banna (Allahu yarham). Umar at-Tilmisani menceritakan kisah tersebut kepada Dr. Said Ramadhan al-Buthy, menantu sekaligus murid dari Imam Hasan al-Banna. Saya sendiri mengutip kisah ini dari tulisan Thariq Ramadhan, cucu Hasan Al-Banna, yang dimuat dalam kata pengantar buku al-Ma’tsurat terbitan Mizaania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membaca kisah ini, terkenanglah saya (penulis) akan perilaku ulama-ulama salaf (zaman dahulu) yang sering menyembunyikan amal sholihnya. Terkenanglah saya akan kisah Imam al-Mawardi seorang ulama sunnah yang terkenal, yang sampai akhir hidupnya tidak pernah mempublikasikan tulisan-tulisannya. Hingga ketika ia telah sakit keras dan merasa ajalnya telah dekat, ia memanggil seseorang yang dipercayainya, sambil berkata, “Buku-buku yang terdapat di tempat itu semuanya adalah karanganku. Jika kamu melihat tanda-tanda kematianku, dan aku sudah berada dalam sakaratul maut, maka masukkanlah tanganmu dalam genggaman tanganku. Jika tanganku menggenggam erat tanganmu dan meremasnya, itu tandanya karangan-karanganku tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Karena itu, segeralah ambil semua buku-buku itu dan buang semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari. Tapi, jika tanganku membuka dan tidak menggenggam tanganmu, maka ketahuilah bahwa karangan-karanganku diterima oleh Allah azza wa jalla, dan aku akan memperoleh apa yang selama ini aku harapkan dari niat yang ikhlas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kepercayaan Imam al-Mawardi itu pun bercerita, “Ketika kematian al-Mawardi telah dekat, saya letakkan tanganku di atas tangannya. Ternyata dia membentangkan telapak tangannya dan tidak meremas tanganku. Tahulah aku, bahwa itu pertanda karangan-karanganya telah diterima oleh Allah Ta’ala. Maka sepeninggalnya, aku perlihatkan buku-bukunya itu kepada orang-orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenanglah pula saya akan ungkapan Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala, saat berkata kepada murid-muridnya, “Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu ini, tanpa sedikitpun menisbatkan ilmu ini kepada diriku. Agar aku memperoleh pahala darinya, dan mereka tidak menyanjungku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka inilah para akhfiyaa. Orang-orang yang misterius. Orang-orang yang menyembunyikan amalnya. Orang-orang yang tidak suka dengan popularitas. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjaga dengan keras nilai keikhlasan dari setiap amal yang dilakukan. Tidak ada yang paling mereka takuti kecuali jika amal ibadahnya ditolak di hadapan Allah Ta’ala, karena dipenuhi virus popularitas, berupa riyaa (ingin diperhatikan) dan sum’ah (ingin dibicarakan)  Kita akan dapati kisah-kisah mengenai mereka ini, saat membaca kisah ulama-ulama terdahulu (salaf). Dan sangat jarang kita dapati kisah-kisah seperti mereka pada tokoh-tokoh masa kini (khalaf). Wajarlah jika kemudian Allah Ta’ala memuji generasi yang lalu dengan ungkapan, “ulaaikal muqarrabuun.” (mereka itulah orang-orang yang dekat dengan Allah). Dan balasan mereka adalah jannah (syurga) yang termewah. (Bukalah al-Qur’an surat al-Waqi’ah ayat 10 -14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka (para akhfiyaa) inilah orang-orang yang berusaha menghayati sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, “Sedikit saja riyaa adalah syirik. Barangsiapa yang memusuhi para kekasih Allah, berarti dia benar-benar menantang Allah untuk berperang. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan, bertaqwa, yang merahasiakan diri (al-akhfiyaa). Yaitu, mereka yang apabila tidak ada, tidak dicari. Dan bila adapun mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu-lampu pemberi petunjuk (mercusuar). Mereka muncul dari setiap tempat berdebu yang gelap.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shagir, 24/45). Mereka juga adalah kaum yang berusaha untuk merenungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala, dalam surat al-Baqarah ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian menakjubkannya, amal yang tersembunyi karena ikhlash kepada Allah Ta’ala, hingga Allah ‘azza wa jalla menjadikan pelakunya sebagai dua golongan dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak. Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam keta’atan kepada Allah ‘azza wa jalla, (3) orang yang hatinya senantiasa tertambat dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, (5) laki-laki yang dirayu oleh wanita yang cantik dan berkedudukan, namun ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah,’ (6) orang yang bersedekah dengan merahasiakan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang berdzikir kepada Allah di kala sendirian, lalu berlinanglah air matanya. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Imam Abul Hasan ibn Basyar rahimahullah ta’ala saat ditanya oleh seorang muridnya, tentang cara mendekat kepada Allah ta’ala, jawabnya adalah, “Sebagaimana kamu bermaksiat kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi, hendaklah kamu ta’at pula kepada-Nya dengan sembunyi-sembunyi juga, supaya Allah memasukkan ke dalam hatimu rahasia-rahasia kebaikan.”         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ikhwani al-ahibba’....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman. Jika kita renungkan kisah-kisah dan keutamaan menyembunyikan amal yang terpapar di atas, tentu bergetarlah hati kita saat ini. Patutlah detik ini kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjaga keikhlasan amal-amal kita? Mampukah kita mengusir jauh-jauh keinginan untuk populer (riyaa’ &amp;amp; sum’ah) saat kita menjalankan keta’atan kepada Allah Ta’ala? Padahal masa ini adalah masa di mana popularitas menjadi sesuatu yang sangat diagung-agungkan oleh banyak orang. Semua orang berusaha untuk terkenal. Memang, adakalanya suatu amal lebih berdampak kebaikan (maslahat) jika dilakukan secara terang-terangan. Namun pernahkah kita bertanya dengan jujur dalam hati kita masing-masing, berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi? Dan berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan secara terang-terangan? Apakah amal yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi lebih banyak daripada amal yang kita lakukan secara terang-terangan? Jika ternyata, amal ibadah kita yang terang-terangan lebih banyak kuantitas dan kualitasnya daripada amal ibadah kita yang sembunyi-sembunyi, maka percayalah bahwa virus riyaa, yang merupakan bentuk kemusyrikan kepada Allah, telah menyelusup ke dalam hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Ibn Abi Thalib radhiyyaLlahu anhu berkata, “Orang yang riyaa itu memiliki beberapa ciri, (1) malas, jika seorang diri, (2) giat jika di tengah-tengah orang banyak, (3) bertambah semangat dalam beramal jika mendapatkan pujian, (4) berkurang frekwensi amalnya jika mendapatkan celaan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;WaLlahu a’lam bish showwaab&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Muhammad Setiawan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bacaan lebih lanjut :&lt;br /&gt;1.      &lt;em&gt;Wahaatul Iimaan&lt;/em&gt; (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Taujih Ruhiyyah, penerbit An-Nadwah), oleh Syaikh Abdul Hamid al-Bilali.&lt;br /&gt;2.      &lt;em&gt;Al-Akhfiyaa’: al-Manhaj was Suluuk&lt;/em&gt; (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Orang-Orang yang Tidak Suka Popularitas, penerbit Robbani Press), oleh Walid Ibn Said Bahakim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-1850082201619307341?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/1850082201619307341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/1850082201619307341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/10/al-akhfiyaa.html' title='Al-Akhfiyaa’'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-3179602628194280712</id><published>2008-07-22T01:24:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T01:34:52.298-07:00</updated><title type='text'>Merindukan Ka'ab Ibn Malik</title><content type='html'>Kisah itu terjadi pada bulan ini, bulan Rajab, tahun kesembilan sesudah hijrah. Musim panas yang terik dan kering melanda Madinah. Suhu gurun saat itu mencapai empat puluh derajat celsius lebih. Hampir setengah matang. Namun, seperti halnya musim panas yang lain, di saat-saat seperti itulah biasanya buah kurma masak. Dan Madinah sebagai kota perkebunan sedang menikmati limpahan manisnya panen kurma.&lt;br /&gt;Tak ada hal yang paling menyenangkan bagi penduduk Madinah dalam suasana seperti itu kecuali berdiam diri di kota, sambil memetik buah kurma yang masak di bawah rimbunnya dedaunan kebun. Apalagi jika ditemani oleh sekendi air dingin yang sudah diembunkan pada malam sebelumnya. Tentu tak akan ada yang mau untuk menolaknya. Inilah saat dimana tak ada seorangpun yang mau untuk pergi melakukan perjalanan jauh.&lt;br /&gt;Namun, di saat seperti itulah, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam mengumandangkan panggilan jihad. Ghozwah Tabuk fi saa'atil 'usrah. "Perang Tabuk dalam waktu yang sulit", demikianlah para ahli sejarah menamakan panggilan jihad itu. Dinamakan sebagai waktu yang sulit karena sekurang-kurangnya disebabkan oleh tiga hal. Yang pertama, saat itu cuaca sangat panas dan bertepatan dengan musim panen kurma. Penduduk Madinah yang sebagian besar adalah petani tentu akan lebih memilih untuk mengurusi pertaniannya terlebih dahulu. Kedua, medan peperangan yang dituju sangat jauh. Berada di Tabuk, yang merupakan salah satu kota dekat Palestina. Untuk perjalanan perginya saja akan menghabiskan waktu satu bulan penuh. Belum ditambah waktu perjalanan pulang dan masa berperang. Sehingga diperkirakan peperangan ini akan memakan waktu dua bulan lebih. Ketiga, musuh yang akan dihadapi adalah salah satu negara super power saat itu. Yaitu Romawi, yang terkenal memiliki prajurit dengan kekuatan prima dan persenjataan lengkap. Jumlah musuh yang akan dihadapipun luar biasa besar. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam mendapat berita bahwa telah ada 40.000 orang prajurit Romawi yang telah berkumpul di kota Balqa' dan siap menyerang Madinah.&lt;br /&gt;Disebabkan tiga alasan itulah, maka banyak kaum munafiqin yang enggan untuk berangkat mengikuti ghozwah Tabuk. Hanya sahabat-sahabat Nabi shallaLlahu alayhi wa sallam yang berhati ikhlash sajalah yang bersedia untuk menempuh perjalanan jauh dan sulit dalam ghozwah ini. Namun, ternyata ada tiga orang sahabat Nabi yang terkenal lurus keimanannya tetapi tidak ikut ghozwah Tabuk. Mereka bertiga terlalu sibuk mengurus kebun-kebunnya hingga tidak menyadari jika rombongan pasukan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam sudah berangkat meninggalkan Madinah.&lt;br /&gt;Diantara tiga orang sahabat Nabi yang tertinggal itu, tersebutlah nama Ka'ab ibn Malik radhiyyaLlahu 'anhu. Seorang sahabat yang selalu mengikuti hampir seluruh ghozwah (perang) bersama Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Seorang sahabat yang dikenal sebagai seorang yang berhati tulus dan beriman lurus. Beliau bukanlah termasuk kaum munafiqin yang saat itu mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad. Beliau pula bukan termasuk sahabat yang sudah tua usia dan tidak memiliki perbekalan perang yang cukup, yang memang diizinkan oleh Rasulullah untuk tidak ikut berjihad. Beliau radhiyaLlahu 'anhu mengetahui panggilan jihad dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dan sudah berniat untuk berangkat. Namun karena taswiif (menunda-nunda) dalam berangkat jihad, akhirnya beliau tertinggal dari rombongan pasukan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam.&lt;br /&gt;Sekembalinya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dari ghozwah Tabuk, berbondong-bondonglah kaum munafiqin menemui Rasulullah sambil mengemukakan alasan-alasan (yang sesungguhnya dibuat-buat) ketidak ikutan mereka berperang. Ka'ab ibn Malik pun di anjurkan oleh kaum munafiqin untuk juga menemui Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dan mengemukakan alasan ketidak hadirannya di ghozwah ini. Namun, berbeda dengan kaum munafiqin yang berdusta di hadapan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, Ka'ab ibn Malik malah mengakui kesalahannya dan tidak mau mengarang-ngarang alasan apapun. Padahal, sebagaimana diakuinya sendiri, beliau radhiyyaLlahu adalah u'thiya jadalan (seorang yang dikaruniai kemampuan untuk berargumentasi). Karena kejujurannya, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam lantas bersabda kepada Ka'ab ibn Malik, "amma hadza faqod shodaqo, faqum hatta yaqdhiyaLlahu fiik (adapun orang ini, maka ia telah berkata jujur, maka tunggulah hingga Allah ta'ala menjatuhkan putusan untukmu)."&lt;br /&gt;Maka Ka'ab Ibn Malik pun dihukum "hajr (isolasi/dijauhi)" oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Hajr adalah hukuman dengan cara tidak mengajak berbicara dan bergaul kepada Ka'ab selama lima puluh hari. Bahkan, bukan hanya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam saja yang meng-hajr Ka'ab Ibn Malik namun juga seluruh kaum muslimin di Madinah, termasuk pula istri Ka'ab ibn Malik. Demikianlah, saat Ka'ab ibn Malik menjalani hukuman hajr dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, ia merasa dunia sangat sempit dan jiwanya sesak. Hingga Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat Ka'ab Ibn Malik dan dua orang temannya radhiyaLlahu 'anhum sebagaimana tertera dalam surat at-Taubah ayat 117-120. Adapun kisah lengkap mengenai Ka'ab ibn Malik ini bisa kita baca dalam Kitab Shohih Imam Bukhari dan Imam Muslim. &lt;br /&gt;Banyak hikmah sebenarnya yang terserak dari kisah "hajr" Ka'ab Ibn Malik radhiyaLlahu 'anhu. Salah satu hikmah berharga yang dapat kita ambil dari kisah ini, adalah keteguhan Ka'ab Ibn Malik untuk tetap berkata jujur. Padahal bila ia tidak berkata jujur, ia tidak akan dihukum hajr oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Padahal pula saat itu, ia adalah seorang yang mampu dan memiliki kesempatan untuk berdusta. Namun, ia tidak memilih itu. Ia memilih untuk tetap berkata jujur, meskipun dengan itu ia harus dihukum.&lt;br /&gt;Ka'ab ibn Malik tentunya menyadari betul firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam surat al-Ahzab ayat 70 : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah perkataan yang benar". Ayat ini menjelaskan bahwa diantara ciri keimanan dan ketaqwaan seseorang adalah keteguhannya untuk berkata jujur. Seorang yang beriman tidak akan berani untuk berdusta, karena ia menyakini bahwa setiap ucapannya pasti akan dicatat oleh para malaikat yang senantiasa menyertai.&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Qaf ayat 16 – 18 : "Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir."&lt;br /&gt;Karena itulah bagi seorang yang beriman seperti Ka'ab Ibn Malik tidak ada pilihan lain kecuali berkata jujur. Meskipun kejujuran itu pahit baginya. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, "Katakanlah yang benar, walaupun kebenaran itu pahit." (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shohih Ibnu Hibban). Bahkan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam saat ditanya jihad apakah yang paling dicintai disisi Allah Ta'ala, beliau menjawab, "Kalimat kebenaran di hadapan pemimpin yang lalim." (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bayhaqy dalam kitab Sunan al-Kubra). Imam jair (pemimpin lalim/bengis) atau shulthon jair (penguasa lalim, dalam hadits riwayat Imam at-Thabrany) adalah penguasa yang akan menyiksa kita, bahkan memenggal kepala kita, jika kita mengucapkan kebenaran.   &lt;br /&gt;Jika kepada penguasa yang lalim saja Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam masih menyuruh kita untuk berkata jujur, maka mengapa kita tidak berani untuk berkata jujur pada hal-hal yang tidak membahayakan nyawa kita? Mengapa demikian banyak di antara kita yang berani berdusta hanya untuk menutupi harga dirinya? Atau, berdusta hanya untuk menyelamatkan kedudukan dan hartanya?&lt;br /&gt;Kasus para jaksa yang tidak mau mengaku telah disuap (risywah) oleh makelar kasus BLBI, yang masih hangat diberitakan saat ini, menjadi sekedar contoh betapa dusta sudah menjadi keseharian sebagian dari kita. Belum lagi, kedustaan yang setiap hari dijajakan oleh para politikus untuk menutupi kegagalan kepemimpinan mereka.   &lt;br /&gt;Sungguh, di hari-hari terakhir ini, kita makin merindukan sosok seperti Ka'ab Ibn Malik radhiyyallahu 'anhu. Sosok yang rela dihukum daripada harus berdusta. Ataupun sosok seperti Imam Malik ibn Anas rahimahuLlahu yang tetap teguh berkata jujur tentang kebenaran al-Qur'an meskipun penguasa berfaham Mu'tazilah terus menyiksanya.&lt;br /&gt;Semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua untuk tetap mempertahankan dan membudayakan kejujuran. Sebagaimana do'a kita setiap hari, ihdina shirothol mustaqim, shirotol ladzina an'amta 'alayhim  ... tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang kau beri nikmat ... . Do'a yang telah dijawab oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam surat an-Nisaa ayat 68 – 69 : Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Semoga ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam bis showwab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan setelah sang makelar kasus menitikkan air mata, 14/07/08&lt;br /&gt;Muhammad Setiawan,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-3179602628194280712?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/3179602628194280712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/3179602628194280712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/07/merindukan-kaab-ibn-malik.html' title='Merindukan Ka&apos;ab Ibn Malik'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-2204534910924812518</id><published>2008-04-03T00:49:00.000-07:00</published><updated>2008-04-03T00:57:47.522-07:00</updated><title type='text'>Prinsip-Prinsip Membelanjakan Harta</title><content type='html'>Salah satu pilar dalam sistem keuangan Islam adalah kecerdasan dalam mengelola pengeluaran harta. Harta yang kita pegang hari ini, dalam perspektif Islam, sesungguhnya bukanlah milik kita, namun titipan dari Allah &lt;em&gt;Azza wa Jalla&lt;/em&gt;. Oleh karena itu, harta tidak boleh kita belanjakan semau-maunya kita. Ada prinsip-prinsip pembelanjaan harta dalam Islam yang harus kita perhatikan. Untuk itulah Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah mengingatkan kita semua, bahwa salah satu hal yang akan ditanya nanti oleh Allah subhanahu wa ta’ala di hari kiamat adalah mengenai untuk apa kita belanjakan harta kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abi Barzah &lt;em&gt;al-Aslamy radhiyyaLlahu ‘anhu&lt;/em&gt;, Rasulullah &lt;em&gt;shallaLlahu alayhi wa sallam&lt;/em&gt; pernah bersabda, “Tidak akan melangkah kedua belah kaki seorang hamba di hari kiamat kelak, hingga ia ditanya mengenai empat hal : tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia manfaatkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitab sunannya dengan derajat hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami bahwa harta yang dikuasai saat ini akan ditanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka setiap muslim selayaknya memiliki prioritas dalam membelanjakan hartanya. Sehingga tidak terjadi fenomena yang menyedihkan seperti yang sering kita lihat saat ini. Yaitu, banyaknya orang yang membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, padahal, banyak orang yang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja sangat kesulitan. Beberapa bulan yang lalu misalnya, kita melihat ada ribuan orang di Jakarta yang rela untuk menghabiskan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk menonton konser boys band (Backstreet Boys) yang datang dari Amerika. Padahal pada saat yang sama ada seorang ibu hamil yang meninggal dunia karena kelaparan di Makassar. Beberapa pekan yang lalu juga, sebuah hotel di Jakarta dipenuhi oleh ratusan orang yang rela membayar hingga sepuluh juta rupiah (setiap orang) hanya untuk menonton seorang penyanyi wanita (Diana Ross) dari negeri paman Sam di saat ribuan orang di negeri ini tidak dapat membayar biaya kesehatan paling dasar. Ketidakcerdasan dalam membelanjakan harta ini memang jika dibiarkan akan mengakibatkan terjadinya kecemburuan sosial yang akhirnya bisa berujung pada konflik sosial. Untuk itu, berikut ini beberapa prinsip-prinsip sederhana membelanjakan harta dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip pertama, hendaknya setiap muslim memprioritaskan pengeluaran hartanya bagi hal-hal yang wajib. Diantara hal yang wajib itu adalah membayar zakat dan menafkahi keluarga. Zakat adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang disandingkan oleh-Nya dalam banyak ayat al-Qur’an setelah perintah shalat. Sedangkan menafkahi keluarga adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap lelaki yang telah berkeluarga. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah bersabda, “Cukuplah seorang lelaki itu dianggap berdosa, jika ia menyia-nyiakan orang-orang yang ada dalam tanggungannya (tidak memberi nafkah).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam kitab shahihnya). Untuk itu, adalah sangat menyedihkan jika kita melihat adanya para pemimpin keluarga yang lebih memilih untuk membelanjakan hartanya demi kesenangan dirinya sendiri dibandingkan untuk menafkahi anak dan istrinya. Beberapa pekan yang lalu misalnya, di sebuah televisi swasta pernah ditayangkan reportase tentang kehidupan kaum miskin kota di Jakarta yang ternyata kepala keluarganya lebih memilih untuk mengalokasikan uangnya untuk rokok ketimbang memenuhi gizi dan biaya pendidikan anak-anaknya. Ditampilkan misalnya, ada seorang tukang ojek motor di kawasan UKI Jakarta Timur yang penghasilan seharinya sebesar Rp. 40.000,- namun habis untuk belanja rokok sebesar Rp. 27.000,- . Sehingga, hanya sekitar 20% yang ia bawa untuk menafkahi anak dan istrinya. Di kawasan lain, ada pula seorang pemulung di Menteng Jakarta Pusat yang memiliki penghasilan perhari Rp. 20.000,- namun habis Rp. 13.000,- hanya untuk rokok. Sehingga tinggal tersisa Rp. 7.000,- saja yang ia bawa tiap harinya untuk makan istri dan tiga orang anaknya. Wal ya’dzubiLlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang kedua, hendaknya setiap muslim menyisakan bagian dari hartanya untuk menunaikan ibadah-ibadah sunnah. Misalnya, dengan berinfaq, shadaqah maupun memberikan qardhan hasan (pinjaman lunak) bagi orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya. Pinjaman lunak ini menjadi hal yang makin terasa penting, di saat “prajurit-prajurit ribawi” makin merajalela di sekitar kita. Baik berupa rentenir-rentenir perorangan yang rajin mengetuk tiap pintu rumah yang terjerat kebutuhan ekonomi, maupun lembaga-lembaga perkreditan yang menawarkan pinjaman hanya dengan jaminan surat-surat kendaraan. “Prajurit-prajurit ribawi” tersebut saat ini belum dapat dilawan oleh lembaga keuangan syari’ah formal, yang seringkali mempersulit memberikan pinjaman karena alasan-alasan prudential (kehati-hatian). Yang dapat melawan mereka hanyalah kepedulian kita untuk saling membantu. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membantu meringankan kesulitan-kesulitan dunia saudaranya, maka Allah akan membantu kesulitan-kesulitannya kelak di akhirat.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab Mazhalim, Imam Muslim dalam bab al-birr, Tizrmidzi dalam bab al-birr, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang ketiga, hendaknya setiap muslim tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya pada hal-hal yang mubah (boleh). Membeli kendaraan mewah, pesawat televisi, handphone yang canggih, perabot rumah tangga, furniture dan barang-barang elektronika lainnya adalah mubah. Namun, hendaknya kita harus mempertimbangkan beberapa hal sebelum membeli itu semua. Pertama, apakah saat kita membeli hal-hal yang mubah itu akan mengurangi pos pengeluaran kita untuk hal-hal yang wajib &amp;amp; sunnah? Jika ternyata kita mengorbankan hal-hal yang wajib untuk membeli hal-hal yang mubah tentu itu bukanlah keputusan yang bijak. Penulis sering melihat ada keluarga yang memiliki TV layar besar lengkap dengan pemutar DVD namun mereka memiliki tunggakan iuran sekolah putra-putrinya dan makanan sehari-harinya kurang bergizi. Padahal point yang terakhir lebih penting daripada point yang pertama.  Kedua, saat kita akan membeli barang-barang yang mubah itu, hendaknya kita berfikir berulang-ulang, benarkah barang-barang yang akan dibeli itu memang betul-betul dibutuhkan atau sekedar keinginan belaka ? Banyak orang, misalnya, yang mengidamkan memiliki laptop (komputer jinjing), namun ternyata saat mereka telah memilikinya baru tersadar kalau sesungguhnya ia tidak betul-betul memerlukan benda itu. Demikian juga banyak orang yang berlomba-lomba membeli handphone dengan fasilitas canggih yang berharga puluhan juta, padahal mereka tidak sungguh-sungguh memerlukan fitur-fitur canggih pada handphone-nya. Perilaku membelanjakan harta hanya berdasarkan keinginan dan bukan kebutuhan ini merupakan bentuk dari gaya hidup tabdzir (pemborosan). Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Israa ayat 26 – 27, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”&lt;br /&gt;Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam juga pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala suka dan membenci tiga hal dari kalian:  suka jika kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan engkau berpegang teguh kepada al-Qur’an. Dan Allah ta’ala membenci jika engkau banyak bicara, banyak bertanya yang tidak penting (untuk menghindar dari kewajiban) dan memboroskan harta”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)  Hal ketiga yang perlu diperhatikan saat membeli barang-barang yang mubah adalah, jangan sampai kita membeli barang-barang yang mubah dengan cara berhutang (kredit / mencicil). Apalagi jika berhutangnya itu dengan disertai bunga (riba). Tentang haramnya riba cukuplah jika merenungkan surat al-Baqarah ayat 275, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Sedangkan mengenai berhutang ternyata Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam hanya mencontohkan berhutang jika itu terkait dengan kebutuhan pokok saja, tidak pada hal-hal yang mubah. Aisyah ummul mu’minin radhiyallahu ‘anha, pernah menceritakan, “Bahwasanya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menunda pembayarannya (berhutang), dan beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menjadikan tamengnya dari besi sebagai jaminan atas hutangnya.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, sebagaimana tercantum dalam kitab Fath al-Bary 5/53). Untuk itu Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam sangat mewanti-wanti umatnya untuk tidak terbiasa berhutang.. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian membuat takut jiwa-jiwa setelah kalian mendapatkan ketenangan." Mereka bertanya, "Apakah hal itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab, "Ia adalah hutang."  (Diriwayatkan oleh at-Thahawi sebagai dikutip oleh Imam al-Qurthubi dalam al-Jaami' fii Ahkamil Qur'an)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang keempat, hendaknya kita menahan diri untuk tidak berbelanja pada hal-hal yang makruh. Hal-hal yang makruh bisa saja dari hal-hal yang secara dzatiyyah adalah mubah namun karena dibeli secara berlebihan ia menjadi makruh. Seperti makan berlebihan atau memenuhi keinginan untuk mengoleksi sepatu, mobil mewah dan komoditas konsumtif lainnya. Atau, yang makruh itu bisa saja dari benda yang secara dzat-nya memang sudah makruh. Seperti halnya, rokok. Hampir seluruh ulama di negeri ini sepakat bahwa rokok adalah makruh. Bahkan, para ulama internasional, seperti Syekh Abdul Aziz ibn Baz rahimahuLlahu ta’ala mengkategorikan rokok sebagai sesuatu yang haram. Beliau mengungkapkan bahwa rokok haram karena rokok termasuk dalam al-khabaaits (hal-hal yang buruk) dan bukan at-thayyibat (hal yang baik). Keburukan rokok ini dihitung dari besarnya bahaya yang diterima oleh penghisap dan penghirup asap rokok. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas menegaskan keharaman seluruh hal yang buruk. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an surat  Al-A’raf : 157  :"Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang kelima, hendaknya kita jangan pernah membelanjakan harta kita pada hal-hal yang haram. Seperti membeli benda-benda yang merusak aqidah kita (jimat, susuk, dan sejenisnya), atau yang merusak mentalitas kita (film-film porno, majalah-majalah amoral, koran kuning), ataupun sesuatu yang sudah sangat jelas keharamannya, seperti, berjudi. Terlebih lagi saat ini perjudian telah merebak bahkan sampai masuk ke ruang-ruang keluarga kita. Perjudian yang berkedok kuis SMS berhadiah di televisi hampir tak mengenal waktu menyerang anggota keluarga kita. Padahal jelas, perjudian inilah amalan syetan yang akan membawa bangsa ini terus terporosok dalam kehancuran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Maidah ayat 90, “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saudara-saudaraku tercinta, lima prinsip sederhana membelanjakan harta dalam Islam. Semoga kita dapat mensyukuri nikmat harta yang Allah subhanahu wa ta’ala titipkan kepada kita dengan mempergunakannya sebijak mungkin sesuai dengan tuntunan syari’at. Karena, sebagaimana janji Allah subhanahu wa ta’ala, jika kita bersyukur atas nikmat-Nya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menambah nikmat-Nya. Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi menjelaskan tentang ayat ini, dengan ungkapan yang sangat menyentuh. Ujarnya, “Jika seseorang tidak bertambah ni’matnya setiap hari maka sesungguhnya ia telah kurang bersyukur. Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah berdusta.” Untuk itu, jika kita saat ini merasa seakan barokah Allah subhanahu wa ta’ala makin jauh dari negeri ini, bertubi-tubi masalah dan bencana mendera bangsa ini, mungkin itu disebabkan bangsa ini kurang bersyukur. Kurang bersyukur atas nikmat harta (kekayaan alam) yang sudah Allah ta’ala titipkan pada bangsa ini. Karena ternyata harta itu tidak dipergunakan secara bijak sesuai dengan ketentuan-Nya. Bukankah kita adalah negeri dengan tingkat konsumsi tembakau terbesar di dunia (trilyunan rupiah membakar uang setiap tahun), negeri dengan perjudian yang dibiarkan bebas, negeri yang membeli HP nokia communicator terbesar di dunia padahal tidak diperlgukan fitur-nya, negeri yang penduduknya rela membeli televisi layar lebar dengan berhutang agar dapat menonton dangdut sedangkan perutnya keroncongan ... ?&lt;br /&gt;Ya Allah, lindungilah kami. Jangan Kau hukum kami karena perilaku orang-orang bodoh di sekitar kami. Maafkan kami dan bukalah relung hati kami dengan petunjuk-Mu ... &lt;em&gt;Amin Ya Rabbal Alamien.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam bis showwab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Setiawan, renungan ba’da dhuha 01 April 2008,&lt;br /&gt;saat minyak tanah makin susah dicari.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-2204534910924812518?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/2204534910924812518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/2204534910924812518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/04/prinsip-prinsip-membelanjakan-harta.html' title='Prinsip-Prinsip Membelanjakan Harta'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-2765442326587464368</id><published>2008-03-19T03:03:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T03:07:24.935-07:00</updated><title type='text'>Orang Aneh</title><content type='html'>Suatu pagi, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam berangkat ke masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat shubuh berjama’ah dengan sahabat-sahabatnya. Sesampainya di masjid, ternyata beliau mendapati sahabat-sahabatnya masih berkumpul di pintu masjid. Belum juga masuk ke masjid sebagaimana biasanya. Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam heran dan kemudian bertanya, “Mengapa kalian belum juga masuk ke dalam masjid, wahai sahabat-sahabatku ? Bukankah waktu shubuh telah tiba ?” Sebagian sahabat kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, hari ini sumur dan tempat-tempat air kami sangat kering. Kami belum mendapatkan sepercik air sekalipun untuk melaksanakan wudhu. Bagaimana mungkin kami dapat melaksanakan shalat padahal kami belum berwudhu.” Saat itu, memang Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam belum mengajarkan kepada para sahabat radhiyyaLlahu ‘anhum untuk melaksanakan tayammum, sehingga wajarlah jika para sahabat agak bingung menghadapi kondisi seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam yang mulia, kemudian meminta kepada salah seorang sahabat untuk mengambilkan sebuah bejana (ember). Setelah bejana itu ditaruh di hadapan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, beliau kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana tersebut. Dan ternyata, ajaib, atas izin Allah subhanahu wa ta’ala dari sela-sela jemari Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam muncul air jernih yang dengan deras mengalir. Sehingga bejana tersebut terisi penuh dengan air. Para sahabat pun bergantian berwudhu dengan air tersebut. Bahkan diriwayatkan, sahabat Abdullah ibn Mas’ud radhiyyaLlahu ‘anhu sampai meminum beberapa teguk air tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas berwudhu dan shalat shubuh berjama’ah, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam kemudian duduk menghadap para sahabat-sahabatnya. Setelah itu, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pun bertanya, “Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang aku maksud sebagai saudara-saudaraku ?” Sebuah pertanyaan yang tidak pernah diungkapkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebelumnya. Para sahabat pun terdiam, merenungkan makna dari pertanyaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Lantas, ada salah seorang sahabat yang memberanikan diri untuk menjawab, “Kami ya RasulaLlah ... Kamilah saudara-saudaramu itu ... Kamilah orang-orang yang telah rela untuk membelamu dengan seluruh jiwa, raga dan harta kami. Bahkan melebihi pembelaan kami terhadap keluarga kami sendiri.” Mendengar jawaban itu, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pun tersenyum dan berkata, “Bukan, kalian bukanlah saudara-saudaraku (ikhwaaany) namun kalian adalah sahabat-sahabatku (ashhaabiy).” Mendengar penjelasan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, para sahabat pun makin bertanya-tanya dalam hati. Jika bukan mereka orang-orang yang dianggap sebagai saudaranya Rasulullah, lalu siapakah saudara-saudara Rasulullah tersebut ?&lt;br /&gt;Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam kemudian bersabda, “Saudara-saudaraku (ikhwaany) adalah orang-orang yang tidak pernah bertemu denganku, tidak pernah melihat bagaimana mu’jizat-mu’jizat Allah diberikan untukku, tidak pernah melihat Al-Qur’an diturunkan kepadaku, mereka hidup jauh sesudah aku, mereka hanya mengetahui tentangku lewat tulisan-tulisan (hadits) dan mendengarkan al-Qur’an melalui mushaf. Namun, mereka beriman kepada Allah sebagaimana kalian beriman hari ini. Mereka membela aku sebagaimana kalian membela aku hari ini. Mereka mencintai agama ini (Islam) sebagaimana kalian mencintai agama ini. Mereka itulah saudara-saudaraku (ikhwaani). Sungguh, aku sangat ingin bertemu dengan saudara-saudaraku itu.” (aw kama qala Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam). Kisah ini tercantum dalam kitab Duurul Mantsur karya Imam Jalalludin as-Suyuthi, saat beliau menjelaskan al-Quran, surat al-Baqarah ayat ke-3 : &lt;em&gt;(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui, kisah ini, kita dapat mengambil sebuah pelajaran yang berharga. Bahwa ternyata, dalam Islam, kemuliaan suatu generasi bukan hanya milik generasi pada satu zaman saja. Bukan hanya milik generasi pendahulu (salaf) namun juga kemuliaan tersebut dapat dimiliki oleh generasi yang hadir kemudian (khalaf). Meskipun memang, generasi salaf diberi keistimewaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa pertemuan mereka secara langsung dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sehingga mereka dapat beriman kepada Allah lebih awal. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat at-Tawbah ayat 100 : &lt;em&gt;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, generasi khalaf-pun mendapatkan kemuliaan di mata Allah subhanahu wa ta’ala jika mereka berkomitmen terhadap agama ini. Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam juga memuji generasi belakangan ini dengan julukan sebagai al-Ghuraabaa’ (orang-orang asing / dianggap aneh). Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, &lt;em&gt;“Islam ini awalnya asing (dianggap aneh), dan Islam ini akan kembali dianggap aneh sebagaimana awalnya muncul, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh (al-Ghurabaa’).”&lt;/em&gt; (Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah ibn Mas’ud, juz 8 hal 131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada 42 hadits yang menjelaskan makna al-Ghurabaa’. Salah satu maknanya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya dari sahabat ‘Amr ibn ‘Ash radhiyalLahu anhu, beliau berkata, “Suatu ketika kami bersama-sama dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, beliau kemudian bersabda, &lt;em&gt;“Beruntunglah al-Ghuraabaa’...Para sahabat kemudian bertanya, “Siapakah al-Ghuraabaa’ itu ya Rasulallah .. ?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuat baik saat banyak orang berbuat kerusakan. Mereka melaksanakan keta’atan saat banyak orang melakukan kema’shiyatan.”&lt;/em&gt; (Musnad Ahmad, Bab Musnad Amr Ibn Ash, juz 13 hal. 400).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu marilah kita menjadi saudara-saudara Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam yang sangat beliau rindukan. Karena kita membela dan mencintai beliau, sebagaimana pembelaan dan cintanya para sahabat-sahabatnya dulu. Marilah kita menjadi al-Ghuraabaa’, orang-orang yang dianggap aneh karena masih melakukan keta’atan di saat banyak orang bangga dengan kema’shiyatan. Orang-orang yang dianggap aneh, karena sangat memperhatikan shalat, di saat banyak orang melalaikannya. Dianggap aneh karena tidak mau mengambil harta haram, di saat orang-orang banyak yang berfikir, “Yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Menjadi orang yang dianggap aneh karena sibuk untuk berbagi dan bergaya hidup sederhana, di saat banyak orang bangga dengan kemewahan dan tidak peduli dengan penderitaan saudara-saudara di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam bis showwab&lt;br /&gt;Muhammad Setiawan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;www.tazkiyyatunnafs.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-2765442326587464368?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/2765442326587464368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/2765442326587464368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/suatu-pagi-rasulullah-shallallahu.html' title='Orang Aneh'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-183753075642145898</id><published>2008-03-19T02:58:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T03:02:19.216-07:00</updated><title type='text'>Tuhan Sembilan Senti</title><content type='html'>Jika kita membuka mata kita lebih lebar dan melihat sekeliling kita, sesungguhnya kita akan mendapatkan sebuah pemandangan yang menyedihkan di sekitar kita. Bangsa ini masih dililit oleh kemiskinan. Data tahun 2004 menyebutkan, setidaknya jumlah pengangguran di negeri ini telah mencapai angka 40 juta orang. Jika para penganggur ini adalah seorang kepala keluarga yang memiliki satu orang istri dan hanya satu orang anak maka sekurangnya kita telah memiliki angka 120 juta orang penduduk miskin di negeri ini. Seratus dua puluh juta orang yang berarti lebih dari setengah penduduk negeri ini yang jumalhnya 225 juta orang. Ini jika penduduk miskin tersebut diukur dari tingkat pengangguran terbuka. Belum pula jika dihitung dari angka pengangguran terselubung. Ataupun, dihitung dari penduduk miskin yang sudah bekerja namun upah yang diterimanya tidak sebanding dengan biaya kebutuhan pokok yang makin membumbung tinggi saja akhir-akhir ini. Tentu akhirnya kita akan mendapatkan angka penduduk miskin yang lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dibalik angka kemiskinan penduduk negeri ini yang makin fantastis, pernahkah kita menyadari komoditas apa yang lebih banyak dibeli oleh penduduk miskin negeri ini selain makanan pokok ? Yang karena mendahulukan untuk membeli komoditas ini, para penduduk miskin rela mengurangi pos pengeluaran pendidikan dan kesehatan mereka dalam anggaran belanja rumah tangganya. Komoditas itu ternyata adalah rokok ! Yah, rokok. Perusahaan-perusahan rokok di negeri ini yang berhasil memproduksi rokok hingga 225 miliar batang setahun (terbesar di dunia) ternyata konsumen setia terbesarnya adalah penduduk miskin. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 misalnya menyebutkan, masyarakat miskin di negeri ini cenderung mengorbankan alokasi belanja kebutuhan pokok, termasuk beras, susu, tahu dan daging, demi tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Pada tahun 1999, proporsi belanja makanan pokok keluarga keluarga miskin yang 28% turun menjadi 19% pada tahun 2003. Namun, pada periode yang sama proporsi belanja rokok keluarga miskin justru naik dan meningkat dari 8% menjadi 13%. (masya Allah ... !). Karena itu, tampaknya rokok sudah menjadi kebutuhan utama bagi sebagian penduduk negeri ini. Padahal, kita semua sepakat betapa besar kemadharatan yang diakibatkan oleh sebatang rokok. Tidak hanya bagi penghisapnya, namun juga bagi orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai bahaya rokok tersebut bahkan dapat kita baca jelas disetiap bungkus rokok. Ditulis dengan huruf kapital dan tebal. MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Namun, mengapa mendadak 12 juta kepala keluarga miskin yang aktif merokok (data BPS) menjadi buta huruf dan tidak menghiraukan peringatan tersebut. Padahal jelas, data organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan jumlah kematian akibat rokok di seluruh dunia saat ini telah mencapai 8,4 juta orang setiap tahunnya. Koran Tempo tanggal 9 April 2007, dalam sebuah artikelnya menyebutkan, bahwa dalam sebatang rokok terdapat : 4000 jenis racun kimia (10 diantaranya bersifat karsinogenik/merangsang tumbuhnya kanker). Sedangkan, korban jiwa (kematian) akibat rokok pada tahun 2001 berjumlah 427.946 orang atau 22,5% dari total kematian orang Indonesia. Adapun, total biaya konsumsi rokok penduduk negeri ini pada tahun 2001 adalah Rp. 127,4 triliun. Bayangkan, betapa besar uang yang telah dihamburkan oleh penduduk negeri ini demi memenuhi paru-parunya dengan asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ratusan trilyun telah kita keluarkan untuk tembakau, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang kemudian diuntungkan ? Apakah para petani cengkeh (bahan baku rokok) ? Ternyata, tidak. Petani cengkeh kita mengaku bahwa harga cengkeh jika sedang panen maka harganya turun hingga Rp. 15.000,-/kg. Padahal biaya produksinya saja tiap kilogram sudah mencapai Rp.16.000,-. Itu berarti, mereka rugi Rp.1.000,-/kg. Atau, mungkin yang untung adalah para buruh pabrik rokok ? Ternyata tidak pula. Sebagian besar upah buruh pabrik rokok hanyalah pas-pasan dengan UMR negeri ini yang terkenal sempit itu. Bahkan ada pula beberapa pabrik rokok yang mengupah buruhnya jauh di bawah UMR. Untuk itu, wajarlah jika sebagian besar buruh pabrik rokok adalah perempuan. Karena mereka dikenal rapih dalam bekerja dan tidak banyak menuntut. Jadi, siapa yang diuntungkan dari bisnis rokok ini ? Tak lain dan tak bukan, yang untung besar adalah para pemilik pabrik rokok. Jika diambil contoh dari dua perusahaan rokok besar di negeri ini saja, yaitu Gudang Garam dan HM. Sampoerna, maka kita bisa membayangkan bagaimana untungnya menjadi pemilik pabrik rokok di negeri ini. Majalah SWA tanggal 3 Juni 2007 menyebutkan, bahwa angka penjualan bersih Gudang Garam pada tahun 2006 adalah Rp. 26,3 triliun. Sedangkan HM. Sampoerna Rp. 29, 5 triliun. Dari penjualan bersih itu, Gudang Garam berhasil meraih laba bersih Rp. 1,88 triliun, dan Sampoerna Rp. 2,38 triliun. Keuntungan bersih ini kemudian mereka salurkan untuk menghidupi anak-anak bisnis perusahaan Gudang Garam dan HM. Sampoerna. Mulai dari bisnis makanan, properti, perkebunan, keuangan hingga bisnis perjudian. Tidakkah kita mencium aroma ketidak adilan di sini. Sebagian besar penduduk miskin kita telah dibuai dengan iklan-iklan rokok, hingga setiap hari mereka mengeluarkan uangnya untuk menambah besar kantong para cukong rokok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dari syariat Islam, sesungguhnya bagaimana hukum rokok ini ? Sepengetahuan penulis, hampir seluruh ulama Islam Internasional menghukumkan rokok sebagai haram. Hanya, ulama-ulama Indonesia saja yang sebagian masih menghukumkan rokok sebagai makruh. Diantara ulama yang mengharamkan rokok tersebut adalah Syeikh Abdul Aziz Ibn Baz rahimahullahu ta'ala. Beliau meungkapkan bahwa rokok haram karena rokok termasuk dalam al-khabaaits (hal-hal yang buruk) dan bukan at-thayyibat (hal yang baik). Keburukan rokok ini dihitung dari besarnya bahaya yang diterima oleh penghisap dan penghirup asap rokok. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas menegaskan keharaman seluruh hal yang buruk. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an surat Al-A’raf : 157 :"Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keharaman ini jika hanya memperhitungkan bahaya rokok dari aspek kesehatan. Belum dari segi tabdzir-nya. Sedangkan Allah SWT jelas melarang pula perilaku tabdzir (memboroskan harta). Dan janganlah engkau memboroskan hartamu. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudaranya syetan. (Al-Qur'an surat al-Isra ayat 26 – 27). Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam juga menjelaskan bahwa salah satu hal yang ditanya oleh Allah SWT kepada kita di hari kiamat adalah mengenai kemana kita membelanjakan harta kita. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abi Barzah al-Aslamy radhiyaLlahu 'anhu bahwa Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda, "Tidak akan melangkah kedua tapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ia ditanya mengenai usianya, untuk apa saja ia habiskan. Mengenai ilmu yang dimilikinya, untuk apa ia amalkan. Mengenai hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan. Serta, mengenai jasmaninya, untuk apa ia pergunakan". (Sunan at-Tirmidzi, juz 8, hal. 443, no. 2341).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, saya ingin mengajak seluruh pembaca untuk merenungkan sebuah puisi yang pernah ditulis oleh Bapak Taufiq Ismail. Salah seorang penyair besar yang dimiliki negeri ini. Beliau menuliskan keprihatinan yang mendalam akan kegandrungan masyarakat Indonesia terhadap benda yang bernama rokok ini, dalam sebuah puisinya, yang berjudul "tuhan Sembilan Senti".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tuhan Sembilan Senti&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,/tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,// Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,//Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok,/tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,//Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,//Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,//Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,//Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,//Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,//Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,//Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,//Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,//Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?//Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.//Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?//Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.//Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,//Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,//Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,//Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,//Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,//Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a'lam bis shawwab&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, saksikanlah ... aku telah menyampaikan&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Muhammmad Setiawan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-183753075642145898?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/183753075642145898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/183753075642145898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/tuhan-sembilan-senti.html' title='Tuhan Sembilan Senti'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-876242165269067482</id><published>2008-03-19T02:55:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T02:57:32.519-07:00</updated><title type='text'>Shalawat Atas Nabi SAW</title><content type='html'>Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi  kematian  orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika  tak  ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta'dib Rabbani (didikan Tuhan) yang  menantang  mentari  dalam panasnya dan menggetarkan jutaan  bibir  dengan  sebutan  namanya,  saat muaddzin mengumandangkan adzan.&lt;br /&gt;Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal.  Ia   makan  di  lantai  seperti budak,  padahal  raja-raja  dunia  iri  terhadap   kekokohan   struktrur masyarakat  dan  kesetiaan  pengikutnya.  Tak  seorang  pembantunya  pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap  benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke  rumah  puteri dan menantu tercintanya, Fathimah  Az-Zahra  dan  Ali  bin  Abi  Thalib. &lt;br /&gt;Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya  menjadi  manja  dan hilang kemandirian. Saat bani Makhzum  memintanya  membatalkan  eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia  menegaskan:  "Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang  sebelum  kamu  ialah,  apabila  seorang bangsawan mencuri kamu biarkan dia dan apabila yang mencuri  itu  rakyat jelata mereka tegakkan hukum atas-nya. Demi Allah,  seandainya  Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya."&lt;br /&gt;Hari-harinya penuh kerja dan intaian  bahaya.  Tapi  tak  menghalanginya untuk -- lebih dari satu dua kali  --  berlomba  jalan  dengan  Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah  binti  Abu  Bakar  Ash-Shiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan  pesona  diri  dijalin dengan hormat dan kasih kepada Ash-Shiddiq, sesuai  dengan  namanya  "si Benar". Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia  masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para shahabat atau keluarganya memanggil  ia  menjawab:  "Labbaik". Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di  luar  rumah,  namun  tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai "orang rumah".&lt;br /&gt;Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama  perempuan  mendapatkan  kedudukan  amat  mulia."Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik  terhadap  keluarganya  dan  akulah orang  yang  terbaik  diantara  kamu  terhadap  keluargaku."  "Tak  akan memuliakan  perempuan  kecuali  seorang  mulia  dan  tak  akan  menghina perempuan kecuali seorang hina," demikian pesannya.&lt;br /&gt;Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau  di panglimai shahabatnya  (sariyah)  sebanyak  35  kali,  ia  masih  sempat mengajar Al-Qur'an, sunnah,  hukum,  peradilan,  kepemimpinan,  menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan  bahkan  hubungan  yang  paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan  wibawa.  Padahal,  masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.&lt;br /&gt;Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya  selalu  bernilai  sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang  belum  mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing  di  lantai  masjid  yang  berbahan pasir. Para shahabat sangat murka dan hampir saja  memukulnya.  Sabdanya kepada mereka: "Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya."  Sang  Badui terkagum.  Ia  mengangkat  tangannya,  "Ya  Allah,  kasihilah  aku   dan Muhammad.  Jangan  kasihi  seorangpun  bersama  kami."   Dengan   senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.&lt;br /&gt;Ia kerap bercengkerama dengan para shahabatnya, bergaul  dekat,  bermain dengan anak-anak, bahkan  memangku  balita  mereka  di  pangkuannya.  Ia terima  undangan  mereka;  yang  merdeka,  budak  laki-laki  atau  budak perempuan, serta kamu miskin. Ia  jenguk  rakyat  yang  sakit  di  ujung Madinah. Ia terima permohonan ma'af orang.&lt;br /&gt;Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa  yang  menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu  sebelum  shahabat  tersebut yang menariknya. Tak  pernah  menjulurkan  kaki  di  tengah  shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan  siapa  yang  datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau  ibu  si  Fulan).  Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan.  Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.&lt;br /&gt;Pada suatu hari dalam perkemahan  tempur  ia  berkata:  "Seandainya  ada seorang shalih mau mengawalku malam ini." Dengan  kesadaran  dan  cinta, beberapa shahabat mengawal kemahnya. Di  tengah  malam  terdengar  suara gaduh yang mencurigakan. Para shahabat bergegas ke  arah  sumber  suara. Ternyata Ia telah ada di sana mendahului  mereka,  tagak  di  atas  kuda tanpa pelana. "Tenang, hanya  angin  gurun,"  hiburnya.  Nyatalah  bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau  pemanjaan  diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.&lt;br /&gt;Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : "Rasulullah SAW wafat tanpa  meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain  setengah  ikat gandum di  penyimpananku.  Saat  ruhnya  dijemput,  baju  besinya  masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum."&lt;br /&gt;Sungguh ia berangkat haji dengan  kendaraan  yang  sangat  seerhana  dan pakaian tak lebih dari 4 dirham, seraya  berkata,"Ya  Allah,  jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan  sum'ah."  Pada  kemenangan  besar saat Makkah ditaklukkan, dengan  sejumlah  besar  pasukan  muslimin,  ia menundukkan kepala, nyaris  menyentuh  punggung  untanya  sambil  selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.&lt;br /&gt;Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita  pantas  menyesal  tidak  mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat  atasnya:  "Semua  nabi mendapatkan hak untuk  mengangkat  do'a  yang  takkan  ditolak  dan  aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti."&lt;br /&gt;Ketika masyarakat Thaif menolak  dan  menghinakannya,  malaikat  penjaga bukit menawarkan untuk  menghimpit  mereka  dengan  bukit.  Ia  menolak, "Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan dari sulbi mereka kelak akan menerima da'wah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak  menyekutukan-Nya dengan apapun."&lt;br /&gt;Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran juwanya.  Pertama, Allah, Sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia  begitu  refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima  segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh,  shahabat  yang  membenci,  dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati,  hamparan akal, nafsu dan  perilaku  yang  menantang  untuk  dibongkar,  dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.&lt;br /&gt;Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu  dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan  pernyataan-Nya  bahwa  Ia  dan para malaikat bershalawat atasnya (QS 33:56 ), justru Ia nyatakan dengan begitu "vulgar" perintah  tersebut,  "Wahai  orang-orang  yang  beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allahumma shalli 'alaihi wa'ala aalih !&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Allahuyarham KH. Rahmat Abdullah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-876242165269067482?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/876242165269067482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/876242165269067482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/shalawat-atas-nabi-saw.html' title='Shalawat Atas Nabi SAW'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-8146903619991057633</id><published>2008-03-19T02:49:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T02:54:28.677-07:00</updated><title type='text'>Mengapa Harus Satu Juz Setiap Hari ?</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur'an&lt;br /&gt;minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar&lt;br /&gt;jangan sampai mengkhatamkan al-Qur'an melewati satu bulan."&lt;br /&gt;(Hasan al-Banna dalam Majmuatur Rasail –risalah pergerakan- )&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, sadarkah kita bahwa al-Qur'an diturunkan oleh Allah kepada manusia agar menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas), fikri (pemikiran) serta minhaji (metodologi da'wah) ? Sehingga jika sehari saja kita jauh dari al-Qur'an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid tersebut? Sadarkah kita bahwa yang akan terjadi adalah proses tazwid dari selain wahyu Allah; baik itu dari televisi koran, majalah, maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan keyakinan yang melemah terhadap fikroh dan minhaj ? Padahal tiga unsur ini sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan berharokah. Sehingga melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqoh, padahal halaqoh merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.&lt;br /&gt;Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan, dua pekan, bahkan berbulan-bulan. Semoga Allah menjaga kita dari sikap menjadikan al-Qur'an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورً&lt;br /&gt;Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang ditinggalkan ". (Q.S. Al-Furqan ayat 30)&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Sesungguhnya ibadah tilawah satu juz ini sudah tertuntut kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa tarbiyah atau halaqoh, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari, sehingga setahun khatam 12 kali (bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat khatam lebih dari sekali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan kita, ashhabul (aktifis) harokah wad da'wah ? Sudahkah keislaman kita membentuk kesadaran iltizam (komitmen) dengan ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha'ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu melafalkan ayat-ayat al-Qur'an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta'abbud (penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da'wah ini !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita menjadi faham, bahwa ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarilah bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena kesibukan yang tak pernah berakhir ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan mentalitas 'ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini, maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Asy Syahid Hasan Al-Banna Rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini, sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur'an satu juz ini sebagai syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam nasihatnya beliau mengatakan, &lt;em&gt;"Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya, sesungguhnya imanmu dengan bai'at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) : "Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur'an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-Qur'an melewati satu bulan."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah ber'azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta'abbudi (penuh nilai ibadah), maka kita harus kembali menelan banyak pil pahit tersebut. Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur'an !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur'an mengalami proses peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika mendengar Rasulullah SAW bersabda, "bacalah al-Qur'an dalam satu bulan", maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal !  Maka tugas yang sangat minimal inipun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah) ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi'i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-Qur'annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Maryam, misalnya.&lt;br /&gt;Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur'an. Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur'an !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja tarbiyyah qur'aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran. Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah. Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kiat Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.       Berusahalah melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;2.       Aturlah dalam satu halaqah, kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik daripada 'iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi nya dan tidak menghasilkan mujahadah yang berarti.&lt;br /&gt;3.       Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan ! Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur'aniyyah di dalam diri kita.        &lt;br /&gt;4.       Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah yang memiliki al-Qur'an ini. Pengaduan kita kepada Allah yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.&lt;br /&gt;5.       Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang llain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah. Jika kita saat ini sering berbicara tentang ri'ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri'ayah maknawiyyah yang paling efektif dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun, ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah, maka tilawah al-Qur'an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah (pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur'an tempat meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta'abbudi ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kendala yang Harus Diwaspadai&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.       Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur'an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur'an.&lt;br /&gt;2.       Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur'an. Sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur'an.&lt;br /&gt;3.       Tidak memiliki waktu wajib bersama al-Qur'an dan terbiasa membaca al-Qur'an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur'an.&lt;br /&gt;4.       Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah agar dimudahkan tilawah al-Qur'an setiap hari. Materi do'a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.&lt;br /&gt;5.       Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah al-Qur'an ini. Rasulullah bersabda, "Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya."&lt;br /&gt;6.       Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur'an. Padahal menghidupkan majlis-majlis al-Qur'an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akibat dari Tidak Serius Menjalankannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.       Sedikitnya barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya hubungan seorang jundi pada Allah. Sehingga boleh jadi nampak berbagai macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;2.       Kemungkinan yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah SWT dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu ? Oleh karena itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal&lt;br /&gt;3.       Terjauhkannya sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur'an. Bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah bil qur'an kalau interaksi kita dengan al-Qur'an sangat lemah ?&lt;br /&gt;Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar bertilawah satu juz saja ? &lt;br /&gt;4.       Terjauhkannya sebuah dakwah yang memiliki jawwul 'ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur'an. Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur'an- an akan sangat berdampak pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan kalau saja setiap kader beriltizam  dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada. Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.&lt;br /&gt;5.       Terjauhkannya sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu'atur rosail (diterjemahkan oleh Ustadz Anis Matta dalam bahasa Indonesia dengan judul "Risalah Pergerakan") ! Anda akan dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan al-Qur'an. Tidakkah kita malu ber-intima'  (menyandarkan diri) pada dakwatul ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ustadz Al-Hafidz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-8146903619991057633?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/8146903619991057633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/8146903619991057633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/mengapa-harus-satu-juz-setiap-hari.html' title='Mengapa Harus Satu Juz Setiap Hari ?'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-882236573963012700</id><published>2008-03-19T02:25:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T02:45:55.796-07:00</updated><title type='text'>Kuatkan Militansi</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ikhwah rahimakumullah,&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an Surat 19 Ayat 12 yang artinya,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah ..”.(&lt;/em&gt;QS. Maryam (19):12)&lt;br /&gt;Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.&lt;br /&gt;Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.&lt;br /&gt;Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan : “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da'i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.&lt;br /&gt;Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam: “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq”.(QS. Al-A'raaf (7):145)&lt;br /&gt;Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12 : “Hudzil kitaab bi quwwah” (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).&lt;br /&gt;Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.&lt;br /&gt;Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.&lt;br /&gt;Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.&lt;br /&gt;Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri. Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.&lt;br /&gt;Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.&lt;br /&gt;Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan Fir'aun.&lt;br /&gt;Berkat do'a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir'aun beserta bala tentaranya.&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir'aun dan kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.&lt;br /&gt;Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.&lt;br /&gt;Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 :&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.&lt;br /&gt;“Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”.&lt;br /&gt;“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya”.&lt;br /&gt;“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.&lt;br /&gt;“Mereka berkata: “Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.&lt;br /&gt;“Berkata Musa: “Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu”.&lt;br /&gt;“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu”.&lt;br /&gt;Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra'du (13):11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri”.&lt;br /&gt;Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan pengepungan Fir'aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan mengijabahi do'a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu'ara (26):61-62, “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku”.&lt;br /&gt;Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan opium, candu yang berbahaya. Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah “qaumun jabbarun” yang rendah, santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib Fir'aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.&lt;br /&gt;Seandainya mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina dengan selamat. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. 47:7, “In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit bihil aqdaam” (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu).&lt;br /&gt;Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri. “Pergilah engkau dengan Tuhanmu”. Hal itu sungguh merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah bisa memasuki negri itu.&lt;br /&gt;Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka dalam kondisi sedang dihukum.&lt;br /&gt;Tetapi tetap saja kedegilan mereka tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu jenis makanan.&lt;br /&gt;Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata: “Ud'uulanaa robbaka” (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu). Seyogyanya mereka berkata: “Pimpinlah kami untuk berdo'a pada Tuhan kita”.&lt;br /&gt;Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka, sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.&lt;br /&gt;Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi beliau: “Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa”. Sahabat bertanya: “Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Siapa lagi?”.&lt;br /&gt;Kebodohan dalam meneladani Rasulullah juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi). Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat. Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan, pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.&lt;br /&gt;Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada dunia.&lt;br /&gt;Mentalitas Bal'am, ulama di zaman Fir'aun adalah mentalitas anjing sebagaimana digambarkan di Al-Qur'an. Dihalau dia menjulurkan lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal'am bukannya memihak pada Musa, malah memihak pada Fir'aun. Karena ia menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi, didampingi syaithan. Ulama jenis Bal'am tidak mau berpihak dan menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.&lt;br /&gt;Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian. Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya. Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia tenggelam dan mati.&lt;br /&gt;Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.&lt;br /&gt;Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang benar di penjara, sementara yang salah malah bebas.&lt;br /&gt;Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. “Demi Allah, ini pasti bukan manusia”. Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.&lt;br /&gt;Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.&lt;br /&gt;Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da'i. Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a'lam bis shawab&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Allahu Yarham KH. Rahmat Abdullah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-882236573963012700?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/882236573963012700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/882236573963012700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/kuatkan-militansi.html' title='Kuatkan Militansi'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-2032326646724901167</id><published>2008-03-19T02:22:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T02:24:49.309-07:00</updated><title type='text'>Jadwal Pengajian di Kerkop/45</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Rutin setiap pekan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hari Ahad, malam Senin, 20.00 - 22.00 : Liqo Tarbawi&lt;br /&gt;Hari Senin, malam Selasa, 19.30 - 21.00 : Belajar Bahasa Arab dengan kitab Al-Arobiyyatu lin-Naasyi'in&lt;br /&gt;Hari Selasa, malam Rabu, 19.30 - 21.00 : Belajar Bahasa Arab dengan kitab Al-Arobiyyatu lin-Naasyi'in&lt;br /&gt;Hari Kamis, malam Jum'at, 19.30 - 21.00 : Belajar Ilmu Nahwu dengan kitab Al-Muyassar fi Ilmin Nahwi&lt;br /&gt;Hari Jum'at, malam Sabtu, 19.30 - 21.00 : Belajar Bahasa Arab dengan kitab Al-Aysar&lt;br /&gt;Hari Sabtu pagi, jam 07.00 - 08.30 : Belajar Bahasa Arab dengan kitab Al-Aysar (untuk yang tidak bisa hadir malam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebulan sekali, Setiap pekan keempat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hari Selasa, malam Rabu, 19.30 - 21.00 : Kajian Sirah Nabawiyyah dengan kitab Sirah Nabawiyyah karya Syaikh Ramadhan al-Buthi&lt;br /&gt;Hari Kamis, malam Jum'at, 19.30 - 21.00 : Kajian Fiqh Ibadah dengan kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalany dan kitab Subulus Salam karya Imam As-Shon'any.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berminat untuk hadir ? Silahkan hubungi saya melalui surat elektronik atau nomor telepon (021) 990-59483.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-2032326646724901167?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/2032326646724901167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/2032326646724901167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/jadwal-pengajian-di-kerkop45.html' title='Jadwal Pengajian di Kerkop/45'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-6032541001435953512</id><published>2008-03-19T02:19:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T03:55:40.831-07:00</updated><title type='text'>KEMATIAN HATI</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.&lt;br /&gt;Banyak orang cepat datang ke shaf shalat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;laiknya orang yang amat merindukan kekasih. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera&lt;br /&gt;pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang&lt;br /&gt;datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,&lt;br /&gt;tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya&lt;br /&gt;pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu&lt;br /&gt;alangkah be-sar kemurkaan ALLAH atasmu. Tersanjungkah engkau yang pandai&lt;br /&gt;bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air&lt;br /&gt;wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam&lt;br /&gt;rakaat-rakaat panjang. Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur,&lt;br /&gt;sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian&lt;br /&gt;masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah&lt;br /&gt;seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa&lt;br /&gt;ngeri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan&lt;br /&gt;diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku&lt;br /&gt;karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka",&lt;br /&gt;ucapnya lirih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,&lt;br /&gt;lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang&lt;br /&gt;beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian&lt;br /&gt;menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat&lt;br /&gt;banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa&lt;br /&gt;banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau&lt;br /&gt;ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah&lt;br /&gt;dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan&lt;br /&gt;kata. Dimana kau letakkan dirimu ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu&lt;br /&gt;kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin&lt;br /&gt;bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa&lt;br /&gt;gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga&lt;br /&gt;getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya ?&lt;br /&gt;Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia&lt;br /&gt;berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada&lt;br /&gt;ALLAH, dimana kau kubur dia ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka&lt;br /&gt;lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini&lt;br /&gt;potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia&lt;br /&gt;SMP &amp;amp; SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja&lt;br /&gt;berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis&lt;br /&gt;perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau&lt;br /&gt;berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu&lt;br /&gt;yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh"&lt;br /&gt;Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang&lt;br /&gt;gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan&lt;br /&gt;jahiliyah dan maksiat" ? Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci)&lt;br /&gt;berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan "&lt;br /&gt;Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian&lt;br /&gt;laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling&lt;br /&gt;lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan&lt;br /&gt;tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru&lt;br /&gt;engkau akan dihadang tantangan : sangat malu untuk menahan tanganmu dari&lt;br /&gt;jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang&lt;br /&gt;berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah&lt;br /&gt;pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus&lt;br /&gt;mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu&lt;br /&gt;ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak&lt;br /&gt;melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam,&lt;br /&gt;sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa&lt;br /&gt;yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu&lt;br /&gt;kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di&lt;br /&gt;sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku,&lt;br /&gt;ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai,&lt;br /&gt;berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya&lt;br /&gt;berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan&lt;br /&gt;"Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih&lt;br /&gt;dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua" Akankah engkau juga menambah&lt;br /&gt;barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di&lt;br /&gt;lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari&lt;br /&gt;kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim&lt;br /&gt;yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan&lt;br /&gt;penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka&lt;br /&gt;yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian,&lt;br /&gt;koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi&lt;br /&gt;dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar&lt;br /&gt;sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk&lt;br /&gt;junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya". Engkau akan menjadi faqih&lt;br /&gt;pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan&lt;br /&gt;"lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan&lt;br /&gt;Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin&lt;br /&gt;perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang&lt;br /&gt;tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India&lt;br /&gt;menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat&lt;br /&gt;India akan ikut tidur disana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini datang "pemimpin" ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat&lt;br /&gt;dengan pameran mobil, rumah mewah, "toko emas berjalan" dan segudang&lt;br /&gt;asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam&lt;br /&gt;berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana.&lt;br /&gt;"Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah.&lt;br /&gt;Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi&lt;br /&gt;selera-ku"&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-6032541001435953512?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/6032541001435953512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/6032541001435953512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/kematian-hati.html' title='KEMATIAN HATI'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-220884475543881576</id><published>2008-03-19T02:09:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T02:18:01.268-07:00</updated><title type='text'>D e s o</title><content type='html'>Deso (baca: ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrifield dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum sama seperti dia. Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso. Doktrin syumuliayah yang selama ini kita anut harus terus kita jadikan metode dalam memandang, menilai, serta memutuskan sesuatu persoalan, sehingga tidak seperti memakai kaca mata kuda, yang hanya mampu dilihat hanyalah yang ada dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalanya ketika nilai-nilai matrialisme masuk ke Indonesia begitu deras, maka kenorak'annya pun ditandai dengan tekagum-kagumnya dengan materi, fasilitas sarana kehidupan, kendaraan, gedung, pakaian, assesoris dan sebagainya. Celakanya lagi hari ini symbol-simbol kemajuan materi ada di barat, maka orang-orang yang deso alias norak akan sangat bangga kalau sudah dekat dengan barat, bergaya barat, makan, minum, pakaian, pergaulan, cara pandang yang kebarat-baratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sifat deso ini melanda para da'I dan Aktivis, maka para Al-Mukarromuun itu dengan sangat mudah mencari segudang ayat dan hadits untuk dapat membenarkannya, jadilah da'I gaul, ustadz gaul, aktivis gaul yang dalam tanda petik. Sifat ngekor, ngikut, nunut, manut, ngintil, jiplak barat yang berasas matrialisme ini kemudian dikemas sedimikian rupa dengan hiasan ayat dan hadits, sehingga menjadi begitu memukau dan begitu indah didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dibarat sendiri, sudah mulai banyak yang sadar bahwa mereka sedang terpuruk akibat nilai materialisme, sebagian mereka ada yang lari ke bandul kanan esktrim yaitu spiritual tanda petik, atau mereka mengembangkan faham humanis yang juga tanda petik. Sedikitnya bisa saya rasakan ketika menyaksikan sendiri kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali Dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kereta, sementara yang akan di jemput pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy. Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai, Merk Holden baru tipe yang paling murah untuk ukuran Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu , kalau tidak jeli mengamati gerak gerik mereka, kita tidak tahu mana pengawalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikkuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan restoran. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya. Ternyata orang yang model begini buaanyak di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai hp komunikator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata konsumen terbesar hp komunikator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat jepang ternyata wah ini yang deso siapa yaa, karena ternyata sepatu saya lebih bagus dari rata-rata yang mereka pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang di jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, makanannya, hobinya atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi orang jepang akan pingsan kalo di ajak ke Pondok Indah melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di jepang memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhir hayatnya Rasulullah SAW tidak membuat istana Negara dan Benteng Pertahanan ( khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja ), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan istana raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan ?, mengingat beliau sebagai kepala Negara. Jawabannya ya dimasjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Waktu di mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala Negara, punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang, dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum lagi hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll, Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, atau sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, gedung tinggi, lapangan golf, ITC, MALL, TOS, Bar, Discotik Assesoris lux dan super mewah, Villa, Real Estate, dll, dsb, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pancoran mas Depok ada sekeluarga meninggal dunia karena makan ubi gadung, di Citayam ada kebun singkong tiap malam hilang pohon hanya satu batang yang dicabut, setelah diketahui ternyata tetangganya sendiri yang mencuri, diduga kuat hanya untuk makan keluarga, di Jakarta Utara ada sekeluarga meninggal setelah makan ikan hasil pancingan sang ayah, sekarang orang yang makan nasi aking sudah dianggap biasa, apalagi ketemu tiwul dan gaplek alhamdulillah, belum lagi cerita mereka yang masih tinggal di daerah pengungsian, sederet kepiluan yang bisa memakan lembaran kertas, lebih panjang lagi bisa diceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi bangsa ini tidak bisa diangkat harga dirinia hanya dengan symbol-simbol kemewahan, bangunan mercusuar, seremonial basa-basi, serta berbagai aktivitas pemborosan. Rakyat tidak akan kenyang dengan tumpukan medali hasil perolehan berbagai turnamen, yang kenyang hanya pengurus olah raganya saja. Siapakah yang bisa menikmati kalimat sakti "Keterbukaan" ???, Sementara sekian banyak aktivis masih "tertutup" kesempatannya untuk menyekolahkan anakknya di Sekolah Islam Terpadu, karena miskin. Sekian banyak kata tertutup bisa kita daftar untuk si Grass root dan wong cilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini akan naik harga dirinya kalau hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi wanita tidak solat (WTS) , angka criminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak mungkin kerisis bangsa bisa diselesaikan jika kita masih deso, kata "krisis" diucapkan ribuan kali, bak orang awam lagi berzikir, sementara kata itu tidak dijadikan sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak, maka asumsi dan paradigma yang dipakai dalam menyusun APBD dan APBN adalah paradigma negara normal atau bahkan mengikuti negara maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola sebaesar 17 Milyar sementara&lt;br /&gt;anggaran kesranya cuma 100 juta, wiiieh!.. Masih ingat sejarah jas bupati 600 juta dan perawatan mobil dinas 2 milyar..? Aneh tapi nyata itulah Indonesia Penyelewengan dalam hal keuangan Pak Harto dimulai ketika setelah 18 tahun jadi penguasa. Sebelumnya masih dianggap bersih. Sekarang kalau ada seorang pejabat Negara baru 3 tahun menjabat sudah bisa mengoleksi mobil mewah, rumah mewah, assesoris mewah, bisa dipastikan kalau dia menjabat sampai 32 tahun, maka jauh akan melebihi rekor Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan kalo semua orang berfikir ingin punya pesawat pribadi, sehingga tidak berfikir lagi bagaimana transportasi publik terjangkau seluruh masyarakat. Kalau semua orang berfikir harus punya pesantren sendiri sehingga tidak ada lagi yang berfikir bagaimana caranya pendidikan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Semua orang berfikir punya ini dan itu pribadi sehingga tidak bisa berfikir bagaimana caranya ini dan itu bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Bisa saya pastikan akan hancur sehancurnya Negara ini. Sadarkah bahwa itu adalah pikiran Kapitalisme???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan di negeri ini dari atas sampai bawah :&lt;br /&gt;  Orang bisa antri raskin sambil pegang hp.&lt;br /&gt;  Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok.&lt;br /&gt;  Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli TV dan kulkas.&lt;br /&gt;  Orang kampung mabuk, uangnya hasil patungan, sementara Orang bule mabuk&lt;br /&gt;  kelebihan uang.&lt;br /&gt;  Lagi mabuk muntah keluar kangkung, genjer toge.&lt;br /&gt;  Pengemis bisa pake walkman atau MP3 sambil goyang kepala&lt;br /&gt;  Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya.&lt;br /&gt;  Orang mau membeli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah.&lt;br /&gt;  Ijzah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur&lt;br /&gt;  Kelihatannya orang sibuk ternyata masih intensive keluar masuk Mc Donald.&lt;br /&gt;  Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan&lt;br /&gt; Jadi masih sempat ngurusin kulit bulat diisi angin&lt;br /&gt;  Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp.&lt;br /&gt;  62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja.&lt;br /&gt;  Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi diacara tembang&lt;br /&gt;  kenangan.&lt;br /&gt;  Ada 3000 Tim Nasyid yang terdaftar, tapi belum pernah dengar ada Tim Riset dan&lt;br /&gt;  Penlitian dari aktivis.&lt;br /&gt;  Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor.&lt;br /&gt;  Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar.&lt;br /&gt;  Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan.&lt;br /&gt;  Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, kalo perlu jin&lt;br /&gt;  tomang bisa digandeng.&lt;br /&gt;Tinggal cari dalil "Khootibun Naas 'alaa qudri 'Uqulihim", maka kita bisa ikuti trend apa saja yang ada di masyarakat. Apalagi kalo dipakai dalil "Al-harbul Khud'ah" maka sudah tidak diperlukan lagi halal dan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengerikan adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada jurus sakti yang biasanya dipakai untuk meredam berbagai gejolak. Yaitu sebuah kalimat "Inikan sudah keputusan Syuro!" Entah sudah berapakali jurus itu digunakan. Dan hasilnya memang cukup efektif, alhamdulillah kita menjadi tenang lagi. Toh kalau ijtihadnya keliru masih dapat satu pahala. Tulisan ini bukan untuk menimbang dan menilai benar tidaknya sebuah hasil ijtihad, tentu sangat tidak levelnya saya seorang diri yang awam dibanding para masyaikh yang jumlahnya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar menuntut kejujuran sebuah kata yang terlanjur digulirkan yaitu: "Keterbukaan". Sebuah kata yang sangat indah menjadi dagangan politik, walaupun belum tentu laris seperti yang pernah di perdagangkan oleh Amin Rais, yang ternyata kurang laris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betulkah kita sudah siap "terbuka" ?. Betulkah kata itu serius kita ucapakan..? bukan basa basi..? atau trik-trik politik..? Apakah kata "Terbuka" memang sebagaimana arti bahasa Indonesia..? bukan mengandung konotasi tertentu seperti menjaring non muslim..? Keseringan prinsip "Khud'ah" digunakan dikhawatirkan menjadi habit yang juga bisa menipu kadernya sendiri. Nauzubillah..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih punya secercah harapan jika keterbukaan yang dimaksud menurut bahasa Indonesia, bukan konotasi lain. Terbayang oleh saya nantinya kita akan semakin erat dalam berukhuwwah, karena diantara kuncinya adalah saling mengenal dan memahami, itu bisa terjadi kalo ada "keterbukaan" baik dari atas kebawah maupun sebaliknya, sehingga tidak ada lagi dusta diantara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara keterbukaan itu adalah pengelolaan keuangan, baik sumber pemasukannya maupun penggunaannya. Sekedar ingin mengetahui landasan syar'I terutama dalam penggunaannya dan prosentasi pembagian kebawah seperti Rasulullaah mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang selalu jadi alasan kebutuhan diatas sangat banyak dan tidak mencukupi dari pemasukan yang ada, maka itu bukan alasan syar'I, tapi programnya yang tidak disesuaikan dengan kadar kemampuan. Di semua lini sampai ke bawah pun punya alasan yang sama nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau alasanya diatas lebih penting dari yang dibawahya okelah kita terima, tapi yang dibawah jangan dijadikan ujung tombak lagi, dimana-mana yang namanya ujung tombak lebih besar dari batangnya, agar ketika dilempar meluncurnya lurus tepat sasaran, tidak melayang. Sangat aneh kalau ujung tombaknya kurus kerempeng tidak punya dana untuk rekruitmen. Akhirnya pada melayang dan sempoyongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbukaan berikutnya adalah akses buat grass root dan wong cilik terutama kader kita sendiri untuk bisa turut mencicipi berbagai fasilitas yang sudah kita miliki, Seperti sekolah terpadu, lembaga keuangan, fasilitas diklat, mobil, villa dan sebagainya, sekali lagi sekedar bisa mencicipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis sekaligus miris kalau sekolah-sekolah terpadu masih "tertutup" buat kader-kader Dhu'afa. Menyedihkan kalau ada panitia pelatihan kesulitan cari mobil karena kekurangan dana, sementara banyak mobil parkir seharian di SDIT, SMPIT dan IT-IT yang lain, sementara sang sopir main catur atau karambol sambil menunggu anak boss pulang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dikasihani juga kalau ada pelatihan disebuah villa sederhana dg jumlah pesarta 150 orang, Cuma ada dua Kamar Mandi, karena tidak cukup dana untuk sewa yang lebih dari itu. Jangankan mandi buang air saja ada yang ditahan, atau pagi-pagi pergi kesungai. Sementara mereka melihat dengan google nun jauh disana, hotel tempat Al-Mukarromuun sedang bermusyawarah. Pikiran saya menerawang seandainya biayanya untuk beli cendol maka cukup untuk menutup danau toba, atau membeli kerupuk maka monas keurug habis. (maaf ini bukan mendramatisir), sampai dengan tulisan ini dibuat masih ada pelatihan-pelatihan yang sarananya sangat minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbukaan berikutnya adalah akses informasi sumber dana bagi kader-kader barisan terdepan yang sering jungkir balik menyelenggarakan berbagai jenis pelatihan untuk rekruitmen terutama dilapisan bawah, baik itu remaja masjid, rohis sekolah dan kampus, dan lain-lain. Ada komentar yang sangat membuat dada sesak ketika saya coba perbincangkan tentang keadaan ini kepada salah seorang teman, dengan ringan teman saya menjawab "salahnya panitia tidak kreatif mencari dana" , tanpa bertanya lebih dahulu sudah sejauh mana usaha panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh kalau kita bisa keluarkan uang untuk sepanduk, baliho, stiker dan sejenisnya dengan jumlah yang aduhai sementara untuk membeli nasi bungkus ala warteg untuk peserta pelatihan panitia harus jungkir balik mencarinya. Ada keluarga yang begitu mudah dan seringnya keluar masuk supermarket, Mall, ITC hotel berbintang, sementara di pihak lain ada anak-anak aktivis yang kurang mampu tidak bisa masuk sekolah-sekolah terpadu bersama anak aktivis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlebihankah saya dalam mengungkapkan ..? bagi yang jarang naik angkot dan kereta jabodetabek, sementara pemantauan hanya berasal dari kertas-kertas laporan yang suasananya dibuat persaingan menjadi yang terbaik, kunjungan-kunjungannyapun dengan protokoler, membuat panitia ingin berpenampilan keren, Maka boleh jadi menganggap ungkapan saya berlebihan. Tapi bagi yang sama sama mau turun dari menara gading ke bawah, mau bergaul tanpa protokoler, boleh jadi ini hanya bagian kecil kepiluan yang baru dapat saya rekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah terlatih menjaga kebersihan hati dari sifat hasad, apalagi ketika melihat saudara kita punya fasilitas yang lebih, Alhamdulillah mudah-mudah kita turut menikmatinya. Kitapun percaya dengan taqdir bahwa Allah yang menetapkan rizki kepada seseorang berbeda-beda. Kita pun sudah terlatih untuk berqona'ah, menikmati apa yang sudah Allah SWT berikan kepada kita. Kalau ada saya yakin itu hanya kasus, tidak mungkin hanya karena itu membuat kita jadi gonjang-ganjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terjadi kesenjangan yang sangat mencolok, antara kehidupan beberapa saudara kita dengan program dan aktivitas yang menjadi prioritas dan ungulan kita sendiri, bahkan kita sebut sebagai ruuh jama'ah ini, terutama aktifitas rekruitmen dilapisan paling bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita persoalkan adalah berbagai jargon yang sering kita kumandangkan yaitu kata "Tarbiyah" dan "Dakwah", bahkan ini menjadi amanah munas nomor satu. Betulkah ini sudah menjadi kebijakan yang sistemik dan Integral sampai kebawah berikut dukungan kebijakan infra dan supra struktur sampai pada kebijakan anggaran dan pendanaannya..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari terbuka, lihat apa yang terjadi di kampus turun kebawah, lihat langsung, jangan pake protokoler, cari data second opinion..lihat pula aktivitas tarbiyah di lapisan bawah lainnya. Kalau masih tidak percaya maka saya serahkan sepenuh kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah hanya kepadamu saya mengadu dan saya meminta. Berilah petunjuk kepada kami agar kami mampu melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi dihadapan kami. Ya Allah berikan kami kemudahan untuk membaca realitas yang sesungguhnya dalam problem da'wah kami, sehingga kami bisa mengambil keputusan yang sebijak-bijaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Hancurkan dan singkirkan dari hadapan kami teori Karl Marx yang berpendapat bahwa "Agama adalah alat ekspoitasi dan penindasan, sementara tokoh agamanya adalah sebagai penghisap". Jauhkan teori itu dari aktivitas kami ya Allah.., sehingga da'wah kami menjadi Rahmatan lil 'Alamin, bisa menyentuh dan menyantuni semua lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah lembutkan hati kami, sehingga kami punya rasa sensitivitas terhadap berbagai gejala dan gejolak yang ada dihadapan kami, serta kami ingin punya kepekaan yang tinggi terhadap berbagai persoalan yang menimpa saudara-saudara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah berikan kekuatan kepada kami untuk dapat berbicara kepada siapapun yang kami hadapi tanpa rasa takut dan sungkan, hiasi pula kami dengan akhlaq yang baik sehingga kami tahu cara dan jalan yang beradab, serta saluran yang benar ketika kami ingin berbicara memberikan masukan dan saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.. Allaah tundukan serta jinakkan hati kami, perbaiki silaturahiim diantara kami, tunjukan kami jalan-jalan keselamatan, selamatkan kami dari tempat yang gelap ketempat yang penuh cahaya, singkirkan kami dari perbutan yang keji baik yang tampak atau yang tidak tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.. Allah berikan kepada kami keterampilan dalam melangkah, kecantikan dalam mengatur strategi, kejujuran dalam bersiasat, jauhkan kami dari trik-trik yang menimbulkan intrik, kasak-kasuk yang membuat busuk, lobi-lobi yang menjual harga diri kepada orang-orang yang Phoby, rekayasa yang membuat gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.. Allah Engkau Maha mengetahui apa yang dalam hati kami. Oleh karena itu ya Allah.. Luruskanlah orientasi hidup kami semata-mata ingin mencari RidhoMu. Bersihkan perjuangan kami ya Allah dari berbagai kotoran yang menjermuskan kami, berikan kekuatan kepada kami untuk tetap Istiqomah dalam menapaki jalan da'wah ini. Amiien ya Robbal 'Alamien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. 3:185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS. 2:204)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya! (QS. 6:32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (QS. 10:24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Abdullah Muadz&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-220884475543881576?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/220884475543881576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/220884475543881576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/d-e-s-o.html' title='D e s o'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-7049924119895254247</id><published>2008-03-03T23:24:00.000-08:00</published><updated>2008-03-03T23:31:36.772-08:00</updated><title type='text'>At-Taswiif</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Perjuangan untuk memperbaiki diri bukanlah pekerjaan yang mudah. Jalan yang harus ditempuh dalam perjuangan tersebut sangatlah penuh dengan ujian. Jalannya menanjak dan curam. Dihiasi dengan onak duri. Aral melintang senantiasa menanti di hadapan. Allah SWT berfirman dalam surat al-Balad ayat 10 – 11 mengenai jalan itu,: "dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi Dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar."&lt;br /&gt;Karena itulah, Allah SWT memuji setiap hamba-Nya yang berhasil menjaga kebersihan jiwanya. "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu."(Q.S. Asy-Syams ayat 9)&lt;br /&gt;Di antara penyakit hati (amraadhul quluub) yang menghalangi seseorang untuk memperbaiki dirinya adalah penyakit at-Taswiif. Penyakit ini sangat berbahaya, karena ia dapat menjangkiti siapa saja. Baik itu seseorang yang awam dengan agama, sampai seorang ustadz yang sangat mendalami pengetahuannya. Penyakit ini pula, jika menyebar dan menjangkiti sekelompok masyarakat maka ia akan menghambat kemajuan masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;Demikian berbahayanya penyakit ini, hingga seorang ulama salafus shalih yang bernama Syekh Hasan al-Basri, mengingatkan kita untuk senantiasa waspada terhadap penyakit ini. Sebagaimana diriwayatkan oleh muridnya Ibnu al-Mubarok (wafat 181 H) dalam kitabnya az-Zuhd. Beliau berkata, “Jauhilah dirimu dari taswif. Karena sesungguhnya engkau berada dengan harimu ini dan bukan dengan hari esokmu. Jika engkau diberi kesempatan untuk bernafas esok hari, maka jadikanlah hari esok itu sama seperti harimu ini. Karena jika hari esok tidak diperuntukkan bagimu, engkau tidak akan menyesal dengan hari yang kau lalui hari ini.”           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang dimaksud dengan taswiif ?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Taswiif berasal dari bahasa Arab, dari akar kata: sawwafa – yusawwifu – taswiifan yang semakna dengan kata maathoola – yumaathilu – mumaatholatan atau akhkhara – yuakhkhiru – ta'khiiraan, yang berarti : mengakhirkan, melambat-lambat atau menunda-nunda pekerjaan.&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Sayyid Muhammad Nuh, taswiif secara istilah berarti : suatu penyakit hati yang terdapat pada seorang muslim/ aktivis da’wah berupa mengakhirkan atau menunda suatu pekerjaan tertentu baik yang bersifat ibadah maupun muamalah, dalam skala fardi (perorangan) maupun jama’i (kelompok) yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja yang disebabkan karena sebab-sebab dan faktor-faktor tertentu.&lt;br /&gt;Dalam al-Qur'an kita memang tidak akan menjumpai kata taswiif ini secara spesifik. Namun, kata sawfa yang merupakan seakar dengan kata taswiif dapat kita temui hingga 42 kali.&lt;br /&gt;Sedangkan dalam hadits Rasulullah SAW kita akan menemui kata taswiif ini secara sepesifik dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Ashbahaany dari Tsabit bin Muhammad al-Kufy al-Abid, sebagaimana berikut :&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang menyesal adalah orang yang menunggu datangnya rahmat dari Allah. Sedangkan orang yang ujub (bangga) adalah orang menunggu kemurkaan Allah. Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya setiap orang yang beramal akan mempertanggung jawabkan atas amalnya, dan tidak akan keluar dari dunia hingga ia melihat kebaikan dan kejelekan  amalnya. Dan bahwasanya amal itu tergantung akhirnya. Siang dan malam berjalan cepat, maka berbuat baiklah dalam melalui keduanya menuju akhirat. Dan hindarilah taswif, karena sesungguhnya kematian itu datang secara tiba-tiba. Dan janganlah kalian terperdaya oleh ungkapan “kelembutan Allah”, karena surga dan neraka itu lebih dekat pada kalian dari pada tali sendalnya sendiri.”  Kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat “Maka barang siapa yang beramal kebaikan seberat biji sawi, pasti ia akan melihatnya, dan barang siapa yang beramal keburukan seberat biji sawi maka ia pasti akan melihatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Larangan menunda-menunda amal (taswiif).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyakit taswiif (menunda amal) adalah penyakit yang menghinggapi seseorang yang panjang angan-angannya dan menyangka kehidupannya masih akan berlangsung lama. Ia tidak menyadari jika ajal (habisnya usia) senantiasa mengincar kehidupannya setiap detik. Seseorang yang mengidap penyakit taswiif selalu merasa masih ada waktu untuk bertaubat, memperbaiki diri dan ber'amal. Padahal, siapakah yang dapat menjamin bahwa seseorang masih akan hidup esok hari ? Bahkan, tidak ada yang dapat menjamin apakah kita masih akan bernafas pada detik selanjutnya ! &lt;br /&gt;Untuk itu Allah SWT dan Rasul-Nya sering mengingatkan kita untuk tidak menunda-nunda 'amal (taswiif) melalui al-Qur'an dan as-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti dalam firman Allah SWT berikut ini :&lt;br /&gt;1.      Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 63:10)&lt;br /&gt;2.      (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.  (QS. 23:99-100)&lt;br /&gt;3.      Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS.89:21-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam al-Hadits, Rasulullah SAW sering menyuruh kita untuk bersegera dalam melakukan kebaikan, seperti dalam hadit berikut ini  :&lt;br /&gt;1.      Dari ibn Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda: “Raihlah lima kesempatan sebelum datangnya lima kesempitan. Masa mudamu sebelum datangnya masa tuamu, masa sehatmu sebelum datangnya masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datangnya waktu sempitmu dan masa hidupmu sebelum datangnya masa matimu. (Diriwayatkan oleh Imam al-Haakiim dalam al-Mustadrak)&lt;br /&gt;2.      Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : "Bersegeralah kalian melaksanakan  amal shaleh kerena tujuh hal :  (1) Apakah kalian hanya menanti kefakiran yang melupakan, (2)  atau kekayaan yang menyesatkan, (3) atau sakit yang merusakkan, (4) atau ketuaan yang melemahkan, (5)  atau kematian  yang mendadak, (6) atau Dajjal, yang merupakan seburuk-buruk hal ghaib yang akan datang, (7) ataukah hari kiamat, sedang hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyebab Taswiif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;DR. Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan beberapa penyebab munculnya penyakit taswiif, diantaranya adalah :&lt;br /&gt;1.      Lingkungan keluarga yang biasa melakukan taswiif&lt;br /&gt;Keluarga adalah sekolah kita yang pertama (madrasatul uulaa). Orang tua yang terbiasa taswiif akan mempengaruhi seluruh anggota keluarganya untuk juga melakukan hal yang sama. Untuk itu Rasulullah SAW senantiasa menganjurkan untuk bersikap memenuhi janji dan tidak berdusta kepada anak. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa suatu ketika Abdullah ibn Amir dipanggil oleh ibunya. Dan Rasulullah SAW sedang duduk-duduk di rumah mereka. Lalu sang ibu berkata, kesinilah nak, aku beri kamu sesuatu. Pada saat itu, Rasulullah SAW berkata, “apa yang akan kamu berikan padanya?”, Ibunya menjawab, “korma.” Kemudian Rasulullah SAW mengatakan, “Sekiranya kamu tidak memberikannya sesuatu, maka kamu akan dinilai mendapatkan kedustaan di mata Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Bersahabat dengan orang-orang malas dan berpenyakit (taswiif)&lt;br /&gt;Lingkungan pergaulan dan persahabatan kita akan sangat mempengaruhi diri kita. Rasulullah saw bersabda, "Jika engkau ingin mengetahui keperibadian seseorang lihatlah siapa saja temannya."&lt;br /&gt;3.      Lemahnya semangat dan besarnya keinginan untuk santai dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;Untuk itu Rasulullah SAW mengajarkan untuk selalu mendawamkan (membiasakan) do'a untuk menghindari rasa malas, sebagai berikut : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari jeratan hutang dan penindasan orang lain. (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud)&lt;br /&gt;4.      Tingginya angan-angan dan lupa akan kematian serta kampung akhirat.&lt;br /&gt;Padahal tidak ada yang pasti melebihi kepastian akan datangnya kematian. Imam Ali ibn Abi Thalib ra berkata, "Sungguh aku heran melihat seseorang yang mengejar sesuatu yang tidak pasti. Dan tidak ada yang sangat tidak pasti selain kehidupan. Aku pun heran melihat seseorang melupakan kepastian. Dan tidak ada yang sangat pasti selain kematian."&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Q.S. Alii Imran ayat 185)  &lt;br /&gt;5.      Menganggap remeh dosa-dosa.&lt;br /&gt;Dari Abdullah ibn Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min melihat dosa-dosanya seperti seolah-olah ia duduk di atas sebuah gunung, dan  ia takut jatuh kedalamnya. Dan orang fajir (banyak dosanya) melihat dosanya seperti lalat yang berlalu di atas hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akibat dari penyakit taswiif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat akibat taswif adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.      Dalam skala fardi (pribadi).&lt;br /&gt;·        Penyesalan dan kesedihan, pada waktu tiada bermanfaatnya hal tersebut. Karena seseorang yang taswif secara langsung atau tidak, telah melanggar larangan dan perintah Allah, kemudian ia selalu menunda-nunda taubat. Hingga ketika ambang kematian telah berada di pelupuk mata, ia menyesal dan sedih. Namun apakah ada manfaatnya ketika sakratul maut telah tiba untuk bersedih?&lt;br /&gt;·        Bertumpuk-tumpuknya dosa dan sulit untuk bertaubat. Karena taswif merupakan jembatan bagi manusia untuk menumpuk-numpuk dosa. Ketika dosa telah bertumpuk, hatipun hitam. Dan jika hati menghitam, maka taubatpun akan sulit dilakukan.&lt;br /&gt;·        Bertumpuk-tumpuknya pekerjaan, dan kesulitan untuk menunaikannya. Semakin ia menunda-nunda, maka semakin banyak   pula   pekerjaan   yang  mengintainya.  Dan  semakin  lama  justru semakin menyulitkannya, serta akhirnya menyebabkan pekerjaannya terbengkalai.&lt;br /&gt;2.      Dalam skala jama’i (kelompok/masyarakat).&lt;br /&gt;·        Menghambat proses perjalanan amal Islami. Karena dapat dibayangkan, ketika para aktivis da’wah berpenyakit taswif, yang selalu menunda-nunda dan mengulur-ulur waktu untuk melakukan program kerja da’wah, dapat dipastikan bahwa proses perjalanan da’wah akan terhambat. Apalagi taswif ini menurut Dr. Sayid Muhamad Nuh juga menyebabkan hilangnya kewibawaan, baik dalam skala fardi maupun jama’i. Dan tidak dapat dibayangkan manakala gerbong da’wah sudah kehilangan kewibawaannya di hadapan umatnya sendiri, karena jika telah demikian apalagi yang akan diharapkannya?&lt;br /&gt;·        Tidak mendapatkan nasrullah (pertolongan Allah). Karena pertolongan Allah hanya bersama orang-orang yang tidak melanggar hukum Allah. Adapun taswif, sedikit banyak melanggar hukum Allah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Inilah sebagian akibat yang ditimbulkan oleh taswif. Benar-benar merupakan kerugian dunia dan akhirat. Di mata Allah penyakit ini tercela, sementara di mata manusia, pengidapnya akan kehilangan kewibawaan, kepercayaan dan kejayaan. Karena yang terakhir disebut ini sangat terkait dengan adanya nasrullah. Ketika nasrullah tidak turun, maka dengan apalagi manusia berharap? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun segalanya belum terlambat. Masih ada nafas dalam jiwa kita yang memberikan secercah sinar untuk menggapai ridho dan rahmatnya dengan memperbaiki diri dari taswif ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; Wallahu a'lam bish showwab&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-7049924119895254247?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/feeds/7049924119895254247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4646716895907754186&amp;postID=7049924119895254247&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/7049924119895254247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/7049924119895254247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/03/at-taswiif.html' title='At-Taswiif'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-1860187215306722208</id><published>2008-01-28T18:21:00.000-08:00</published><updated>2008-01-28T18:31:50.352-08:00</updated><title type='text'>Memaafkan Tanpa Melupakan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (Al-Qur'an, Surat al-A'raf ayat 199)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari Ahad kemarin, perhatian seluruh rakyat Indonesia tertuju kepada satu berita yang mengejutkan. Wafatnya HM. Soeharto. Seseorang yang pernah memimpin Republik Indonesia paling lama dalam sejarah. Seseorang yang diakui oleh semua fihak sebagai orang yang banyak berjasa dalam memimpin negeri ini. Beliaulah, pemimpin yang mampu mengangkat negeri ini dari keterpurukan ekonomi di akhir tahun 60-an, setelah krisis politik berkepanjangan di masa orde lama. Beliau pula pemimpin yang mampu untuk menghadirkan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan, yang dulu kita kenal dengan istilah Repelita (rencana pembangunan lima tahun). Di bawah kepemimpinannya, rakyat Indonesia pernah mengalami swasembada pangan, sehingga harga pangan demikian terjangkau. Infrastruktur jalan raya, listrik dan telekomunikasi juga banyak dibangun pada masa kepemimpinan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, selain hal-hal manis tersebut, kita pun mengenang masa-masa kelam yang pernah dialami, khususnya oleh umat Islam, di masa kepemimpinan beliau. Umat Islam yang awalnya dirangkul saat membubarkan PKI, kemudian dijauhi dan dipinggirkan. Dimulai dari pelarangan pembentukan kembali salah satu Partai Islam terbesar di negeri ini yaitu Masyumi, hingga pelabelan ekstrim kanan (eka) dan tindakan represif bagi kelompok Islam yang tidak setuju dengan kebijakannya. Karena itulah, kita mencatat peristiwa-peristiwa kelam yang pernah terjadi saat itu. Mulai dari kasus aliran kepercayaan, pelarangan jilbab, isu asas tunggal, hingga peristiwa pembantaian di Tanjung Priok dan Talangsari (Lampung). Demikian represifnya rezim orde baru, bahkan untuk sekedar menyelenggarakan pengajian pun sungguh sangat sulit di masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, menjelang hari-hari terakhir Pak Harto, kita menyaksikan tokoh-tokoh Islam yang mewakili umat Islam yang pernah disakiti oleh kebijakan beliau, berulang-ulang kali mengungkapkan pemaafan atas kesalahan Pak Harto. Bahkan, tak hanya itu, tokoh-tokoh Islam itu pun meminta seluruh masyarakat untuk mendo'akan dan memaafkan Pak Harto. Sebuah sikap yang bijaksana dan mencerminkan keluhuran akhlaq Islam. Islam memang mengajarkan keutamaan memberikan maaf dibadingkan meminta maaf. Dalam al-Qur'an, Allah subhanahu wa ta'ala mengungkapkan diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah kemampuan untuk memberikan maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Yang bertaqwa itu adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan yang mampu menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (Al-Qur'an, Surat Ali Imran ayat 134)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam as-Sunnah pun, kita dapat menyaksikan begitu banyak contoh pemaafnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Salah satunya, seperti saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berhasil menaklukkan kota Mekkah &lt;em&gt;(fathu Makkah).&lt;/em&gt; Sebagai seseorang yang pernah disakiti, disiksa dan diperangi oleh penduduk Mekkah hingga akhirnya terusir dari kampung halamannya, secara manusiawi sebenarnya layak saja jika Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt; membalas perbuatan penduduk Mekkah tersebut. Namun, alih-alih membalas, saat datang kembali ke kota Mekkah sebagai penguasa, Nabi Muhammad &lt;em&gt;shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt; malah memberikan pengampunan massal. Seraya bersabda, "&lt;em&gt;Idzhabuu, fa antumut thulaqqa&lt;/em&gt; (Silahkan pergi sesuka hati, kalian adalah orang-orang yang merdeka)". (Kitab Sunan Kubra al-Bayhaqi juz 9 hal. 118 dan kitab Ma'rifatus sunan wal atsar lil Bayhaqi juz 14 hal. 417) Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengungkapkan hari agresi militer-nya ke kota Makkah bukan sebagai hari pertumpahan darah, namun sebagai "&lt;em&gt;yaumur rahmah"&lt;/em&gt; (hari kasih sayang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, jika terhadap penduduk Mekkah yang belum menjadi muslim saja begitu besar maaf yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tunjukkan, maka mengapa kita tidak dapat memaafkan kesalahan Pak Harto yang hingga akhir hayatnya masih menyatakan diri sebagai seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun tentu saja, pemaafan yang diberikan bukan berarti kita boleh melupakan seluruh sejarah yang pernah terjadi di masa kepemimpinan beliau. Umat Islam hendaknya tidak menjadi umat yang pendek memori kesejarahannya. Kaum muslimin selayaknya adalah kaum yang sadar sejarah, karena al-Qur'an telah berulang kali mengingatkan kepada kita pentingnya pemahaman sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Maka Kami jadikan yang demikian itu (peristiwa sejarah) sebagai peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (Al-Qur'an, surat al-Baqarah ayat 66). &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (Al-Qur'an, surat Yusuf ayat 111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hal-hal yang dapat dijadikan&lt;em&gt; 'ibrah&lt;/em&gt; (pelajaran) dari sejarah kekuasaan orde baru adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Betapa buruknya jika syahwat kekuasaan sudah tertanam dalam diri manusia. Karena syahwat kekuasaan inilah rezim orde baru dapat berkuasa selama 32 tahun di Indonesia. Juga, karena syahwat kekuasaan ini pula rezim orde baru menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Untuk itulah &lt;em&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt; mengingatkan kepada kita bahayanya terlalu obsesif terhadap kekuasaan. Beliau &lt;em&gt;shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, "Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba untuk berkuasa, padahal ia adalah penyesalan di hari kiamat." (Shahih Bukhari juz 22 hal. 59 no. 6615)&lt;br /&gt;2. Pentingnya pengawasan dan kritik dalam kepemimpinan. Saat seorang pemimpin tidak mau dikritik dan dinasehati maka yang muncul berikutnya adalah lupa diri yang bermuara pada kesewenang-wenangan. Karena itulah Umar Ibn Khattab &lt;em&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/em&gt; pernah berkata, "Semoga Allah &lt;em&gt;subhanahu wa ta'ala&lt;/em&gt; merahmati orang yang menghadiahkan aibku kepadaku."&lt;br /&gt;3. Bahwa kepemimpinan hendaknya digunakan bukan saja untuk melindungi kebutuhan fisik rakyat, namun juga kebutuhan psikisnya. Melindungi rakyat dari ketakutan dan kesedihan. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, "Siapa saja yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengurusi umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan kedukaan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan dan kemiskinannya di hari kiamat." (Sunan Abi Dawud, juz 8 hal.177 no. 2559)&lt;br /&gt;4. Pentingnya pula menjaga jarak antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi (ataupun keluarga) dalam kekuasaan. Tidak layak bagi seorang pemimpin jika ia menggunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadi maupun keluarganya. Sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Amirul mu'minin Umar Ibn Khattab &lt;em&gt;radhiyallahu 'anhu&lt;/em&gt; yang mematikan lampu ruang kerjanya saat putranya datang untuk membicarakan masalah keluarga. Saat putranya bertanya, mengapa Umar melakukan itu, Umar menjawab tegas, "Minyak lampu ini dibeli dengan uang rakyat, untuk itu kita tak layak berbicara tentang keluarga dengan diterangi lampu yang dibeli oleh uang rakyat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita semua dapat memaafkan kesalahan-kesalahan Bapak H.M Soeharto. Mendo'akan kebaikan baginya sebagai seorang hamba Allah. Namun, tidak melupakan kekurangan yang pernah dilakukannya, agar sejarah masa lalu tidak terulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a'lam bish showwab&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Muhammad Setiawan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-1860187215306722208?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/feeds/1860187215306722208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4646716895907754186&amp;postID=1860187215306722208&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/1860187215306722208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/1860187215306722208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/01/memaafkan-tanpa-melupakan.html' title='Memaafkan Tanpa Melupakan'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-853226481698780848</id><published>2008-01-25T02:47:00.000-08:00</published><updated>2008-01-25T02:59:28.028-08:00</updated><title type='text'>Apa Obsesimu ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bukan karena terinspirasi dengan "tag line" sebuah iklan. Atau, ingin membantu mempopulerkan (apalagi produknya) iklan tersebut. Namun, masalah obsesi sesungguhnya memang adalah hal yang sangat penting. Obsesi yang berarti keinginan kuat, adalah hal yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat lebih gigih dan keras. Para ahli manajemen sumber daya manusia menyebut obsesi ini sebagai motivasi intrinsik. Motivasi yang berasal dari dalam jiwa manusia yang menuntunnya untuk tetap melangkah. Karena obsesi tersebutlah, seseorang rela untuk meniti hari-hatinya dengan penuh peluh. Seseorang rela untuk melintasi gunung, seberangi hutan dan arungi lautan demi mengejar obsesinya tersebut. Untuk itu, kesalahan dalam menentukan obsesi akan menentukan kesalahan seluruh langkah yang akan dibuat. Karena pentingnya makna obsesi itulah, Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam yang mulia memberikan panduan untuk kita dalam menentukan obsesi hidup.&lt;br /&gt;Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullahu ta'ala dari sahabat Utsman Ibn Affan radhiyallahu 'anhu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;"Barangsiapa yang akhirat menjadi obsesinya, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan melancarkan semua urusannya, menjadikan hatinya terasa kaya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa yang dunia menjadi obsesinya, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan mengacaukan semua urusannya, menjadikan hatinya miskin, dan dunia akan datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan kepadanya." (Sunan Ibnu Majah, no. 4095)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas, Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam menjelaskan kepada kita bahwa obsesi manusia secara umum terbagi atas dua hal. Obsesi akhirat dan obsesi dunia.&lt;br /&gt;Orang yang terobsesi dunia adalah orang yang menjadikan dunia dan hiasannya (jabatan, harta, popularitas ataupun kesenangan seksual) sebagai tujuan-tujuan hidupnya. Ia termotivasi untuk melakukan sesuatu jika diimingi-imingi dengan "bunga-bunga" dunia tersebut. Ia bergerak hanya untuk mencari dunia. Ia lupa bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah sementara. Sebuah terminal atau pemberhentian sementara dalam perjalanan panjang ke kampung keabadian. Sebagai sabda Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam yang mulia ; &lt;em&gt;"Jadilah kalian di dunia ini sebagai orang asing atau pengembara" (Shahih Bukhari no. 5937).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika seseorang hanya bergerak karena alasan dunia, maka Allah subhanahu wa ta'ala akan menjadikan kecintaan terhadap akhirat keluar dari dalam hatinya. Sebagaimana ungkapan seorang salafus shalih bernama Malik Ibn Dinar rahimahullahu ta'ala, "Demi Allah, dua hal tidak akan pernah bertemu dalam hati seorang manusia, yaitu sedih karena akhirat dan bahagia karena dunia. Salah satu dari keduanya harus mengusir yang lainnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan seseorang demikian terobsesi terhadap dunia.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya. Orang yang terobsesi terhadap lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat. Mereka menyangka bahwa kehidupan ini akan berakhir begitu saja setelah nyawa tercabut dari tubuh. Karena itulah ia menghabiskan waktu-waktu hidupnya hanya untuk bekerja mencari dunia dan bersenang-senang. Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan karakteristik mereka dalam ayat-Nya : &lt;em&gt;"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (Qur'an surat al-Jatsiyah ayat 24).&lt;/em&gt; Dikisahkan, Imam Hasan al-Bashri rahimahullahu ta'ala pernah berjalan melewati orang-orang yang sedang tertawa. Lalu Hasan al-Bashri bertanya kepada orang itu, "Saudaraku, apakah engkau pernah melewati titian akhirat (sirath) ?" Orang itu menjawab, "Belum." Lalu, Hasan al-Bashri bertanya kembali, "Kalau begitu, kenapa engkau tertawa seperti ini, padahal hari-hari kelak amatlah sulit ?"&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;ambisi terhadap jabatan. Mereka yang ambisius terhadap jabatan dan kekuasaan akan menghabiskan seluruh kehidupannya untuk mencapainya. Bahkan tak jarang menghalalkan segala cara agar mampu berkuasa. Abu Ja'far al-Mihwalli, seorang salafus shalih, mengungkapkan, "Seseorang yang memiliki jabatan haram baginya merasakan kenikmatan akhirat."&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ketiga, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;tertipu dengan kesehatan. Orang-orang yang tertipu dengan kebugaran fisiknya seringkali merasa bahwa kematian masih sangat jauh darinya. Ia mengira bahwa kematian hanya menghampiri orang-orang yang sakit atau telah tua. Padahal kematian akan menghampirinya tanpa diduga.&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,&lt;em&gt; "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya." (Qur'an surat Qaf ayat 19).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang terobesesi terhadap dunia, maka Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah menyediakan tiga "hadiah" bagi mereka. Pertama, Allah akan menjadikan semua urusannya kacau. Sehingga hidupnya akan terasa sempit dan sesak. Yang kedua, Allah subhanahu wa ta'ala juga akan menjadikan dirinya senantiasa kekurangan. Sehingga ia akan terus haus terhadap dunia. Layaknya seseorang yang meminum air laut, bukannya kesegaran yang ia raih namun dahaga yang tak habis-habisnya. Merekalah sesungguhnya orang-orang yang miskin. Dan yang terakhir, Allah subhanahu wa ta'ala akan memberikan kepada mereka sebatas apa yang telah ditakdirkan kepada mereka. Tak lebih. Padahal kebutuhan-kebutuhan hidup mereka Allah akan tambah terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, bagi orang-orang yang terobsesi terhadap akhirat, Allah akan anugerahkan kepada mereka tiga kenikmatan. Pertama adalah, Allah akan mempermudah semua urusannya. Sebagaimana ungkapan Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Apabila Aku (Allah subhanahu wa ta'ala) telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Apabila ia meminta kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Dan apabila ia berlindung kepada-Ku, aku akan menjaganya." (Shahih Bukhari, no. 6021). Anugerah kedua bagi orang-orang yang terobsesi kepada akhirat adalah, Allah akan menjadikan hatinya kaya. Allah cukupkan segala urusannya, sehingga ia mampu untuk berbagi dengan sesama. Dan yang terakhir, Allah subhanahu wa ta'ala akan mendatangkan dunia kepadanya sambil menunduk. Kehidupan dunianya dipermudah oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Allah memberikan rezki kepadanya, tanpa batas. "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikan rezki kepada tanpa diduga dan terhitung." (Qur'an surat at-Thalaq ayat 2 – 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu beruntunglah, orang-orang yang obsesi hidupnya kepada akhirat. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana karakteristik mereka ?   Sekurangnya, ada tiga hal yang menjadi karakter manusia pengobsesi akhirat. Pertama, mereka adalah orang yang ikhlas. Lurus ber-Tauhid. Hanya bergerak untuk dan karena Allah semata. Mereka bekerja bukan semata-mata karena mencari nafkah, namun jauh daripada itu karena sadar bahwa bekerja adalah beribadah. Bahkan seluruh aktifitas hidup dan tarikan nafasnya adalah ibadah. Kedua, pengobsesi akhirat adalah pengagum Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam. Menjadikan Muhammad shallaLlahu 'alayhi wasallam sebagai contoh dalam hidupnya. Berjalan sesuai dengan sunnah-nya. Ketiga, para pengobsesi akhirat adalah orang-orang yang memiliki semangat berbagi yang tinggi. Ia sadar bahwa ia tidak hanya hidup bagi dirinya sendiri, namun juga harus memberi manfaat bagi sebanyak mungkin manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wasallam, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain." Atau, ungkapan seorang pejuang Islam di Mesir, Sayyid Quthb rahimahullahu ta'ala, "Orang kerdil adalah orang yang hidup untuk dirinya sendiri dan mati untuk dirinya sendiri. Sedangkan, orang besar adalah orang yang hidup untuk orang lain dan mati untuk orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa obsesimu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a'lam bis showwab&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Setiawan&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:muhammadsetiawan@yahoo.com"&gt;muhammadsetiawan@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-853226481698780848?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/feeds/853226481698780848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4646716895907754186&amp;postID=853226481698780848&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/853226481698780848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/853226481698780848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/01/apa-obsesimu.html' title='Apa Obsesimu ?'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-7615630860538313700</id><published>2008-01-25T02:19:00.001-08:00</published><updated>2008-01-25T02:19:55.870-08:00</updated><title type='text'>oase jiwa</title><content type='html'>&lt;!-- Start of StatCounter Code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;var sc_project=3366146; &lt;br /&gt;var sc_invisible=0; &lt;br /&gt;var sc_partition=37; &lt;br /&gt;var sc_security="39bb2252"; &lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://www.statcounter.com/counter/counter_xhtml.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;noscript&gt;&lt;div class="statcounter"&gt;&lt;a class="statcounter" href="http://www.statcounter.com/"&gt;&lt;img class="statcounter" src="http://c38.statcounter.com/3366146/0/39bb2252/0/" alt="free hit counter" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/noscript&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End of StatCounter Code --&gt;&lt;img style="visibility:hidden;width:0px;height:0px;" border=0 width=0 height=0 src="http://counters.gigya.com/wildfire/CIMP/Jmx*PTEyMDEyNTYyMjExMTkmcHQ9MTIwMTI1NjM3MzU5MSZwPVN*YXRDb3VudGVyJmQ9Jm49YmxvZ2dlciZmPWI=.jpg" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-7615630860538313700?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/feeds/7615630860538313700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4646716895907754186&amp;postID=7615630860538313700&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/7615630860538313700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/7615630860538313700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/01/oase-jiwa.html' title='oase jiwa'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4646716895907754186.post-7194679015305534918</id><published>2008-01-25T01:55:00.000-08:00</published><updated>2008-01-25T02:09:55.416-08:00</updated><title type='text'>Muqaddimah</title><content type='html'>Sesungguhnya kadar setiap masalah kita tergantung seberapa subur keimanan yang kita miliki. Saat jiwa kita subur dan iman kita besar, maka sebesar apapun masalah hidup, akan terasa ringan diemban. Sebaliknya saat jiwa terasa kering dan keimanan kerdil, maka sekecil apapun masalah hidup kita akan terasa berat dan sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah saat Rasulullah&lt;em&gt; shallaLlahu alayhi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda : "Demikian menakjubkan kondisi setiap manusia yang beriman. Tak ada sesuatu apapun yang tidak menjadi kebaikan baginya. Jika ia diuji dengan kesenangan maka ia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan jika ia diuji dengan kesulitan dia bersabar, padahal sabar itu pun baik untuknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sahabat. Tak ada jalan lain untuk menyubur keimanan kita kecuali membersihkan jiwa &lt;em&gt;(tazkiyyatun nafs).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Qad aflaha man tazakka ...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4646716895907754186-7194679015305534918?l=tazkiyyatunnafs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/feeds/7194679015305534918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4646716895907754186&amp;postID=7194679015305534918&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/7194679015305534918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4646716895907754186/posts/default/7194679015305534918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tazkiyyatunnafs.blogspot.com/2008/01/muqaddimah.html' title='Muqaddimah'/><author><name>Muhammad Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14923290689875236193</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_29lXCJrf9dw/Spa9LoMXPBI/AAAAAAAAAAg/2VXhOecYiBQ/S220/menolak+tunduk2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
