oase jiwa

Hanya dalam KEBENARAN jiwa akan tenang

Foto Saya
Nama:
Lokasi: citeureup, kab. bogor, jawa barat, Indonesia

Saya adalah hamba Allah yang terus berupaya memperbaiki dirinya. Tinggal di Citeureup Bogor. Mencari nafkah lewat berdagang buku, madu dan beragam obat herbal. Mencari pahala dengan mengajarkan bahasa Arab dan al-Qur'an di rumahnya. Mencari berkah dengan terus berusaha menjadi insan yang bermanfa'at bagi banyak orang. Semoga menjadi jalan terbaik untuk pulang ke kampung akhirat.

Minggu, 04 Januari 2009

Muharram Muram di Gaza

Jum’at ini adalah Jum’at pertama di awal tahun baru 1430 H. Jum’at pertama yang semestinya kita syukuri. Karena dengan bertambahnya tahun di alaf 15 hijriah ini, bertambah pula optimisme kita bahwa kebangkitan Islam akan muncul di hadapan mata. Namun, di tengah kegembiraan kita menyambut tahun baru hijriyah ini, terdengarlah kabar yang menyesakkan dada. Palestina kembali berdarah.

Jalur Gaza, setelah diisolir setahun terakhir ini, pekan lalu dibombardir oleh pasukan Israel. Puluhan pesawat tempur tercanggih milik Israel, menghujani tanah Gaza dengan bom berton-ton. Bom yang mendarat ke rumah-rumah warga sipil, universitas Gaza, penjara, kantor polisi, bahkan rumah sakit dan juga beberapa instansi sipil lainnya. Tidak ada satu gram pun yang jatuh ke instansi militer !

Padahal, Israel mengklaim serangan ini dilancarkan untuk membalas serangan roket yang diluncurkan oleh HAMAS. Sebuah klaim yang dilansir Israel ke seluruh media massa dunia, dan di-iya-kan begitu saja oleh media massa Indonesia. Sebuah klaim yang menurut Duta Besar Mehdawi (Dubes Palestina untuk Indonesia) adalah bohong besar. Karena, HAMAS tidak pernah sekalipun meluncurkan roketnya ke Israel. Militer Israel, menurut beliau, dengan sengaja melakukan genosida (pembantaian massal) kepada rakyat sipil tanpa alasan yang logis (wawancara TVOne, Apa Kabar Indonesia Malam, 29/12/’08 pukul 21.45).

Yang lebih memprihatinkan pula, pemerintah Mesir yang berbatasan langsung dengan Gaza, menutup perbatasannya. Hingga, terjepitlah masyarakat Gaza. Tak bisa keluar dari serangan udara Israel, karena jalan keluarnya ditutup oleh negeri “muslim” tetangganya, Mesir. Selidik punya selidik, ternyata Israel telah bersekongkol sebelumnya dengan Mesir untuk menjepit posisi Gaza dalam serangan ini. Inilah pengkhianatan terbesar yang telah dilakukan pemerintah Mesir kepada saudara-saudaranya sendiri sesama muslim dan bangsa Arab di Gaza (www.eramuslim.com, 29 Desember 2008).

Akibatnya, adalah tragedi yang memilukan. Tiga ratus dua puluh orang warga sipil Gaza tewas. Seribu orang lebih terluka parah. Serta, ratusan rumah warga dan bangunan sipil lainnya rata dengan tanah. Demikian informasi terakhir hingga tulisan ini disusun (Apa Kabar Indonesia Malam, TVOne, 29/12/’08).

Setelah itu, kecamanpun datang dari seluruh dunia. Beberapa pemimpin-pemimpin negara dunia mengutuk serangan Israel tersebut. Termasuk dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, kecaman dan kutukan tidak pernah membuat Israel gentar. Bahkan, hari ini dikabarkan, Israel sudah menyiapkan pasukan darat (lengkap dengan tank militer tercanggihnya) untuk menyerbu masuk ke jalur Gaza.

Kepedulian Kita
Seringkali, jika masyarakat muslim di Indonesia diajak memikirkan nasib bangsa Palestina, muncul ungkapan, “Mengapa sih kita harus memikirkan mereka ?”. “Bukankah, permasalahan dalam negeri kita masih banyak ... ? Pengangguran di mana-mana, kemiskinan, kebodohan, hingga masalah Pemilu 2009, bukankah itu harusnya lebih penting kita fikirkan, dari pada masalah Palestina di ujung dunia sana ... ?” Demikian biasanya ungkapan sebagian masyarakat Indonesia saat diajak berbicara tentang Palestina.

Memang, permasalahan dalam negeri kita sangat banyak. Namun, tidakkah kita menyadari, bahwa sesungguhnya permasalahan dalam negeri kita --yang sangat banyak itu-- amat dipengaruhi oleh masalah yang terjadi di luar negeri. Sejatinya, hari ini kita seperti hidup dalam satu kampung yang besar. Dimana satu rumah tangga dengan yang lainnya saling berhubungan.

Saat terjadi krisis BBM di negeri kita, dan semua harga barang melonjak naik, tidakkah kita menyadari bahwa itu akibat serangan Amerika ke Irak dan Afganistan... ? Saat harga BBM berkali-kali juga turun di negeri ini dan ramai-ramai pabrik di negeri ini gulung tikar, tidakkah pula kita menyadari bahwa itu akibat ekonomi Amerika yang kolaps setelah gagal di Irak ..? Jadi, tidak ada satu kejadian pun di luar sana yang tidak berpengaruh dengan kondisi di dalam negeri kita.

Apalagi, kali ini masalah Palestina. Seluruh pengamat dan peneliti masalah Internasional sepakat, bahwa akar dari seluruh konflik Internasional di dunia ini adalah Palestina. Seluruh peperangan yang terjadi selama satu abad terakhir ini, jika ditarik benang merahnya, berasal dari masalah penjajahan Israel kepada bangsa Palestina yang tidak kunjung selesai. Sehingga jika kita ingin meraih perdamaian dunia yang abadi, jalan keluar yang harus dtempuh mula-mula adalah, mengakhiri penjajahan Israel.

Itulah alasan secara geo-politik, mengapa kita harus peduli terhadap Palestina.

Alasan secara keagamaan, lebih jelas lagi. Bangsa Palestina adalah muslim. Dan setiap muslim adalah bersaudara. Tak peduli apa ras, suku dan bahasa mereka. Selama mereka muslim, mereka adalah saudara kita yang berhak mendapatkan hak-hak ukhuwwah (persaudaraan) dari kita. Karena bagi setiap muslim, keterikatan yang terbangun bukanlah karena keterikatan bangsa, suku, ras, kelompok, partai, ormas dan sejenisnya. Keterikatan kita adalah keterikatan aqidah.

Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min bagi mu’min yang lain seperti satu bangunan utuh. Satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” (Hadits shahih riwayat Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)

Sehingga, apa yang menimpa saudara kita yang lain, semestinya ikut pula kita rasakan. Bahkan, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam mengancam orang-orang yang tidak peduli dengan permasalahan kaum muslimin sebagai bukan bagian dari ummat Islam. (Hadits riwayat Imam al-Hakim dalam kitab al-mustadrok ala shohihayn)

Untuk itu, marilah kita renungkan baik-baik, bait-bait puisi yang pernah di tulis oleh Taufiq Ismail di tahun 1989. Saat gerakan Intifadhah mula-mula digaungkan oleh para pemuda Palestina. Semoga, puisi ini dapat membangkitkan semangat persaudaraan kita.

PALESTINA, BAGAIMANA BISA AKU MELUPAKANMU ?

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran di pekaranganku, memercikkan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.
Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat lipat sebesar saputangan lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka
Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatusepatu serdadu menginjak tumpuan kening kita semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi .......... air mataku,
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka — tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.
Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi
“Allahu Akbar!”
dan ... “Bebaskan Palestina”
Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara, membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat, Ahmad Yassin dan semua pejuang negeri anda, akupun berseru kepada khatib dan imam shalat jum’at sedunia, doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak di jalan-Nya, yang ditembaki dan kini dalam penjara lalu dengan kukuh kita bacalah
“La quwwata illa bi-Llah!”
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu.
Tanahku jauh, bila diukur kilometernya beribu-ribu. Tapi azan Masjidil Aqsha begitu merdu. Serasa terngiang-ngiang di telingaku.


Penutup
“....Yang mati ditikam sudah banyak, yang mati kena narkoba melimpah, yang mati kebut-kebutan kecelakaan lalulintas sudah banyak. Indonesia bertanya, siapa yang mati dengan seni kematian yang paling indah? Seni kematian yang paling baik adalah mati membela ajaran Allah, membela mereka yang tertindas dan teraniaya. Mungkin banyak yang ngeri dengan istilah tadi. Sekedar berjalan kaki dari HI kemari (ke depan kedubes AS) belum berarti apa-apa. Tetapi ini akan jadi sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Paletina. Tahukah saudara-saudara sekalian?! Di tengah derita mereka, hidup bertahun-tahun ditenda dan rumah-rumah darurat, ternyata saudara-sadara kita di Palestina masih sempat mengirimkan sumbangan untuk saudara-saudara kita di Aceh (korban gempa dan Tsunami) kemarin. Karena yang bisa memahami derita adalah orang yang sama –sama menderita, oleh karena itu walaupun kita tidak dalam derita seharusnya punya kepekaan, punya kepedulian dan punya hati yang halus dan lembut untuk bisa mendengar rintihan suara anak –anak di Palestina....”. (Pidato Ustadz Rahmat Abdullah Allahuyarham, saat aksi damai “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005)

Selanjutnya, marilah kita bacakan Qunut Nazilah dan do’a untuk saudara-saudara kita di Palestina. Kita bantu perjuangan mereka dengan apapun yang kita mampu. Dan berdo’alah, semoga tragedi ini menjadi awal kehancuran Israel (la’natuLlah alayhim) dan jalan bagi kemenangan ummat Islam. Sehingga adzan dapat kembali berkumandang di masjidil Aqsha dan kita dapat menunaikan shalat berjama’ah di sana. Di kiblat pertama ummat Islam. Amiin ...

WaLlahu a’lam bish showwab

Muhammad Setiawan
(021 946-75645)

Tegas dalam Aqidah

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Almasih putera Maryam", Padahal Almasih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
73. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.


Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melafalkan sebait do’a. Do’a yang biasa kita baca dalam sehari. Tujuh belas kali banyaknya. Dibaca dalam setiap raka’at sholat kita. Ihdinas shiroothol mustaqiim .... Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Shiroothol ladziina an’amta alayhim, ghayril maghdhuubi ‘alayhim wa ladh dhoolliin ... Jalan orang-orang yang Kau beri nikmat pada mereka, dan bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan bukanlah jalan orang-orang yang tersesat.

Dalam do’a yang rutin kita baca tersebut, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan hidayah (petunjuk) pada kita. Hidayah agar kita senantiasa berada dalam jalan mereka yang dianugerahi ni’mat dari Allah Ta’ala. Mereka yang diberi ni’mat itu dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat an-Nisaa ayat 69. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Para Nabi, shiddiqiin, syuhada dan orang-orang shalih, mereka itulah yang jalan hidupnya lurus. Mereka itulah orang-orang yang ikuti jejak hidupnya. Sebagaimana do’a kita, “Ihdinas shiroothol mustaqiim..”. Sebaliknya, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dipalingkan sejauh-jauhnya dari jalan hidup “al-maghdhuubi alayhim” dan kelompok “adh-dhoollin”. Siapakah kelompok “al-maghdhuubi alayhim” dan “adh-dhoollin” tersebut ? Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya (dan juga banyak mufassirin lain) menjelaskan bahwa al-maghdhuubi alayhim adalah orang-orang Yahudi. Sedangkan adh-dhoollin adalah orang-orang Nashrani. Sehingga seharusnya, setiap kali kita melantunkan do’a tersebut, setiap kali itu juga kita menegaskan wala’ (loyalitas/keterikatan) dan baro’ (penghindaran/berlepas diri) kita. Kita hanya loyal kepada kelompok “an’amta alayhim” yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Dan kita berlepas diri dan menjauh dari kelompok Yahudi dan Nashrani. Menjauh sejauh-jauhnya. Berlepas diri dari segala cara hidup dan keyakinan mereka.

Fatwa MUI 1981
Adalah sebuah fatwa Majelis Ulama Indonesia yang dikeluarkan pada tahun 1981. Fatwa yang sangat tegas dikeluarkan untuk melindungi aqidah ummat. Fatwa yang hingga hari ini tidak pernah dicabut. Fatwa yang menyebabkan Ketua Umum MUI saat itu, Buya Hamka rahimahuLlahu ta’ala, harus mengundurkan diri. Beliau mengundurkan diri karena terus dipaksa oleh rezim yang berkuasa saat itu untuk mencabut fatwa tersebut. Fatwa itu adalah Fatwa Haramnya Mengikuti Perayaaan Natal Bersama.

Sebagaimana kita ketahui, di masa itu rezim yang berkuasa sangat menggembar-gemborkan pentingnya toleransi antar umat beragama. Saking semangatnya mendorong semangat bertoleransi, hingga jika ada suatu perayaan hari besar agama tertentu, maka semua pegawai negeri dan pejabat diminta untuk hadir mengikuti acara tersebut.
Untuk itulah keluar Fatwa Majelis Ulama, tertanggal 1 Jumadil Awal 1401 / 7 Maret 1981 M. Isinya tegas, “Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.” Akibatnya, setelah keluar fatwa tersebut, banyak pejabat dan pegawai negeri muslim yang mangkir jika diminta menghadiri acara Natal. Dan itu membuat geram penguasa. Hingga Buya Hamka pun dipanggil oleh Soeharto. Dipaksa untuk mencabut fatwa itu kembali. Namun, beliau bergeming. Bagi Buya Hamka, urusan aqidah adalah urusan prinsip. Yang untuk itu, nyawa pun boleh menjadi taruhannya. Beliau pun mundur dari jabatan Ketua MUI. Dan hingga Buya wafat, Buya tetap bersikukuh dengan fatwa itu. Di masa-masa sulit itu, Buya sampai mengungkapkan, “Ulama hari ini ibarat kue bika. Dari atas ditekan, dari bawah dibakar.”

Inilah fatwa bersejarah, yang hari ini mulai sering dilupakan. Hingga mudah saja para pejabat muslim (bahkan “ulama”) melangkahkan kaki ke perayaan Natal.

Hukum Mengucapkan Selamat Natal
Beberapa tahun yang lalu, terbit sebuah buku yang berisi pendapat kontroversi. Buku berjudul, “Membumikan Al-Qur’an” itu menyebutkan, bahwa boleh saja mengucapkan selamat Natal kepada mereka yang merayakannya. Dalihnya adalah, penafsiran yang ganjil terhadap firman Allah Ta’ala dalam surat Maryam ayat 33. Allah Ta’ala berfirman, “(Berkata Isa alayhissalaam) dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".

Sang penulis buku, menjelaskan penafsirannya. “Tidaklah mengapa mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani. Karena hakikat mengucapkan selamat Natal adalah ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa alayhissalam. Bukankah Nabi Isa alayhissalam sendiri mengucapkan salam atas kelahirannya ?”, demikian ungkap sang penulis.
Cara penafsiran seperti ini kemudian dibantah oleh tim Pusat Konsultasi Syari’ah, yang terdiri 14 ahli syariah di negeri ini.

Berikut kutipannya, “ Ucapan salam sejahtera yang ada di dalam ayat itu merupakan ucapan bayi Nabi Isa as untuk menjawab cemoohan dan ejekan orang-orang yang memusuhi Maryam, ibunda Nabi Isa. Sama sekali tidak mengandung hukum tentang sunnah atau masyru’iyah untuk mengucapkan selamat sejahtera pada tiap ulang tahun kelahiran nabi Isa. Bahkan murid-murid nabi Isa (al-Hawariyyun) juga tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun atau selamat hari lahir kepada nabi mereka saat nabi Isa masih hidup. Apalagi setelah beliau diangkat ke langit. Sehingga kalaulah mengucapkan selamat itu menjadi dibolehkan, maka seharusnya para shahabat terdekat nabi Isa yang melakukannya. Tapi kita sama sekali tidak mendapat keterangan tentang itu. Bahkan Nabi Isa sendiri tidak pernah memintanya atau mensyariatkannya. Selain itu sebagaimana yang tertera dalam ayat itu, kalimat itu menunjukkan bahwa salam sejahtera pada kepada nabi Isa. Bukan pada hari kelahirannya dan bukan juga pada setiap ulang tahun kelahirannya. Ini dua hal yang sangat jauh berbeda. Bolehlah kita mengucapkan selamat natal bila bunyi ayatnya seperti ini, “Wahai umat Islam, bila pemeluk kristen merayakan natal, maka ucapkanlah : selamat natal ?” Tapi demi Allah SWT yang Maha Agung dan Maha Benar, tidak ada sama sekali ayat itu dalam Al-Quran Al-Karim, tidak juga dalam Injil, Taurat ataupun Zabur. Ayat Al-Quran Al-Karim itu hanya mengatakan bahwa pada hari lahirnya, meninggal dan dibangkitkan semoga dirinya selamat dan sejahtera. Bunyinya adalah, Salamun Alayya. Semoga aku selamat atau semoga Allah mensejahterakan atau menyelamatkan diriku. Bukan harinya yang sejahtera atau selamat. Dalam tafsir yang lurus disebutkan bahwa kalimat Selamat atasku yang dimaksud pada ayat itu adalah selamat dari gangguan syetan, yaitu pada tiga momentum : pada hari kelahiran, kematian dan kebangkitan kembali. Maksudnya bahwa syetan tidak bisa mengganggu nabi Isa as dan tidak bisa mencelakakannya terutama pada tiga momentum itu. Kalaulah salam itu ditafsirkan sebagai ungkapan atau ucapan salam maka mengirim salam, maka salam itu adalah salam kepada nabi Isa alaihis salam. Dan mengucapkan kepada para nabi dan rasul memang dibenarkan dan disyariatkan dalam syariah islam. Dan sebagai muslim, kita mengakui kenabian Isa as serta posisinya sebagai nabi dan rasul. Untuk itu kita juga disunnahkan untuk mengucapkan salam kepada diri beliau. Namun hal itu jelas jauh berbeda dengan memberi ucapan selamat natal kepada orang kafir. Karena kalangan nasrani itu melakukan kemusyrikan dengan menjadikan nabi Isa sebagai tuhan selain dari Allah SWT. Dan kemusyrikannya itu dirayakan dalam bentuk perayaan natal. Mereka dengan segala keyakinannya mengatakan bahwa pada tanggal 25 Desember itu “TUHAN telah lahir”. Ini adalah kemusyrikan yang nyata dan terang sekali. Dan mengucapkan selamat natal kepada mereka yang sedang merayakan kemusyrikan berarti ikut meredhai dan mendukung kemusyrikan itu sendiri. Karena itu sudah terlalu jelas perbedaannya antara bersalawat kepada nabi Isa sebagai nabi dengan menyembah nabi Isa atau menjadikannya sebagai tuhan. Sehingga hanya mereka yang agak rancu pikirannya saja yang memahami ayat ini sebagai ayat yang memerintahkan kita untuk mengucapkan selamat natal kepada orang kafir.” (Dikutip dari www.syariahonline.com).

Selain itu, mengucapkan selamat Natal kepada pemeluk Nasrani juga merupakan keharaman yang telah disepakati oleh seluruh ulama (ijma’).Hal ini sebagaimana dinukil dari Ibn al-Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkâm Ahl adz-Dzimmah” (Lihat kitab, Majmû’ Fatâwa Fadlîlah asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, Jld.III, h.44-46, No.403)

Berkaca Kepada Dua Uswah.
Dalam al-Qur’an hanya dua orang Nabi dan Rasul yang disematkan kepada keduanya gelar uswah hasanah (suri tauladan yang baik). Nabiyullah pertama, adalah Rasulullah Muhammad shallaLlahu alayhi wa sallam (Q.S. Al-Ahzab ayat 21). Dan yang kedua, adalah Nabiyullah Ibrahim alayhissalaam (Q.S. Al- Mumtahanah ayat 4). Marilah kita perhatikan bagaimana sikap keduanya saat mempertahankan kemurnian Tauhid.
Dengarlah, sikap tegas Ibrahim alayhissalam kepada ayahandanya tercinta dan penduduk negerinya, "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Q.S. Al- Mumtahanah ayat 4)

Kenanglah pula sikap tegas Nabi Muhammad shallaLlahu alayhi wa sallam saat beliau diminta untuk meninggalkan da’wah Tauhid ini, dan ditawari tiga hal; kekuasaan, kekayaan dan pengobatan, oleh Utbah Ibn Rabiah, sang negosiator Quraisy. Yang semua tawaran tersebut beliau tolak mentah-mentah (lihat Sirah Ibnu Hisyam, juz 1 hal. 292). Padahal, jika beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menerima tawaran-tawaran itu, mungkin saja beliau shallaLlahu alayhi wa sallam bisa tetap berda’wah. Jika beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menerima tawaran menjadi penguasa, misalnya, bisa saja setelah berkuasa, beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menegakkan prinsip-prinsip Islam dalam pemerintahannya. Atau jika beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menerima tawaran harta, bisa saja beliau shallaLlahu alayhi wa sallam mengangkat kehidupan ekonomi masyarakat Arab yang miskin saat itu. Dan setelah mereka sejahtera, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bisa berda’wah dengan lebih leluasa.

Namun itu semua tidak beliau shallaLlahu alayhi wa sallam lakukan. Beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menolak dengan tegas segala tawaran kompromi terhadap da’wah Tauhid. Beliau shallaLlahu alayhi wa sallam malah menempuh jalan yang panjang dan berliku. Jalan non kompromi terhadap urusan Aqidah. Hingga akhirnya, harus disiksa, diboikot, diteror dan diusir dari negeri sendiri. Menderita hampir lebih dari 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Sikap yang diambil ‘ibroh (pelajarannya) oleh Sayyid Quthb rahimahuLlah dalam kitab Ma’alim fi Thoriq (edisi Indonesia: Petunjuk Jalan). Bahwa, agama ini tidak akan tegak jika diawali titik tolak kebangkitannya dari kekuasaan yang harus direngkuh atau kesejahteraan yang harus dikejar. Tetapi ia hanya bisa tegak, jika kalimah Tauhid Laa ilaha IllaLlah bersemayam dalam diri masyarakatnya. (Lihatlah, Bab II dari buku Ma’alim fi Thoriq tentang Wujud Metode Qur’ani)

Untuk itu, marilah kita berkaca kepada para Rasul dan Anbiyaa shallaLlahu alayhim. Jangan korbankan Aqidah kita hanya untuk kepentingan sesaat. Jangan mudah mengucapkan kalimat kekufuran (seperti, ucapan selamat Natal) hanya untuk meraih secuil kekuasaan duniawi. Tegaslah dalam urusan Aqidah. Karena ternyata, Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikan kekuasaan sejati pada kaum yang murni Aqidah-nya.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. (Syaratnya adalah) mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. An-Nuur ayat 55)

Wallahu a’lam bish showwaab
Muhammad Setiawan
(oasejiwa@gmail.com (021) 946-75645)

Rabu, 26 November 2008

BERQURBAN SEEKOR LALAT

Imam Ahmad dalam kitab Al Zuhd meriwayatkan satu hadits dari Thariq bin Syihab bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang laki-laki masuk surga gara-gara seekor lalat dan seorang laki-laki masuk neraka gara-gara seekor lalat!”. Orang-orang bertanya kepada Nabi, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ada dua orang yang lewat ke suatu kaum penyembah berhala, tidak ada orang yang boleh lewat ke kampung mereka melainkan harus berkurban sesuatu kepada berhala itu. Mereka berkata kepada salah seorang dari keduanya, ‘Berqurbanlah!’. Orang itu menjawab, ‘Aku tidak punya sesuatu untuk berqurban’. Mereka berkata, ‘Berqurbanlah walau hanya dengan seekor lalat!’. Orang itu pun berqurban dengan seekor lalat dan mereka memberi jalan untuk lewat, maka laki-laki itu masuk neraka. Lalu mereka berkata kepada yang seorang lagi, ‘Berqurbanlah kamu!’. Laki-laki itu mengatakan, ‘Aku tidak akan berqurban kepada sesuatu apapun selain kepada Allah Yang Mahakuasa dan Mahamulia!’. Kemudian mereka membunuh laki-laki itu, maka ia pun masuk sorga!”.
Apa sebenarnya hakikat qurban itu sehingga dapat menyebabkan seseorang masuk surga atau masuk neraka? Ditinjau dari segi formalitas pelaksanaannya qurban memang tidak lebih dari penyembelihan hewan tertentu pada tanggal sepuluh bulan Dzulhijah, kemudian daging hewan itu dimakan dan dibagikan kepada orang lain untuk sama-sama menikmatinya. Penyembelihan hewan untuk konsusmi makanan adalah perkara sehari-hari yang wajar belaka dan biasa dilakukan oleh siapapun atau dari umat manapun. Tetapi dibalik tatacara ritual formalnya itu, qurban dalam ajaran Islam menyimpan makna yang sangat dalam. Ia merupakan salah satu bentuk peribadahan yang sangat erat dengat semangat ketauhidan. Dalam dua ayat Al Quran, qurban dihubungkan dengan ibadah Islam yang sangat penting, yaitu shalat.

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (Q.S. Al-An'aam ayat 162)

Sebagian ulama menafsirkan nusuk atau ibadah pada ayat ini adalah ibadah qurban. Ini bermakna bahwa ayat ini memerintahkan penghususan ibadah shalat dan qurban hanya untuk Allah SWT. , sebagaimana juga mengikrarkan bahwa hidup dan mati hanya milik-Nya. Pada ayat yang lain disebutkan, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (Surat Al Kautsar : 1-3). Dari kedua ayat itu, secara aqidah qurban juga merefleksikan semangat pengesaan kepada Allah, karena itu penyelewengan dalam berqurban dapat jatuh kepada kerusakan aqidah tauhid. Dan kerusakan tauhid yang paling patal adalah menyekutukan Allah. Penyembelihan suatu hewan yang dimaksudkan sebagai pengorbanan kepada suatu apapun selain Allah merupakan perwujudan dari syirik atau menyekutukan Allah itu, tidak menjadi ukuran apakah hewan yang disembelih itu besar atau kecil. Yang menjadi ukuran syirik dan tidaknya penyembelihan adalah niyat dan maksud dari pelakunya. Dari sinilah kita dapat membuka pemahaman terhadap teks hadits di atas, dimana berqurban menjadi penyebab seorang bisa masuk surga atau malah masuk neraka.

Jenis Pengorbanan Yang Haram
Dari apa yang disebutkan pada hadits di atas menuntut kita untuk berhati-hati dalam menentukan niyat penyembelihan hewan qurban kita, karena niyat itulah yang menentukan nilai dan hakikat qurban kita di hadirat Allah SW., apakah ia bernilai katuhidan atau bernilai kesyirikan. Sebagai perwujudan keimanan kepada Allah, maka yang diterima Allah dari qurban seseorang sebelum yang lain-lainnya adalah semangat keikhlasan dan ketaqwaan orang itu. Allah tidak akan menilai apapun dari daging dan darah hewan yang diqurbankan, sebab Allah tidak membutuhkan sesajen makanan dari hamba-hamba-Nya.

Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Q.S. Adz-Dzaariyaat ayat 57 – 58)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Hajj ayat 37)

Karena itu menjadi keharusan kita untuk menjaga kebersihan iman dari niyat qurban yang salah dengan cara menjauhi bentuk-bentuk pengorbanan selain kepada Allah. Diantara jenis pengorbanan salah dan diharamkan melakukannya adalah:
Pertama, sembelihan untuk berhala. Sembelihan untuk berhala adalah termasuk dari empat perkara yang diharamkan secara tegas dalam Al Qura, yaitu firman Allah, “…dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala….(Al Maidah; 2)
Termasuk ke dalam katagori sembelihan untuk berhala adalah sembelihan yang dimaksudkan untuk sesajen kepada dewa laut semisal Nyi Roro Kidul, dewa gunung, ddan sebaginya.
Kedua, Sembelihan yang dimaksudkan sebagai tumbal bagi bangunan baru, semisal gedung atau jembatan, dengan keyakinan bahwa melalui tumbal itu bangunan akan lebih kuat dan tidak membawa bencana di kemudian hari
Ketiga, Sembelihan yang dipersembahkan kepada penghuni qubur yang dianggap sebagai orang suci atau orang sakti. Dengan sembelihan itu ia mengharapkan keberkahan dan minta dibantu dikabulkan segala cita-citanya.
Keempat, sembelihan yang dilakukan ditempat peribadahan atau tempat upacara perayaan kaum syirik jahiliyah, meskipun dia tidak berniyat berqurban untuk berhala. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang hukum menyembelih hewan di suatu tempat karena nadzar. Maka Nabi melarang menyembelih ditempat mana orang musyrik biasa menyembah berhalanya atau melakukan upacara keagamaannya. Lalu beliau bersabda, “Tidak ada nadzar dalam maksiyat kepada Allah, dan tidak ada nadzar pada apa yang diluar kepemilikan seorang anak Adam!”.

Wallahu A’lam bil Shawab

Selasa, 28 Oktober 2008

Aku Sakit, Kenapa Engkau Tidak Menjenguk-Ku

Izinkanlah, saya memulai tulisan ini dengan sebuah hadits Qudsi yang pernah dikisahkan oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Hadits Qudsi yang apabila saya membacanya, saya sering tertegun dan termenung mendalam. Sebagaimana kita tahu, hadits Qudsi adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang redaksinya (lafazh-nya) dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam namun maknanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala. Berbeda dengan al-Qur’anul Karim yang baik lafadz maupun maknanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalam hadits Qudsi tersebut Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam menceritakan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala kelak di hari kiamat akan bertanya kepada kita, “Wahai anak Adam, Aku sakit, tetapi kenapa Engkau tidak menjenguk-Ku ?”
Manusia (kita) akan menjawab,”Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb, Tuhan Semesta Alam ?”
Allah subhanahu wa ta’ala akan bertanya, “Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, sedangkan Engkau tidak menjenguknya ? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati Aku di sisinya ?”
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kembali, “Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi kenapa Engkau tidak memberi-Ku makan ?”
Anak Adam akan menjawab, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam ?”
Allah subhanahu wa ta’ala akan menggugat, “Apakah engkau tidak tahu hamba-Ku si fulan minta makan kepadamu sedangkan engkau tidak memberinya makan ? Apakah engkau tidak tahu seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkan-Ku disisinya ?
Allah subhanahu wa ta’ala akan berfirman kembali, “Hai anak Adam, aku minta minum kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku minum ?”
Anak Adam akan menjawab lagi, “Bagaimana mungkin aku melakukan, padahal Engkau adalah Tuhan Semesta Alam ?”
Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kembali, “Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum maka sudah pasti engkau akan mendapati-Ku di sisinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Pembaca yang budiman.

Jika kita renungkan hadits Qudsi di atas, nampak jelas betapa pentingnya kepedulian antar sesama di dalam Islam. Di hari kiamat nanti, ternyata Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya akan menanyakan keshalihan kita secara pribadi, namun juga keshalihan kita secara sosial. Allah subhanahu wa ta’ala akan menggugat jika ada di antara kita yang tidak peduli dengan saudaranya yang sakit, haus dan kelaparan. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits tersebut mengungkapkan, bahwa jika kita ingin mendekati Allah ta’ala maka jalannya adalah mendekati orang-orang yang kesusahan di antara kita.
Karena itu wajarlah jika Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, dalam sebuah hadits pernah mengungkapkan, “Bukanlah bagian dari kami (kaum muslimin) orang-orang yang tidak peduli dengan masalah kaum muslimin.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak)
Atau dalam hadits yang lain, RasuluLlah shallaLlahu alayhi wa sallam juga bersabda, “Tidak beriman kepadaku orang yang mampu untuk tidur kenyang, sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dan al-Bazzar)
Kepedulian terhadap sesama ini makin penting untuk kita hidupkan saat ini, di saat kondisi perekonomian negeri kita tidak kunjung membaik. Keberkahan yang seharusnya meliputi negeri ini, nampak seperti terkunci. Negeri yang gemah rimah loh jinawi ini, tak mampu lagi untuk menghidupi penduduknya sendiri. Sehingga, kita tidak terkaget-kaget lagi saat mendapati kisah seorang ibu yang hamil tua di Makasar meninggal dunia karena kekurangan gizi. Ada pula kisah seorang ketua pengurus ranting sebuah partai Islam di Sulawesi yang harus merelakan bayinya wafat karena tidak mampu membayar biaya perawatan sebesar Rp. 20.000,- ke petugas Puskesmas. Begitu juga kisah masyarakat di kawasan Jakarta Barat yang telah bertahun-tahun memakan makanan dari sampah restoran. Serta, beratus-ratus (atau mungkin beribu-ribu) kisah-kisah menyedihkan lainnya di sekitar kita. Baik yang terungkap media maupun tidak. Kita hari ini makin merasakan nilai uang yang kita genggam tidak lagi berharga di hadapan beras, susu, dan kebutuhan harian kita.
Namun, di saat perut masyarakat kita perih menahan lapar, masih saja ada pemimpin kita yang berani berdusta. Bahwa, kemiskinan menurun. Pengangguran berkurang. Keadaan membaik, dan seterusnya. Berdusta atas nama statistik. Lie with statistic... Padahal dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menyandingkan kata kejujuran dengan keimanan dan ketaqwaan. Tidaklah bertaqwa seseorang yang berdusta.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Q.S. Al-Ahzaab ayat 70)
Disebabkan hilangnya taqwa itulah, keberkahan negeri ini terkunci. Karena Allah subhanahu wa ta’ala pernah berfirman, “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan membukakan kepada mereka pintu keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami berikan balasan atas sebab perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raaf ayat 96)

Pembaca yang budiman.

Bukan hanya lapar yang diderita masyarakat kita, namun juga sakit. Penyakit jasmani mungkin masih bisa ditahan, namun apa jadinya jika penyakit jiwa yang diderita kebanyakan masyarakat kita. Penelitian Departemen Kesehatan yang diumumkan Menkes Siti Fadilah Supari pada tanggal 23 Oktober 2008 yang lalu, mengungkapkan fakta menyedihkan. Dua puluh lima persen (atau, satu dari empat orang) masyarakat Indonesia menderita gangguan jiwa. (Topik AnTV, 23/10/2008). Hasil penelitian WHO (World Health Organization) yang dirilis Februari tahun ini juga menguatkan hal yang sama, hampir 100 juta rakyat Indonesia menderita gangguan jiwa, baik skala rendah maupun tinggi.
Karena itulah kita melihat tingkat stress masyarakat kita yang tinggi. Tidak mampu lagi menahan beban hidup, hingga harus mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Bahkan bunuh diri sesudah bertakbir dan melaksanakan shalat Idul Fitri di Istiqlal.
Sakitnya jiwa masyarakat kita makin nampak dengan terus merajelelanya penjualan VCD/DVD porno di negeri ini. Saat anggota dewan kita terus bersilat lidah tentang RUU Pornografi, lihatlah tidak kurang 200 ribu keping film porno digandakan setiap harinya di negeri Melayu ini. Akibatnya, anak-anak perempuan kita lah yang dalam bahaya. Penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak, dua bulan yang lalu, mengungkapkan 62,7% siswi SMP di negeri ini sudah tidak lagi perawan.
Jika kita belum juga yakin akan akutnya penyakit jiwa di tengah masyarakat lihatlah pula bagaimana makin seringnya kita menyaksikan berita pembunuhan mutilasi. Jika dahulu, kita hanya menyaksikan sekian tahun sekali baru ada kasus mayat yang terpotong, maka saat ini hampir setiap bulan ada kisah orang yang dibunuh dengan dipotong. Bahkan yang teranyar terjadi di sekitar kita, Pondok Rajeg, Cibinong.

Pembaca yang budiman.

Demikianlah wajah masyarakat kita. Lapar, haus dan sakit. Jika hati kita tidak tergerak untuk menolong mereka, takutlah jika kelak Allah Ta’ala bertanya kepada kita, “Mengapa engkau tidak menjenguk-Ku, memberi makan dan minum-Ku ... ?”
Jika kita tidak mampu untuk membantu mereka dengan harta kita, setidaknya ringankanlah beban mereka dengan tegur-sapa dan senyum kita. Bukankah senyum kita pun adalah shadaqah. Sabda Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, “Senyum di hadapan saudaramu adalah shadaqah.”
Atau, setidaknya bantulah mereka dalam do’a-do’a kita. Saat kita bermunajat kepada Allah Ta’ala di tengah malam. Dalam kesunyian, getarkanlah bibir kita, “Allahumman shurna wal muslimiin ... Ya Allah, selamatkanlah kami dan kaum muslimin ...”
Wallahu a’lam bis showwab.


Muhammad Setiawan

Al-Akhfiyaa’

Lelaki itu baru saja menempuh perjalanan jauh. Perjalanan yang bukan hanya menguras tenaga, namun juga fikiran. Penat dan letih mendera hingga ke sumsum tulangnya. Ditemani oleh seorang sahabat, ia beristirahat malam itu. Tiga puluh menit setelah keduanya merebahkan tubuh, tiba-tiba lelaki itu berbisik, memanggil temannya, “Umar, sudah tidurkah engkau ... ?” Temannya menjawab, “Belum.” Lelaki itupun terdiam. Tiga puluh menit pun berlalu. Dalam keheningan malam, lelaki itu kembali berbisik, “Umar, sudah tidurkah engkau ... ?”. Temannya kembali menjawab, “Belum, wahai saudaraku ... “. Lantas keduanya kembali terdiam. Malam pun kembali senyap. Setelah satu jam dalam keheningan, lelaki itu kembali berbisik, “Umar, engkau sudah tidur ...?” Kali ini, temannya yang sesungguhnya belum tidur hanya terdiam. Tidak menjawab sepatah katapun. Lelaki itu pun mengira, bahwa sahabatnya telah tidur. Sejurus kemudian, ia pun bangkit dari peraduannya. Bersuci dan menghadap qiblat. Lantas, menghabiskan malam itu dengan isakan di hadapan Rabb-nya. Ia baru menyelesaikan qiyamul lail-nya malam itu, saat memperkirakan bahwa sahabatnya akan bangun.

Kisah ini diceritakan dengan penuh rasa haru oleh salah seorang tokoh pergerakan Islam abad ini, Umar at-Tilmisani, untuk menggambarkan perilaku sahabat sekaligus murabbi-nya yang sering menyembunyikan amal ibadahnya. Siapakah lelaki dalam kisah itu? Dialah Imam as-Syahiid Hasan al-Banna (Allahu yarham). Umar at-Tilmisani menceritakan kisah tersebut kepada Dr. Said Ramadhan al-Buthy, menantu sekaligus murid dari Imam Hasan al-Banna. Saya sendiri mengutip kisah ini dari tulisan Thariq Ramadhan, cucu Hasan Al-Banna, yang dimuat dalam kata pengantar buku al-Ma’tsurat terbitan Mizaania.

Saat membaca kisah ini, terkenanglah saya (penulis) akan perilaku ulama-ulama salaf (zaman dahulu) yang sering menyembunyikan amal sholihnya. Terkenanglah saya akan kisah Imam al-Mawardi seorang ulama sunnah yang terkenal, yang sampai akhir hidupnya tidak pernah mempublikasikan tulisan-tulisannya. Hingga ketika ia telah sakit keras dan merasa ajalnya telah dekat, ia memanggil seseorang yang dipercayainya, sambil berkata, “Buku-buku yang terdapat di tempat itu semuanya adalah karanganku. Jika kamu melihat tanda-tanda kematianku, dan aku sudah berada dalam sakaratul maut, maka masukkanlah tanganmu dalam genggaman tanganku. Jika tanganku menggenggam erat tanganmu dan meremasnya, itu tandanya karangan-karanganku tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Karena itu, segeralah ambil semua buku-buku itu dan buang semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari. Tapi, jika tanganku membuka dan tidak menggenggam tanganmu, maka ketahuilah bahwa karangan-karanganku diterima oleh Allah azza wa jalla, dan aku akan memperoleh apa yang selama ini aku harapkan dari niat yang ikhlas.”

Orang kepercayaan Imam al-Mawardi itu pun bercerita, “Ketika kematian al-Mawardi telah dekat, saya letakkan tanganku di atas tangannya. Ternyata dia membentangkan telapak tangannya dan tidak meremas tanganku. Tahulah aku, bahwa itu pertanda karangan-karanganya telah diterima oleh Allah Ta’ala. Maka sepeninggalnya, aku perlihatkan buku-bukunya itu kepada orang-orang.”

Terkenanglah pula saya akan ungkapan Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala, saat berkata kepada murid-muridnya, “Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu ini, tanpa sedikitpun menisbatkan ilmu ini kepada diriku. Agar aku memperoleh pahala darinya, dan mereka tidak menyanjungku."

Mereka inilah para akhfiyaa. Orang-orang yang misterius. Orang-orang yang menyembunyikan amalnya. Orang-orang yang tidak suka dengan popularitas. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjaga dengan keras nilai keikhlasan dari setiap amal yang dilakukan. Tidak ada yang paling mereka takuti kecuali jika amal ibadahnya ditolak di hadapan Allah Ta’ala, karena dipenuhi virus popularitas, berupa riyaa (ingin diperhatikan) dan sum’ah (ingin dibicarakan) Kita akan dapati kisah-kisah mengenai mereka ini, saat membaca kisah ulama-ulama terdahulu (salaf). Dan sangat jarang kita dapati kisah-kisah seperti mereka pada tokoh-tokoh masa kini (khalaf). Wajarlah jika kemudian Allah Ta’ala memuji generasi yang lalu dengan ungkapan, “ulaaikal muqarrabuun.” (mereka itulah orang-orang yang dekat dengan Allah). Dan balasan mereka adalah jannah (syurga) yang termewah. (Bukalah al-Qur’an surat al-Waqi’ah ayat 10 -14).

Mereka (para akhfiyaa) inilah orang-orang yang berusaha menghayati sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, “Sedikit saja riyaa adalah syirik. Barangsiapa yang memusuhi para kekasih Allah, berarti dia benar-benar menantang Allah untuk berperang. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan, bertaqwa, yang merahasiakan diri (al-akhfiyaa). Yaitu, mereka yang apabila tidak ada, tidak dicari. Dan bila adapun mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu-lampu pemberi petunjuk (mercusuar). Mereka muncul dari setiap tempat berdebu yang gelap.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shagir, 24/45). Mereka juga adalah kaum yang berusaha untuk merenungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala, dalam surat al-Baqarah ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian menakjubkannya, amal yang tersembunyi karena ikhlash kepada Allah Ta’ala, hingga Allah ‘azza wa jalla menjadikan pelakunya sebagai dua golongan dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak. Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam keta’atan kepada Allah ‘azza wa jalla, (3) orang yang hatinya senantiasa tertambat dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, (5) laki-laki yang dirayu oleh wanita yang cantik dan berkedudukan, namun ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah,’ (6) orang yang bersedekah dengan merahasiakan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang berdzikir kepada Allah di kala sendirian, lalu berlinanglah air matanya. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Karena itulah, Imam Abul Hasan ibn Basyar rahimahullah ta’ala saat ditanya oleh seorang muridnya, tentang cara mendekat kepada Allah ta’ala, jawabnya adalah, “Sebagaimana kamu bermaksiat kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi, hendaklah kamu ta’at pula kepada-Nya dengan sembunyi-sembunyi juga, supaya Allah memasukkan ke dalam hatimu rahasia-rahasia kebaikan.”

Ikhwani al-ahibba’....
Para pembaca yang budiman. Jika kita renungkan kisah-kisah dan keutamaan menyembunyikan amal yang terpapar di atas, tentu bergetarlah hati kita saat ini. Patutlah detik ini kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjaga keikhlasan amal-amal kita? Mampukah kita mengusir jauh-jauh keinginan untuk populer (riyaa’ & sum’ah) saat kita menjalankan keta’atan kepada Allah Ta’ala? Padahal masa ini adalah masa di mana popularitas menjadi sesuatu yang sangat diagung-agungkan oleh banyak orang. Semua orang berusaha untuk terkenal. Memang, adakalanya suatu amal lebih berdampak kebaikan (maslahat) jika dilakukan secara terang-terangan. Namun pernahkah kita bertanya dengan jujur dalam hati kita masing-masing, berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi? Dan berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan secara terang-terangan? Apakah amal yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi lebih banyak daripada amal yang kita lakukan secara terang-terangan? Jika ternyata, amal ibadah kita yang terang-terangan lebih banyak kuantitas dan kualitasnya daripada amal ibadah kita yang sembunyi-sembunyi, maka percayalah bahwa virus riyaa, yang merupakan bentuk kemusyrikan kepada Allah, telah menyelusup ke dalam hati kita.

Ali Ibn Abi Thalib radhiyyaLlahu anhu berkata, “Orang yang riyaa itu memiliki beberapa ciri, (1) malas, jika seorang diri, (2) giat jika di tengah-tengah orang banyak, (3) bertambah semangat dalam beramal jika mendapatkan pujian, (4) berkurang frekwensi amalnya jika mendapatkan celaan."

WaLlahu a’lam bish showwaab

Muhammad Setiawan

Bacaan lebih lanjut :
1. Wahaatul Iimaan (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Taujih Ruhiyyah, penerbit An-Nadwah), oleh Syaikh Abdul Hamid al-Bilali.
2. Al-Akhfiyaa’: al-Manhaj was Suluuk (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Orang-Orang yang Tidak Suka Popularitas, penerbit Robbani Press), oleh Walid Ibn Said Bahakim.

Selasa, 22 Juli 2008

Merindukan Ka'ab Ibn Malik

Kisah itu terjadi pada bulan ini, bulan Rajab, tahun kesembilan sesudah hijrah. Musim panas yang terik dan kering melanda Madinah. Suhu gurun saat itu mencapai empat puluh derajat celsius lebih. Hampir setengah matang. Namun, seperti halnya musim panas yang lain, di saat-saat seperti itulah biasanya buah kurma masak. Dan Madinah sebagai kota perkebunan sedang menikmati limpahan manisnya panen kurma.
Tak ada hal yang paling menyenangkan bagi penduduk Madinah dalam suasana seperti itu kecuali berdiam diri di kota, sambil memetik buah kurma yang masak di bawah rimbunnya dedaunan kebun. Apalagi jika ditemani oleh sekendi air dingin yang sudah diembunkan pada malam sebelumnya. Tentu tak akan ada yang mau untuk menolaknya. Inilah saat dimana tak ada seorangpun yang mau untuk pergi melakukan perjalanan jauh.
Namun, di saat seperti itulah, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam mengumandangkan panggilan jihad. Ghozwah Tabuk fi saa'atil 'usrah. "Perang Tabuk dalam waktu yang sulit", demikianlah para ahli sejarah menamakan panggilan jihad itu. Dinamakan sebagai waktu yang sulit karena sekurang-kurangnya disebabkan oleh tiga hal. Yang pertama, saat itu cuaca sangat panas dan bertepatan dengan musim panen kurma. Penduduk Madinah yang sebagian besar adalah petani tentu akan lebih memilih untuk mengurusi pertaniannya terlebih dahulu. Kedua, medan peperangan yang dituju sangat jauh. Berada di Tabuk, yang merupakan salah satu kota dekat Palestina. Untuk perjalanan perginya saja akan menghabiskan waktu satu bulan penuh. Belum ditambah waktu perjalanan pulang dan masa berperang. Sehingga diperkirakan peperangan ini akan memakan waktu dua bulan lebih. Ketiga, musuh yang akan dihadapi adalah salah satu negara super power saat itu. Yaitu Romawi, yang terkenal memiliki prajurit dengan kekuatan prima dan persenjataan lengkap. Jumlah musuh yang akan dihadapipun luar biasa besar. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam mendapat berita bahwa telah ada 40.000 orang prajurit Romawi yang telah berkumpul di kota Balqa' dan siap menyerang Madinah.
Disebabkan tiga alasan itulah, maka banyak kaum munafiqin yang enggan untuk berangkat mengikuti ghozwah Tabuk. Hanya sahabat-sahabat Nabi shallaLlahu alayhi wa sallam yang berhati ikhlash sajalah yang bersedia untuk menempuh perjalanan jauh dan sulit dalam ghozwah ini. Namun, ternyata ada tiga orang sahabat Nabi yang terkenal lurus keimanannya tetapi tidak ikut ghozwah Tabuk. Mereka bertiga terlalu sibuk mengurus kebun-kebunnya hingga tidak menyadari jika rombongan pasukan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam sudah berangkat meninggalkan Madinah.
Diantara tiga orang sahabat Nabi yang tertinggal itu, tersebutlah nama Ka'ab ibn Malik radhiyyaLlahu 'anhu. Seorang sahabat yang selalu mengikuti hampir seluruh ghozwah (perang) bersama Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Seorang sahabat yang dikenal sebagai seorang yang berhati tulus dan beriman lurus. Beliau bukanlah termasuk kaum munafiqin yang saat itu mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad. Beliau pula bukan termasuk sahabat yang sudah tua usia dan tidak memiliki perbekalan perang yang cukup, yang memang diizinkan oleh Rasulullah untuk tidak ikut berjihad. Beliau radhiyaLlahu 'anhu mengetahui panggilan jihad dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dan sudah berniat untuk berangkat. Namun karena taswiif (menunda-nunda) dalam berangkat jihad, akhirnya beliau tertinggal dari rombongan pasukan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam.
Sekembalinya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dari ghozwah Tabuk, berbondong-bondonglah kaum munafiqin menemui Rasulullah sambil mengemukakan alasan-alasan (yang sesungguhnya dibuat-buat) ketidak ikutan mereka berperang. Ka'ab ibn Malik pun di anjurkan oleh kaum munafiqin untuk juga menemui Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam dan mengemukakan alasan ketidak hadirannya di ghozwah ini. Namun, berbeda dengan kaum munafiqin yang berdusta di hadapan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, Ka'ab ibn Malik malah mengakui kesalahannya dan tidak mau mengarang-ngarang alasan apapun. Padahal, sebagaimana diakuinya sendiri, beliau radhiyyaLlahu adalah u'thiya jadalan (seorang yang dikaruniai kemampuan untuk berargumentasi). Karena kejujurannya, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam lantas bersabda kepada Ka'ab ibn Malik, "amma hadza faqod shodaqo, faqum hatta yaqdhiyaLlahu fiik (adapun orang ini, maka ia telah berkata jujur, maka tunggulah hingga Allah ta'ala menjatuhkan putusan untukmu)."
Maka Ka'ab Ibn Malik pun dihukum "hajr (isolasi/dijauhi)" oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Hajr adalah hukuman dengan cara tidak mengajak berbicara dan bergaul kepada Ka'ab selama lima puluh hari. Bahkan, bukan hanya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam saja yang meng-hajr Ka'ab Ibn Malik namun juga seluruh kaum muslimin di Madinah, termasuk pula istri Ka'ab ibn Malik. Demikianlah, saat Ka'ab ibn Malik menjalani hukuman hajr dari Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, ia merasa dunia sangat sempit dan jiwanya sesak. Hingga Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat Ka'ab Ibn Malik dan dua orang temannya radhiyaLlahu 'anhum sebagaimana tertera dalam surat at-Taubah ayat 117-120. Adapun kisah lengkap mengenai Ka'ab ibn Malik ini bisa kita baca dalam Kitab Shohih Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Banyak hikmah sebenarnya yang terserak dari kisah "hajr" Ka'ab Ibn Malik radhiyaLlahu 'anhu. Salah satu hikmah berharga yang dapat kita ambil dari kisah ini, adalah keteguhan Ka'ab Ibn Malik untuk tetap berkata jujur. Padahal bila ia tidak berkata jujur, ia tidak akan dihukum hajr oleh Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Padahal pula saat itu, ia adalah seorang yang mampu dan memiliki kesempatan untuk berdusta. Namun, ia tidak memilih itu. Ia memilih untuk tetap berkata jujur, meskipun dengan itu ia harus dihukum.
Ka'ab ibn Malik tentunya menyadari betul firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam surat al-Ahzab ayat 70 : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah perkataan yang benar". Ayat ini menjelaskan bahwa diantara ciri keimanan dan ketaqwaan seseorang adalah keteguhannya untuk berkata jujur. Seorang yang beriman tidak akan berani untuk berdusta, karena ia menyakini bahwa setiap ucapannya pasti akan dicatat oleh para malaikat yang senantiasa menyertai.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Qaf ayat 16 – 18 : "Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir."
Karena itulah bagi seorang yang beriman seperti Ka'ab Ibn Malik tidak ada pilihan lain kecuali berkata jujur. Meskipun kejujuran itu pahit baginya. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, "Katakanlah yang benar, walaupun kebenaran itu pahit." (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shohih Ibnu Hibban). Bahkan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam saat ditanya jihad apakah yang paling dicintai disisi Allah Ta'ala, beliau menjawab, "Kalimat kebenaran di hadapan pemimpin yang lalim." (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bayhaqy dalam kitab Sunan al-Kubra). Imam jair (pemimpin lalim/bengis) atau shulthon jair (penguasa lalim, dalam hadits riwayat Imam at-Thabrany) adalah penguasa yang akan menyiksa kita, bahkan memenggal kepala kita, jika kita mengucapkan kebenaran.
Jika kepada penguasa yang lalim saja Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam masih menyuruh kita untuk berkata jujur, maka mengapa kita tidak berani untuk berkata jujur pada hal-hal yang tidak membahayakan nyawa kita? Mengapa demikian banyak di antara kita yang berani berdusta hanya untuk menutupi harga dirinya? Atau, berdusta hanya untuk menyelamatkan kedudukan dan hartanya?
Kasus para jaksa yang tidak mau mengaku telah disuap (risywah) oleh makelar kasus BLBI, yang masih hangat diberitakan saat ini, menjadi sekedar contoh betapa dusta sudah menjadi keseharian sebagian dari kita. Belum lagi, kedustaan yang setiap hari dijajakan oleh para politikus untuk menutupi kegagalan kepemimpinan mereka.
Sungguh, di hari-hari terakhir ini, kita makin merindukan sosok seperti Ka'ab Ibn Malik radhiyyallahu 'anhu. Sosok yang rela dihukum daripada harus berdusta. Ataupun sosok seperti Imam Malik ibn Anas rahimahuLlahu yang tetap teguh berkata jujur tentang kebenaran al-Qur'an meskipun penguasa berfaham Mu'tazilah terus menyiksanya.
Semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua untuk tetap mempertahankan dan membudayakan kejujuran. Sebagaimana do'a kita setiap hari, ihdina shirothol mustaqim, shirotol ladzina an'amta 'alayhim ... tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang kau beri nikmat ... . Do'a yang telah dijawab oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam surat an-Nisaa ayat 68 – 69 : Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Semoga ...

Wallahu a'lam bis showwab

Renungan setelah sang makelar kasus menitikkan air mata, 14/07/08
Muhammad Setiawan,

Kamis, 03 April 2008

Prinsip-Prinsip Membelanjakan Harta

Salah satu pilar dalam sistem keuangan Islam adalah kecerdasan dalam mengelola pengeluaran harta. Harta yang kita pegang hari ini, dalam perspektif Islam, sesungguhnya bukanlah milik kita, namun titipan dari Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, harta tidak boleh kita belanjakan semau-maunya kita. Ada prinsip-prinsip pembelanjaan harta dalam Islam yang harus kita perhatikan. Untuk itulah Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah mengingatkan kita semua, bahwa salah satu hal yang akan ditanya nanti oleh Allah subhanahu wa ta’ala di hari kiamat adalah mengenai untuk apa kita belanjakan harta kita.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abi Barzah al-Aslamy radhiyyaLlahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah bersabda, “Tidak akan melangkah kedua belah kaki seorang hamba di hari kiamat kelak, hingga ia ditanya mengenai empat hal : tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia manfaatkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitab sunannya dengan derajat hasan).

Dengan memahami bahwa harta yang dikuasai saat ini akan ditanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka setiap muslim selayaknya memiliki prioritas dalam membelanjakan hartanya. Sehingga tidak terjadi fenomena yang menyedihkan seperti yang sering kita lihat saat ini. Yaitu, banyaknya orang yang membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, padahal, banyak orang yang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja sangat kesulitan. Beberapa bulan yang lalu misalnya, kita melihat ada ribuan orang di Jakarta yang rela untuk menghabiskan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk menonton konser boys band (Backstreet Boys) yang datang dari Amerika. Padahal pada saat yang sama ada seorang ibu hamil yang meninggal dunia karena kelaparan di Makassar. Beberapa pekan yang lalu juga, sebuah hotel di Jakarta dipenuhi oleh ratusan orang yang rela membayar hingga sepuluh juta rupiah (setiap orang) hanya untuk menonton seorang penyanyi wanita (Diana Ross) dari negeri paman Sam di saat ribuan orang di negeri ini tidak dapat membayar biaya kesehatan paling dasar. Ketidakcerdasan dalam membelanjakan harta ini memang jika dibiarkan akan mengakibatkan terjadinya kecemburuan sosial yang akhirnya bisa berujung pada konflik sosial. Untuk itu, berikut ini beberapa prinsip-prinsip sederhana membelanjakan harta dalam Islam.

Prinsip pertama, hendaknya setiap muslim memprioritaskan pengeluaran hartanya bagi hal-hal yang wajib. Diantara hal yang wajib itu adalah membayar zakat dan menafkahi keluarga. Zakat adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang disandingkan oleh-Nya dalam banyak ayat al-Qur’an setelah perintah shalat. Sedangkan menafkahi keluarga adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap lelaki yang telah berkeluarga. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah bersabda, “Cukuplah seorang lelaki itu dianggap berdosa, jika ia menyia-nyiakan orang-orang yang ada dalam tanggungannya (tidak memberi nafkah).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam kitab shahihnya). Untuk itu, adalah sangat menyedihkan jika kita melihat adanya para pemimpin keluarga yang lebih memilih untuk membelanjakan hartanya demi kesenangan dirinya sendiri dibandingkan untuk menafkahi anak dan istrinya. Beberapa pekan yang lalu misalnya, di sebuah televisi swasta pernah ditayangkan reportase tentang kehidupan kaum miskin kota di Jakarta yang ternyata kepala keluarganya lebih memilih untuk mengalokasikan uangnya untuk rokok ketimbang memenuhi gizi dan biaya pendidikan anak-anaknya. Ditampilkan misalnya, ada seorang tukang ojek motor di kawasan UKI Jakarta Timur yang penghasilan seharinya sebesar Rp. 40.000,- namun habis untuk belanja rokok sebesar Rp. 27.000,- . Sehingga, hanya sekitar 20% yang ia bawa untuk menafkahi anak dan istrinya. Di kawasan lain, ada pula seorang pemulung di Menteng Jakarta Pusat yang memiliki penghasilan perhari Rp. 20.000,- namun habis Rp. 13.000,- hanya untuk rokok. Sehingga tinggal tersisa Rp. 7.000,- saja yang ia bawa tiap harinya untuk makan istri dan tiga orang anaknya. Wal ya’dzubiLlah

Prinsip yang kedua, hendaknya setiap muslim menyisakan bagian dari hartanya untuk menunaikan ibadah-ibadah sunnah. Misalnya, dengan berinfaq, shadaqah maupun memberikan qardhan hasan (pinjaman lunak) bagi orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya. Pinjaman lunak ini menjadi hal yang makin terasa penting, di saat “prajurit-prajurit ribawi” makin merajalela di sekitar kita. Baik berupa rentenir-rentenir perorangan yang rajin mengetuk tiap pintu rumah yang terjerat kebutuhan ekonomi, maupun lembaga-lembaga perkreditan yang menawarkan pinjaman hanya dengan jaminan surat-surat kendaraan. “Prajurit-prajurit ribawi” tersebut saat ini belum dapat dilawan oleh lembaga keuangan syari’ah formal, yang seringkali mempersulit memberikan pinjaman karena alasan-alasan prudential (kehati-hatian). Yang dapat melawan mereka hanyalah kepedulian kita untuk saling membantu. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membantu meringankan kesulitan-kesulitan dunia saudaranya, maka Allah akan membantu kesulitan-kesulitannya kelak di akhirat.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab Mazhalim, Imam Muslim dalam bab al-birr, Tizrmidzi dalam bab al-birr, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Prinsip yang ketiga, hendaknya setiap muslim tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya pada hal-hal yang mubah (boleh). Membeli kendaraan mewah, pesawat televisi, handphone yang canggih, perabot rumah tangga, furniture dan barang-barang elektronika lainnya adalah mubah. Namun, hendaknya kita harus mempertimbangkan beberapa hal sebelum membeli itu semua. Pertama, apakah saat kita membeli hal-hal yang mubah itu akan mengurangi pos pengeluaran kita untuk hal-hal yang wajib & sunnah? Jika ternyata kita mengorbankan hal-hal yang wajib untuk membeli hal-hal yang mubah tentu itu bukanlah keputusan yang bijak. Penulis sering melihat ada keluarga yang memiliki TV layar besar lengkap dengan pemutar DVD namun mereka memiliki tunggakan iuran sekolah putra-putrinya dan makanan sehari-harinya kurang bergizi. Padahal point yang terakhir lebih penting daripada point yang pertama. Kedua, saat kita akan membeli barang-barang yang mubah itu, hendaknya kita berfikir berulang-ulang, benarkah barang-barang yang akan dibeli itu memang betul-betul dibutuhkan atau sekedar keinginan belaka ? Banyak orang, misalnya, yang mengidamkan memiliki laptop (komputer jinjing), namun ternyata saat mereka telah memilikinya baru tersadar kalau sesungguhnya ia tidak betul-betul memerlukan benda itu. Demikian juga banyak orang yang berlomba-lomba membeli handphone dengan fasilitas canggih yang berharga puluhan juta, padahal mereka tidak sungguh-sungguh memerlukan fitur-fitur canggih pada handphone-nya. Perilaku membelanjakan harta hanya berdasarkan keinginan dan bukan kebutuhan ini merupakan bentuk dari gaya hidup tabdzir (pemborosan). Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Israa ayat 26 – 27, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam juga pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala suka dan membenci tiga hal dari kalian: suka jika kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan engkau berpegang teguh kepada al-Qur’an. Dan Allah ta’ala membenci jika engkau banyak bicara, banyak bertanya yang tidak penting (untuk menghindar dari kewajiban) dan memboroskan harta”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim) Hal ketiga yang perlu diperhatikan saat membeli barang-barang yang mubah adalah, jangan sampai kita membeli barang-barang yang mubah dengan cara berhutang (kredit / mencicil). Apalagi jika berhutangnya itu dengan disertai bunga (riba). Tentang haramnya riba cukuplah jika merenungkan surat al-Baqarah ayat 275, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Sedangkan mengenai berhutang ternyata Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam hanya mencontohkan berhutang jika itu terkait dengan kebutuhan pokok saja, tidak pada hal-hal yang mubah. Aisyah ummul mu’minin radhiyallahu ‘anha, pernah menceritakan, “Bahwasanya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menunda pembayarannya (berhutang), dan beliau shallaLlahu alayhi wa sallam menjadikan tamengnya dari besi sebagai jaminan atas hutangnya.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, sebagaimana tercantum dalam kitab Fath al-Bary 5/53). Untuk itu Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam sangat mewanti-wanti umatnya untuk tidak terbiasa berhutang.. Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian membuat takut jiwa-jiwa setelah kalian mendapatkan ketenangan." Mereka bertanya, "Apakah hal itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab, "Ia adalah hutang." (Diriwayatkan oleh at-Thahawi sebagai dikutip oleh Imam al-Qurthubi dalam al-Jaami' fii Ahkamil Qur'an)

Prinsip yang keempat, hendaknya kita menahan diri untuk tidak berbelanja pada hal-hal yang makruh. Hal-hal yang makruh bisa saja dari hal-hal yang secara dzatiyyah adalah mubah namun karena dibeli secara berlebihan ia menjadi makruh. Seperti makan berlebihan atau memenuhi keinginan untuk mengoleksi sepatu, mobil mewah dan komoditas konsumtif lainnya. Atau, yang makruh itu bisa saja dari benda yang secara dzat-nya memang sudah makruh. Seperti halnya, rokok. Hampir seluruh ulama di negeri ini sepakat bahwa rokok adalah makruh. Bahkan, para ulama internasional, seperti Syekh Abdul Aziz ibn Baz rahimahuLlahu ta’ala mengkategorikan rokok sebagai sesuatu yang haram. Beliau mengungkapkan bahwa rokok haram karena rokok termasuk dalam al-khabaaits (hal-hal yang buruk) dan bukan at-thayyibat (hal yang baik). Keburukan rokok ini dihitung dari besarnya bahaya yang diterima oleh penghisap dan penghirup asap rokok. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas menegaskan keharaman seluruh hal yang buruk. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an surat Al-A’raf : 157 :"Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram).

Prinsip yang kelima, hendaknya kita jangan pernah membelanjakan harta kita pada hal-hal yang haram. Seperti membeli benda-benda yang merusak aqidah kita (jimat, susuk, dan sejenisnya), atau yang merusak mentalitas kita (film-film porno, majalah-majalah amoral, koran kuning), ataupun sesuatu yang sudah sangat jelas keharamannya, seperti, berjudi. Terlebih lagi saat ini perjudian telah merebak bahkan sampai masuk ke ruang-ruang keluarga kita. Perjudian yang berkedok kuis SMS berhadiah di televisi hampir tak mengenal waktu menyerang anggota keluarga kita. Padahal jelas, perjudian inilah amalan syetan yang akan membawa bangsa ini terus terporosok dalam kehancuran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Maidah ayat 90, “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Inilah saudara-saudaraku tercinta, lima prinsip sederhana membelanjakan harta dalam Islam. Semoga kita dapat mensyukuri nikmat harta yang Allah subhanahu wa ta’ala titipkan kepada kita dengan mempergunakannya sebijak mungkin sesuai dengan tuntunan syari’at. Karena, sebagaimana janji Allah subhanahu wa ta’ala, jika kita bersyukur atas nikmat-Nya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menambah nikmat-Nya. Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi menjelaskan tentang ayat ini, dengan ungkapan yang sangat menyentuh. Ujarnya, “Jika seseorang tidak bertambah ni’matnya setiap hari maka sesungguhnya ia telah kurang bersyukur. Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah berdusta.” Untuk itu, jika kita saat ini merasa seakan barokah Allah subhanahu wa ta’ala makin jauh dari negeri ini, bertubi-tubi masalah dan bencana mendera bangsa ini, mungkin itu disebabkan bangsa ini kurang bersyukur. Kurang bersyukur atas nikmat harta (kekayaan alam) yang sudah Allah ta’ala titipkan pada bangsa ini. Karena ternyata harta itu tidak dipergunakan secara bijak sesuai dengan ketentuan-Nya. Bukankah kita adalah negeri dengan tingkat konsumsi tembakau terbesar di dunia (trilyunan rupiah membakar uang setiap tahun), negeri dengan perjudian yang dibiarkan bebas, negeri yang membeli HP nokia communicator terbesar di dunia padahal tidak diperlgukan fitur-nya, negeri yang penduduknya rela membeli televisi layar lebar dengan berhutang agar dapat menonton dangdut sedangkan perutnya keroncongan ... ?
Ya Allah, lindungilah kami. Jangan Kau hukum kami karena perilaku orang-orang bodoh di sekitar kami. Maafkan kami dan bukalah relung hati kami dengan petunjuk-Mu ... Amin Ya Rabbal Alamien.

Wallahu a’lam bis showwab

Muhammad Setiawan, renungan ba’da dhuha 01 April 2008,
saat minyak tanah makin susah dicari.

Rabu, 19 Maret 2008

Orang Aneh

Suatu pagi, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam berangkat ke masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat shubuh berjama’ah dengan sahabat-sahabatnya. Sesampainya di masjid, ternyata beliau mendapati sahabat-sahabatnya masih berkumpul di pintu masjid. Belum juga masuk ke masjid sebagaimana biasanya. Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam heran dan kemudian bertanya, “Mengapa kalian belum juga masuk ke dalam masjid, wahai sahabat-sahabatku ? Bukankah waktu shubuh telah tiba ?” Sebagian sahabat kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, hari ini sumur dan tempat-tempat air kami sangat kering. Kami belum mendapatkan sepercik air sekalipun untuk melaksanakan wudhu. Bagaimana mungkin kami dapat melaksanakan shalat padahal kami belum berwudhu.” Saat itu, memang Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam belum mengajarkan kepada para sahabat radhiyyaLlahu ‘anhum untuk melaksanakan tayammum, sehingga wajarlah jika para sahabat agak bingung menghadapi kondisi seperti itu.

Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam yang mulia, kemudian meminta kepada salah seorang sahabat untuk mengambilkan sebuah bejana (ember). Setelah bejana itu ditaruh di hadapan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, beliau kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana tersebut. Dan ternyata, ajaib, atas izin Allah subhanahu wa ta’ala dari sela-sela jemari Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam muncul air jernih yang dengan deras mengalir. Sehingga bejana tersebut terisi penuh dengan air. Para sahabat pun bergantian berwudhu dengan air tersebut. Bahkan diriwayatkan, sahabat Abdullah ibn Mas’ud radhiyyaLlahu ‘anhu sampai meminum beberapa teguk air tersebut.

Selepas berwudhu dan shalat shubuh berjama’ah, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam kemudian duduk menghadap para sahabat-sahabatnya. Setelah itu, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pun bertanya, “Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang aku maksud sebagai saudara-saudaraku ?” Sebuah pertanyaan yang tidak pernah diungkapkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebelumnya. Para sahabat pun terdiam, merenungkan makna dari pertanyaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Lantas, ada salah seorang sahabat yang memberanikan diri untuk menjawab, “Kami ya RasulaLlah ... Kamilah saudara-saudaramu itu ... Kamilah orang-orang yang telah rela untuk membelamu dengan seluruh jiwa, raga dan harta kami. Bahkan melebihi pembelaan kami terhadap keluarga kami sendiri.” Mendengar jawaban itu, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pun tersenyum dan berkata, “Bukan, kalian bukanlah saudara-saudaraku (ikhwaaany) namun kalian adalah sahabat-sahabatku (ashhaabiy).” Mendengar penjelasan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, para sahabat pun makin bertanya-tanya dalam hati. Jika bukan mereka orang-orang yang dianggap sebagai saudaranya Rasulullah, lalu siapakah saudara-saudara Rasulullah tersebut ?
Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam kemudian bersabda, “Saudara-saudaraku (ikhwaany) adalah orang-orang yang tidak pernah bertemu denganku, tidak pernah melihat bagaimana mu’jizat-mu’jizat Allah diberikan untukku, tidak pernah melihat Al-Qur’an diturunkan kepadaku, mereka hidup jauh sesudah aku, mereka hanya mengetahui tentangku lewat tulisan-tulisan (hadits) dan mendengarkan al-Qur’an melalui mushaf. Namun, mereka beriman kepada Allah sebagaimana kalian beriman hari ini. Mereka membela aku sebagaimana kalian membela aku hari ini. Mereka mencintai agama ini (Islam) sebagaimana kalian mencintai agama ini. Mereka itulah saudara-saudaraku (ikhwaani). Sungguh, aku sangat ingin bertemu dengan saudara-saudaraku itu.” (aw kama qala Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam). Kisah ini tercantum dalam kitab Duurul Mantsur karya Imam Jalalludin as-Suyuthi, saat beliau menjelaskan al-Quran, surat al-Baqarah ayat ke-3 : (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Melalui, kisah ini, kita dapat mengambil sebuah pelajaran yang berharga. Bahwa ternyata, dalam Islam, kemuliaan suatu generasi bukan hanya milik generasi pada satu zaman saja. Bukan hanya milik generasi pendahulu (salaf) namun juga kemuliaan tersebut dapat dimiliki oleh generasi yang hadir kemudian (khalaf). Meskipun memang, generasi salaf diberi keistimewaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa pertemuan mereka secara langsung dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sehingga mereka dapat beriman kepada Allah lebih awal. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat at-Tawbah ayat 100 : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Karena itu, generasi khalaf-pun mendapatkan kemuliaan di mata Allah subhanahu wa ta’ala jika mereka berkomitmen terhadap agama ini. Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam juga memuji generasi belakangan ini dengan julukan sebagai al-Ghuraabaa’ (orang-orang asing / dianggap aneh). Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Islam ini awalnya asing (dianggap aneh), dan Islam ini akan kembali dianggap aneh sebagaimana awalnya muncul, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh (al-Ghurabaa’).” (Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah ibn Mas’ud, juz 8 hal 131)

Setidaknya ada 42 hadits yang menjelaskan makna al-Ghurabaa’. Salah satu maknanya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya dari sahabat ‘Amr ibn ‘Ash radhiyalLahu anhu, beliau berkata, “Suatu ketika kami bersama-sama dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, beliau kemudian bersabda, “Beruntunglah al-Ghuraabaa’...Para sahabat kemudian bertanya, “Siapakah al-Ghuraabaa’ itu ya Rasulallah .. ?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuat baik saat banyak orang berbuat kerusakan. Mereka melaksanakan keta’atan saat banyak orang melakukan kema’shiyatan.” (Musnad Ahmad, Bab Musnad Amr Ibn Ash, juz 13 hal. 400).

Karena itu marilah kita menjadi saudara-saudara Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam yang sangat beliau rindukan. Karena kita membela dan mencintai beliau, sebagaimana pembelaan dan cintanya para sahabat-sahabatnya dulu. Marilah kita menjadi al-Ghuraabaa’, orang-orang yang dianggap aneh karena masih melakukan keta’atan di saat banyak orang bangga dengan kema’shiyatan. Orang-orang yang dianggap aneh, karena sangat memperhatikan shalat, di saat banyak orang melalaikannya. Dianggap aneh karena tidak mau mengambil harta haram, di saat orang-orang banyak yang berfikir, “Yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Menjadi orang yang dianggap aneh karena sibuk untuk berbagi dan bergaya hidup sederhana, di saat banyak orang bangga dengan kemewahan dan tidak peduli dengan penderitaan saudara-saudara di sekitarnya.

Wallahu a’lam bis showwab
Muhammad Setiawan
www.tazkiyyatunnafs.blogspot.com

Tuhan Sembilan Senti

Jika kita membuka mata kita lebih lebar dan melihat sekeliling kita, sesungguhnya kita akan mendapatkan sebuah pemandangan yang menyedihkan di sekitar kita. Bangsa ini masih dililit oleh kemiskinan. Data tahun 2004 menyebutkan, setidaknya jumlah pengangguran di negeri ini telah mencapai angka 40 juta orang. Jika para penganggur ini adalah seorang kepala keluarga yang memiliki satu orang istri dan hanya satu orang anak maka sekurangnya kita telah memiliki angka 120 juta orang penduduk miskin di negeri ini. Seratus dua puluh juta orang yang berarti lebih dari setengah penduduk negeri ini yang jumalhnya 225 juta orang. Ini jika penduduk miskin tersebut diukur dari tingkat pengangguran terbuka. Belum pula jika dihitung dari angka pengangguran terselubung. Ataupun, dihitung dari penduduk miskin yang sudah bekerja namun upah yang diterimanya tidak sebanding dengan biaya kebutuhan pokok yang makin membumbung tinggi saja akhir-akhir ini. Tentu akhirnya kita akan mendapatkan angka penduduk miskin yang lebih tinggi lagi.

Namun, dibalik angka kemiskinan penduduk negeri ini yang makin fantastis, pernahkah kita menyadari komoditas apa yang lebih banyak dibeli oleh penduduk miskin negeri ini selain makanan pokok ? Yang karena mendahulukan untuk membeli komoditas ini, para penduduk miskin rela mengurangi pos pengeluaran pendidikan dan kesehatan mereka dalam anggaran belanja rumah tangganya. Komoditas itu ternyata adalah rokok ! Yah, rokok. Perusahaan-perusahan rokok di negeri ini yang berhasil memproduksi rokok hingga 225 miliar batang setahun (terbesar di dunia) ternyata konsumen setia terbesarnya adalah penduduk miskin. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 misalnya menyebutkan, masyarakat miskin di negeri ini cenderung mengorbankan alokasi belanja kebutuhan pokok, termasuk beras, susu, tahu dan daging, demi tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Pada tahun 1999, proporsi belanja makanan pokok keluarga keluarga miskin yang 28% turun menjadi 19% pada tahun 2003. Namun, pada periode yang sama proporsi belanja rokok keluarga miskin justru naik dan meningkat dari 8% menjadi 13%. (masya Allah ... !). Karena itu, tampaknya rokok sudah menjadi kebutuhan utama bagi sebagian penduduk negeri ini. Padahal, kita semua sepakat betapa besar kemadharatan yang diakibatkan oleh sebatang rokok. Tidak hanya bagi penghisapnya, namun juga bagi orang-orang di sekitarnya.

Mengenai bahaya rokok tersebut bahkan dapat kita baca jelas disetiap bungkus rokok. Ditulis dengan huruf kapital dan tebal. MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Namun, mengapa mendadak 12 juta kepala keluarga miskin yang aktif merokok (data BPS) menjadi buta huruf dan tidak menghiraukan peringatan tersebut. Padahal jelas, data organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan jumlah kematian akibat rokok di seluruh dunia saat ini telah mencapai 8,4 juta orang setiap tahunnya. Koran Tempo tanggal 9 April 2007, dalam sebuah artikelnya menyebutkan, bahwa dalam sebatang rokok terdapat : 4000 jenis racun kimia (10 diantaranya bersifat karsinogenik/merangsang tumbuhnya kanker). Sedangkan, korban jiwa (kematian) akibat rokok pada tahun 2001 berjumlah 427.946 orang atau 22,5% dari total kematian orang Indonesia. Adapun, total biaya konsumsi rokok penduduk negeri ini pada tahun 2001 adalah Rp. 127,4 triliun. Bayangkan, betapa besar uang yang telah dihamburkan oleh penduduk negeri ini demi memenuhi paru-parunya dengan asap rokok.

Jika ratusan trilyun telah kita keluarkan untuk tembakau, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang kemudian diuntungkan ? Apakah para petani cengkeh (bahan baku rokok) ? Ternyata, tidak. Petani cengkeh kita mengaku bahwa harga cengkeh jika sedang panen maka harganya turun hingga Rp. 15.000,-/kg. Padahal biaya produksinya saja tiap kilogram sudah mencapai Rp.16.000,-. Itu berarti, mereka rugi Rp.1.000,-/kg. Atau, mungkin yang untung adalah para buruh pabrik rokok ? Ternyata tidak pula. Sebagian besar upah buruh pabrik rokok hanyalah pas-pasan dengan UMR negeri ini yang terkenal sempit itu. Bahkan ada pula beberapa pabrik rokok yang mengupah buruhnya jauh di bawah UMR. Untuk itu, wajarlah jika sebagian besar buruh pabrik rokok adalah perempuan. Karena mereka dikenal rapih dalam bekerja dan tidak banyak menuntut. Jadi, siapa yang diuntungkan dari bisnis rokok ini ? Tak lain dan tak bukan, yang untung besar adalah para pemilik pabrik rokok. Jika diambil contoh dari dua perusahaan rokok besar di negeri ini saja, yaitu Gudang Garam dan HM. Sampoerna, maka kita bisa membayangkan bagaimana untungnya menjadi pemilik pabrik rokok di negeri ini. Majalah SWA tanggal 3 Juni 2007 menyebutkan, bahwa angka penjualan bersih Gudang Garam pada tahun 2006 adalah Rp. 26,3 triliun. Sedangkan HM. Sampoerna Rp. 29, 5 triliun. Dari penjualan bersih itu, Gudang Garam berhasil meraih laba bersih Rp. 1,88 triliun, dan Sampoerna Rp. 2,38 triliun. Keuntungan bersih ini kemudian mereka salurkan untuk menghidupi anak-anak bisnis perusahaan Gudang Garam dan HM. Sampoerna. Mulai dari bisnis makanan, properti, perkebunan, keuangan hingga bisnis perjudian. Tidakkah kita mencium aroma ketidak adilan di sini. Sebagian besar penduduk miskin kita telah dibuai dengan iklan-iklan rokok, hingga setiap hari mereka mengeluarkan uangnya untuk menambah besar kantong para cukong rokok tersebut.

Jika dari syariat Islam, sesungguhnya bagaimana hukum rokok ini ? Sepengetahuan penulis, hampir seluruh ulama Islam Internasional menghukumkan rokok sebagai haram. Hanya, ulama-ulama Indonesia saja yang sebagian masih menghukumkan rokok sebagai makruh. Diantara ulama yang mengharamkan rokok tersebut adalah Syeikh Abdul Aziz Ibn Baz rahimahullahu ta'ala. Beliau meungkapkan bahwa rokok haram karena rokok termasuk dalam al-khabaaits (hal-hal yang buruk) dan bukan at-thayyibat (hal yang baik). Keburukan rokok ini dihitung dari besarnya bahaya yang diterima oleh penghisap dan penghirup asap rokok. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas menegaskan keharaman seluruh hal yang buruk. Sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an surat Al-A’raf : 157 :"Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram)

Keharaman ini jika hanya memperhitungkan bahaya rokok dari aspek kesehatan. Belum dari segi tabdzir-nya. Sedangkan Allah SWT jelas melarang pula perilaku tabdzir (memboroskan harta). Dan janganlah engkau memboroskan hartamu. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudaranya syetan. (Al-Qur'an surat al-Isra ayat 26 – 27). Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam juga menjelaskan bahwa salah satu hal yang ditanya oleh Allah SWT kepada kita di hari kiamat adalah mengenai kemana kita membelanjakan harta kita. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abi Barzah al-Aslamy radhiyaLlahu 'anhu bahwa Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda, "Tidak akan melangkah kedua tapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ia ditanya mengenai usianya, untuk apa saja ia habiskan. Mengenai ilmu yang dimilikinya, untuk apa ia amalkan. Mengenai hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan. Serta, mengenai jasmaninya, untuk apa ia pergunakan". (Sunan at-Tirmidzi, juz 8, hal. 443, no. 2341).

Terakhir, saya ingin mengajak seluruh pembaca untuk merenungkan sebuah puisi yang pernah ditulis oleh Bapak Taufiq Ismail. Salah seorang penyair besar yang dimiliki negeri ini. Beliau menuliskan keprihatinan yang mendalam akan kegandrungan masyarakat Indonesia terhadap benda yang bernama rokok ini, dalam sebuah puisinya, yang berjudul "tuhan Sembilan Senti".

tuhan Sembilan Senti
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,/tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,// Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,//Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok,/tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,//Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,//Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,//Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,//Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,//Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,//Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,//Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,//Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,//Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?//Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.//Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?//Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.//Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,//Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,//Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,//Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,//Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,//Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Wallahu a'lam bis shawwab
Ya Allah, saksikanlah ... aku telah menyampaikan

Muhammmad Setiawan

Shalawat Atas Nabi SAW

Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta'dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.
Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktrur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.
Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya menjadi manja dan hilang kemandirian. Saat bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: "Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri kamu biarkan dia dan apabila yang mencuri itu rakyat jelata mereka tegakkan hukum atas-nya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya."
Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk -- lebih dari satu dua kali -- berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Ash-Shiddiq, sesuai dengan namanya "si Benar". Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para shahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: "Labbaik". Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai "orang rumah".
Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia."Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku." "Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina," demikian pesannya.
Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau di panglimai shahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur'an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.
Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para shahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka: "Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya." Sang Badui terkagum. Ia mengangkat tangannya, "Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami." Dengan senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.
Ia kerap bercengkerama dengan para shahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki-laki atau budak perempuan, serta kamu miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit di ujung Madinah. Ia terima permohonan ma'af orang.
Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum shahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.
Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: "Seandainya ada seorang shalih mau mengawalku malam ini." Dengan kesadaran dan cinta, beberapa shahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para shahabat bergegas ke arah sumber suara. Ternyata Ia telah ada di sana mendahului mereka, tagak di atas kuda tanpa pelana. "Tenang, hanya angin gurun," hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.
Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : "Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum."
Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat seerhana dan pakaian tak lebih dari 4 dirham, seraya berkata,"Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum'ah." Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.
Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: "Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do'a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti."
Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, "Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan dari sulbi mereka kelak akan menerima da'wah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun."
Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran juwanya. Pertama, Allah, Sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, shahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.
Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya bahwa Ia dan para malaikat bershalawat atasnya (QS 33:56 ), justru Ia nyatakan dengan begitu "vulgar" perintah tersebut, "Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam."

Allahumma shalli 'alaihi wa'ala aalih !
Allahuyarham KH. Rahmat Abdullah

Mengapa Harus Satu Juz Setiap Hari ?

"Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur'an
minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar
jangan sampai mengkhatamkan al-Qur'an melewati satu bulan."
(Hasan al-Banna dalam Majmuatur Rasail –risalah pergerakan- )

Saudaraku, sadarkah kita bahwa al-Qur'an diturunkan oleh Allah kepada manusia agar menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas), fikri (pemikiran) serta minhaji (metodologi da'wah) ? Sehingga jika sehari saja kita jauh dari al-Qur'an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid tersebut? Sadarkah kita bahwa yang akan terjadi adalah proses tazwid dari selain wahyu Allah; baik itu dari televisi koran, majalah, maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan keyakinan yang melemah terhadap fikroh dan minhaj ? Padahal tiga unsur ini sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan berharokah. Sehingga melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqoh, padahal halaqoh merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.
Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan, dua pekan, bahkan berbulan-bulan. Semoga Allah menjaga kita dari sikap menjadikan al-Qur'an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورً
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang ditinggalkan ". (Q.S. Al-Furqan ayat 30)

Sesungguhnya ibadah tilawah satu juz ini sudah tertuntut kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa tarbiyah atau halaqoh, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari, sehingga setahun khatam 12 kali (bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat khatam lebih dari sekali).

Lalu, bagaimana dengan kita, ashhabul (aktifis) harokah wad da'wah ? Sudahkah keislaman kita membentuk kesadaran iltizam (komitmen) dengan ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha'ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu melafalkan ayat-ayat al-Qur'an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta'abbud (penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da'wah ini !

Dari sini kita menjadi faham, bahwa ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.

Sadarilah bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena kesibukan yang tak pernah berakhir ?

Kita harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan mentalitas 'ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini, maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Asy Syahid Hasan Al-Banna Rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini, sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur'an satu juz ini sebagai syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.

Dalam nasihatnya beliau mengatakan, "Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya, sesungguhnya imanmu dengan bai'at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) : "Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur'an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-Qur'an melewati satu bulan."

Sebagaimana kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah ber'azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta'abbudi (penuh nilai ibadah), maka kita harus kembali menelan banyak pil pahit tersebut. Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur'an !

Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur'an mengalami proses peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika mendengar Rasulullah SAW bersabda, "bacalah al-Qur'an dalam satu bulan", maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal ! Maka tugas yang sangat minimal inipun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah) ?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi'i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-Qur'annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Maryam, misalnya.
Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur'an. Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur'an !

Kalau saja tarbiyyah qur'aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran. Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah. Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.

Kiat Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz
1. Berusahalah melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.
2. Aturlah dalam satu halaqah, kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik daripada 'iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi nya dan tidak menghasilkan mujahadah yang berarti.
3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan ! Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur'aniyyah di dalam diri kita.
4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah yang memiliki al-Qur'an ini. Pengaduan kita kepada Allah yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.
5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang llain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah. Jika kita saat ini sering berbicara tentang ri'ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri'ayah maknawiyyah yang paling efektif dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun, ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah, maka tilawah al-Qur'an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah (pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur'an tempat meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta'abbudi ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,

Kendala yang Harus Diwaspadai
1. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur'an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur'an.
2. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur'an. Sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur'an.
3. Tidak memiliki waktu wajib bersama al-Qur'an dan terbiasa membaca al-Qur'an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur'an.
4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah agar dimudahkan tilawah al-Qur'an setiap hari. Materi do'a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.
5. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah al-Qur'an ini. Rasulullah bersabda, "Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya."
6. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur'an. Padahal menghidupkan majlis-majlis al-Qur'an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur'an.

Akibat dari Tidak Serius Menjalankannya
1. Sedikitnya barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya hubungan seorang jundi pada Allah. Sehingga boleh jadi nampak berbagai macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Kemungkinan yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah SWT dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu ? Oleh karena itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal
3. Terjauhkannya sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur'an. Bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah bil qur'an kalau interaksi kita dengan al-Qur'an sangat lemah ?
Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar bertilawah satu juz saja ?
4. Terjauhkannya sebuah dakwah yang memiliki jawwul 'ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur'an. Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur'an- an akan sangat berdampak pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan kalau saja setiap kader beriltizam dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada. Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.
5. Terjauhkannya sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu'atur rosail (diterjemahkan oleh Ustadz Anis Matta dalam bahasa Indonesia dengan judul "Risalah Pergerakan") ! Anda akan dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan al-Qur'an. Tidakkah kita malu ber-intima' (menyandarkan diri) pada dakwatul ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?

Semoga kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.

Al-Ustadz Al-Hafidz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.